Amerika Kekurangan Uang Koin

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Beberapa minggu belakangan ini, banyak pengumuman dipasang di meja-meja register establishment yang menganjurkan customer untuk membayar dengan uang pas atau menggunakan kartu. Sedang di bank juga ada pemberitahuan kalau mereka tidak lagi menyediakan penukaran koin untuk sementara waktu. Saya juga harus mengatakan kepada pelanggan kalau saya tidak cukup mempunyai kembalian, apakah mereka mau diganti dengan sesuatu. Misalnya dengan tambahan penganan lain atau dibuat extra dengan melebihi ingredient dari ukuran yang sudah baku.

Saat ini perbankan di Amerika sedang kekurangan uang koin, karena selama masa karantina orang-orang tidak belanja sehingga tidak ada perputaran uang. Walaupun nilainya kecil sebesar satu sen, lima sen atau sepuluh sen, tetapi memegang peranan penting karena bernilai significant serta harus menuruti undang-undang. Customers bisa melontarkan complaint dan menuntut hak free of charge jika kembalian tidak sesuai walaupun nilainya cuma satu sen kurang. Bukan hendak merendahkan tetapi kaum kulit hitam yang biasanya suka begini, sebenarnya yang mereka inginkan hanyalah gratisan karena pihak retail tidak ingin memperpanjang.

Di Amerika, uang koin sangat penting karena masih banyak mesin-mesin yang bisa menerima. Mesin laundry, mesin parkir, mesin penjualan tiket sampai jalan tol juga bisa dibayar dengan uang logam yang terbuat dari perak tembaga. Mesin soda atau snack dan juga beberapa mesin di casino yang menggunakan engkol untuk mencari pasangan yang serupa. Walaupun terasa berat bergerincing, sebagian orang mempunyai kantong beludru atau dompet kecil yang khusus untuk tempat menyimpannya.

Untuk memenuhi kebutuhan akan uang logam sebagai konsumsi dalam negeri, setiap bulan Amerika Serikat mencetak 1 milyar koin yang dibuat oleh perusahan percetakan negara. Dalam beberapa bulan terakhir, karena kekurangan sehingga jumlah koin yang dicetak 60 persen lebih banyak dari pada yang biasa. Pemerintah sudah menghimbau supaya masyarakat bersedia untuk menukarkan koinnya yang biasanya ditumpuk di rumah dalam sebuah wadah. Atau yang menabung di dalam celengan berbentuk babi atau piggy bank, diminta untuk segera bisa dipecah.

Memang sedikit berbeda dengan di tanah air, di mana nilai tukar pecahan kecil sudah tidak berarti lagi. Saking kecilnya nilai tukar yang ada, sehingga pernah dalam suatu masa di mana dengan menggunakan permen sebagai pengganti. Sebagian toko retail di Amerika, mempunyai round-up program yang membulatkan jumlah yang harus dibayar ke satuan yang lebih tinggi. Sisa pecahan yang nanti terkumpul akan disumbangkan ke berbagai badan sosial kemanusiaan sebagai bagian dari kegiatan charity.

Sedikit intermezzo, kemarin sewaktu membahas tentang screen shot jumlah rekening si babeh Haikal Hasan Barras, saya membuat sedikit kesalahan dalam menganalisa. Karena pemakaian titik dan koma dalam menuliskan perhitungan jumlah di negara Amerika dan Indonesia memang sedikit berbeda. Di Amerika dan Canada, koma dipakai untuk memisahkan hitungan ribu atau juta, sedang di Indonesia dan belahan lain di dunia menggunakan titik sebagai pembeda. Tetapi menurut peraturan standard perbankan ISO 4217, dalam transaksi elektronik atau internasional terpaksa mengikuti gaya Amerika karena nilai tukar US Dollar yang cukup berkuasa.

Dulu sewaktu awal-awal pertama sekali berada di Amerika saya selalu terbalik-balik saat menuliskan tanggal dan jumlah nominal angka-angka. Sering lembaran check yang sudah ditulis dan terkirim, terpaksa harus dikembalikan karena tidak sah cara penulisannya. Tanggal 13 Juli yang ditulis 13/7 ternyata tidak dikenal di Amerika karena tidak ada bulan ke 13, seharusnya 7/13 saja. Sedang jumlah $1.010 dollar, ternyata dihitung satu dollar satu sen bukan seribu sepuluh dollar seperti yang saya maksud, karena seharusnya tidak menggunakan titik tetapi tanda koma.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Thursday, July 30, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: