Ampas 212

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Seperti yang diduga sebelumnya, reunian 212 hanya dihadiri 20 ribuan orang saja. Jauh dari tahun sebelumya yang sekitar 400 ribuan. Yang bilang 7 juta, kita iyakan saja buat lucu-lucuan. Termasuk sekarang yg mengklaim 7,5 juta orang. Padahal semua orang tertawa dengan klaim gila tersebut.

Kenapa mereka bohong? Karena bohong sejak dahulu adalah sebagian dari iman mereka yang mabok agama. Ini semua bagian dari kampanye mereka menina bobokan sebagian masyarakat yang tidak sadar dibodohi sambil mencoba menciptakan monster yang buat orang takut.

Loyonya reunian 212 tidak lepas dari munculnya kesadaran sebagian besar mereka yang ikut aksi tahun lalu. Mereka merasa diperdaya dan kemudian dipaksa untuk mengikuti kegiatan turunan 212 seperti gerakan sholat subuh yang gagal total. Demikian juga aksi spirit 212 yang tadinya akan digelar di 34 propinsi. Aksi inipun tidak jalan karena mendapat perlawanan keras. Bikin bisnis 212 juga kempes diawal.

Menariknya, reunian 212 tidak diikuti oleh kelompok Arifin Ilham dan Abdullah Gymmastiar. Ini menunjukkan bahwa usaha pemerintah menyekat kelompok penggerak aksi setahun lalu sangat berhasil. Pentolannya Bahtiar Nasir juga membentur tembok akhirnya tidak mampu bersuara keras setelah dibungkam pada pertemuan di Istana sehabis lebaran. Bahkan belakangan dia tunduk ditekuk NU dan Banser. Sementara Rizieq Shihab melarikan diri ke luar negeri hingga FPI sekarang impoten. Tidak bisa tegak apalagi jadi kuda tunggangan.

Jadi yang kumpul di Monas itu adalah ampas. Jika bukan karena massa HTI yang seperti biasa licik menunggangi aksi-aksi yang berbau Islam, reunian itu bakal sepi tiada arti. Kehadiran gabener yang naik panggung gara-gara mereka juga memberi sedikit rasa asin pada kumpulan ampas. Jadi tidak hambar-hambar amat.

Gabener tidak bisa mengelak untuk tidak hadir. Karena berkat 212 , dia naik lewat kampanye pilkada yang sangat brutal dengan isu rasis dan sentimen agama. Dia wajib hadir dan harus balas budi serta mengamini setiap hujatan anti pemerintah dalam reunian ampas itu. Padahal sejatinya dia kini alat negara alias bagian dari pemerintahan Jokowi.

Tidak heran jika ekspresi gabener terlihat sangat tertekan karena harus hadir setelah mencoba bersembunyi bahwa dialah yang memberi izin aksi di Monas. Dia tidak bisa mengelak bahwa perannya cuma wayang yang harus nurut kata dalang.

Pidato dia juga sekedar basa basi yang menekankan 212 itu aksi damai. Dia menyembunyikan fakta bahwa damai itu karena berkat kejelian aparat dan ribuan intel yang berbaur dalam aksi tahun lalu.

Selain itu, jika para perancang makar tidak ditangkap dini hari menjelang 212, aksi Monas bakal pindah ke DPR untuk kemudian pemerintah digoyang sekalian bersama-sama Ahok. Tapi seperti biasa, gabener menyembunyikan fakta-fakta ini.

Disatu sisi, kehadiran gabener diantara para ampas sekaligus juga menunjukkan keberpihakannya pada aksi yang rasis dan intoleran itu. Jadi apapun langkahnya mendekati agama lain hanyalah basa basi dan bagian kamuflase jati dirinya bahwa dia naik karena 212 dan dia berterima kasih untuk itu.

Stigma ini tidak akan pernah hilang karena dijidatnya sudah tertulis 212. Dan ini merupakan cacat politik yang bakal mengganjal langkah dia selanjutnya dan juga partai serta gerombolan pendukungnya.

Masyarakat sudah pintar untuk melihat gejala dini dimasa-masa mendatang hingga setiap aksi anti kebhinekaan dari gabener dan gerombolannya akan mendapatkan perlawanan yang sangat keras. Mereka juga sadar bahwa berdiam diri dan bersikap take for granted bahwa Ahok pasti menang adalah sebuah kesalahan fatal. Kini silent majority itu sudah bersuara, bertindak dan bersikap tegas.

Perlawanan demikian akan membuat ampas 212 tidak akan bisa masuk ketengah pusaran politik seperti tahun lalu. Gerakan ini akan makin kehilangan momentumnya karena praktis tidak ada isu besar yang bisa mereka mainkan menjelang 2019.

Dari sini kita bisa prediksi bahwa impian mereka menggoyang Pemilu 2019 bakal kandas seperti impian dobol khilafahnya HTI. Mereka tidak ada kekuatan lagi kecuali nostalgia bisa menumbangkan seorang Ahok padahal mereka sudah membuat kerusakan.

Karena itu, mereka kini sudah jadi ampas yang makin lama membusuk sementara Merah Putih tetap berkibar diantara reruntuhannya.
Dan itu semua karena usaha kita yang selalu konsisten menjaga kebhinekaan.

Jadi mulai sekarang kita tidak usah komentari aksi 212.

Ngapain komentari ampas?

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Sunday, December 3, 2017 - 16:30
Kategori Rubrik: