Amien Rais dan Legitimasi Moralnya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Meluncurkan buku berjudul ‘Hijrah’ Amien Rais, Ketua Dewan Pembina BPN Prabowo-Sandiaga, Ketua Dewan Penasihat Alumni 212, dan Ketua Dewan Kehormatan PAN menilai; Presiden Jokowi hanya bersandiwara sebagai pemimpin bergaya hidup sederhana.

Saya belum membaca buku tersebut, namun melihat berbagai review, dan salah satu ditulis tanpa nama serta sudah menyebar ke beberapa whatsapp group, setidaknya bisa diraba isinya. Dengan tagline; ‘Hijrah. Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral’, AR sepertinya hendak ngomong soal mental dan moral. Apalagi AR konon menulis dengan lugas dan gamblang, bahwa program Nawacita dan Revolusi Mental terbukti gagal. Nawacita berubah menjadi nawasengsara (h. 10).

 

 
 

Namun ternyata bukan hanya soal mental dan moral tadi. Buku ini konon juga diisi banyak hujatan, daripada analisa. Mengenai pelanggaran janji kampanye Jokowi, dan tidak meminta maaf pada rakyat. Menuding Jokowi tak punya wawasan moral, serta melakukan kebohongan untuk mencapai tujuan politik.

Bahkan pembangunan infrastruktur yang dibanggakan, hanyalah kamuflase memuluskan Jalan Sutra Cina/One Belt One Road lewat program Tol Laut, reklamasi, pelabuhan, bandara, yang pada akhirnya hanya membuat Indonesia makin terjerat utang. Empat tahun terakhir, tulis AR, justru berkembang luas budaya tipu-tipu, mengarah menjadi lying culture, budaya menipu, budaya pengibulan (hlm. 42).

AR juga menuding pers tidak lagi menjadi anjing penjaga, tapi anjing pelayan penguasa. Kini masyarakat dibuat bingung membedakan yang benar dan salah. AR menyebut kekacauan hanya terjadi ketika bangsa ini kehilangan kompas moral. Makanya, revolusi mental ala Jokowi yang tidak jelas maknanya, kata AR harus segera diganti dengan revolusi moral (hlm. 30).

Buku tipis kurang dari 70 halaman ini, bukan sebuah buku politik seorang doktor politik lulusan Amerika. Lebih merupakan tulisan sakit hati. Bisa jadi tepatnya kumpulan pernyataan politik, yang sebenarnya selama ini telah diluncaskan di media.

Paparannya tak memberikan nilai kebaruan, tapi sekadar statemen politik personal. Dia tak sedahsyat Sukarno yang bisa menulis sebagus ‘Indonesia Menggugat’, meski dilakukannya di penjara. Hoax sekarang juga bisa dalam bentuk buku.

Berbicara soal mental dan moral, adakah AR punya legitimasi moral? Sangat meragukan. Mental dan moralnya buruk sejak ia nyapres tersingkir pada Pilpres 2004 itu. Ia sekedar iri, kenapa Jokowi yang baru kemarin sore bisa jadi Presiden. Karena siapa yang disebutnya sebagai pembohong, tukang ngibul, tidak amanah, apalagi tak ramah dengan agama, lebih tampak di seputaran AR. Hijrah AR ini routenya kebalik, makin blangsak saja.

 
(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)
Saturday, January 12, 2019 - 23:00
Kategori Rubrik: