Amien Rais dan Ketinggian Hatinya

Oleh: Saiful Huda Ems (SHE).

Sesuai dengan hasil perhitungan suara cepat exit poll dan quick count dari 10 lebih lembaga survei ternama di Indonesia, suara untuk Jokowi di JATIM dalam PILPRES 2019 ini meningkat sekitar 15 % dibanding PILPRES 2014 lalu, jika Amin Rais mengatakan di JATIM Prabowo yang menang, berarti Amin Rais ini sudah tambah stres dan maunya terus menerus memprovokasi orang. Ini semua terbukti manakala kubu Prabowo ditantang oleh berbagai lembaga survei yang telah memenangkan Jokowi-MA untuk perang data dan mereka tidak berani. Nah, data abal-abal itulah yang dijadikan pedoman oleh kubu Prabowo seperti Amin Rais.

JATIM (Jokowi-MA: 69,83 %, Prabowo-Uno: 30,17 %) dan JATENG (Jokowi-MA: 78,51 %, Prabowo-Uno: 21,49%) merupakan dua provinsi besar yang menjadi pemasok utama suara kemenangan untuk Jokowi-MA. Demikian pula dengan Provinsi BALI (Jokowi-MA: 92,53%, Prabowo-Uno: 7,47%) dan DKI Jakarta (Jokowi-MA: 52,01%, Prabowo-Uno: 47,99%), Jokowi telah berhasil memenangkan suaranya, meski masih agak jauh dari target yang semula ditentukan oleh TKN sebesar 60 hingga 70% untuk DKI dan meski Ibu Kota itu telah dijaga ketat oleh pendukung utama Prabowo-Uno, yakni Gubernur Anies Baswedan.

 

Rupanya dendam membara Amin Rais terhadap Jokowi yang dianggapnya anak kemarin sore, tidak terlahir dari keluarga ningrat yang kaya raya dll.nya telah membutakan mata kesadaran Amin Rais hingga Amin Rais selalu berdiri di atas ketinggian hatinya dan selalu tidak mau menerima kekalahan kubunya, bahkan terus menerus nyinyir dan melontarkan kata-kata yang membahayakan stabilitas keamanan negara.

Amin Rais adalah contoh terburuk dari prilaku para elit politik kita yang tak pernah dewasa. Amin Rais adalah contoh terburuk dari kejahatan berpolitik yang selalu menjadikan agama sebagai topeng untuk menutupi kebusukan rencana-rencana kriminalitasnya. Beruntung sekali bangsa ini rupanya sudah sangat kenyang pengalaman dalam berpolitik, hingga meskipun Amin Rais terus berkoar-koar, hanya segelintir orang yang bersedia mendengar dan mengikuti seruannya. 

Dahulu Amin Rais termasuk sebagai salah satu tokoh bangsa, kini Amin Rais telah turun jauh derajatnya menjadi pemimpin gerombolan yang sakit hati dan jiwanya. Sejarah telah menelanjangi kebusukan Amin Rais secara perlahan-lahan, mungkin karena seperti ilmu yang tertulis dalam sebuah kitab, harus diajarkan melalui rangkaian halaman dan bab demi bab yang nantinya harus ditamatkan...(SHE).

Jakarta, 20 April 2019.

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis.
Tulisan bersumber dari facebook SHE

Thursday, April 25, 2019 - 23:15
Kategori Rubrik: