Ambisi Salah Strategi

Oleh: Iyyas Subiakto
 
Tepat jam 00.20 dinihari tgl. 13 Des 2020, Rizieq resmi di tahan. Manusia licik nan membayakan ini akhirnya dikandangkan sesuai urutannya.
Kepulangannya yg konon "ada" yg memulangkan banyak memakan korban, selain fasilitas bandara yg rusak, jalan tol dibajak, dua Kapolda dan jajarannya di copot. Entah apa alasannya membiarkan keributan pasukan kera putih dan kerumunan hajatan yg malah di fasilitasi. Apakah karena Kapolda takut, atau nurut karena mereka secara personal juga pengikut tukang obat yg gede bacot.
 
Membicarakan manusia lalat tukang obat ini gak ada habisnya dan juga gak ada manfaatnya. Yang menarik adalah bohier yg memberi makan dari belakang. Ibarat anjing yg selalu dilempari tulang, dia harus dijaga agar nyalaknya tak terdengar kemana-mana. Lucunya para bohier ini berprilaku lugu tapi gagu. Diisukan ngongkosi pulang saja langsung berang, bawa pengacara sekampung halaman, ya makin kelihatan kalau memang dia sang dalang yg mainkan wayang Arab dgn lakon "ketika onta masuk kandang".
Masa transisi dari orba, jeda reformasi setengah hati, kembali ke era murid orba jilid 2, yg meneruskan pola sama, kemudian era Jokowi yg membasmi para pencuri, cukup makan energi dan gangguan para gali. Ada yg berpenampilan ulama, cendekiawan, jendral, pengusaha, jurnalist, budayawan, dst.
Mereka semua hanya pura-pura baik saja, namun sejatinya mereka musuh kita, musuh negara yg ingin bangkit dari keterpurukan yg cukup panjang, namun mereka bak buaya yg tak rela melepas gigitan bangkai dimulutnya. Begitu kuat taringnya menahan gigitan makanan yg selama ini menyumpal mulut dan perutnya. Tugas kita adalah meremukkan taringnya agar mereka tak bisa lagi asal gigit semauanya, karena makanan harus dibagi bersama tidak boleh dimonopoli oleh mulut dan perut buaya saja.
Drama, akrobatik, dan manuver politik yg menjijikkan ini dilakukan nyaris dari sumber dan koloni yg sama, mereka bisa langsung atau tidak, selalu memperalat rakyat, yg lebih dahsyat agama juga dijadikan siasat bejat. Yang masih melekat pada ingatan kita adalah pilkada Jakarta. Dan model ini mereka pakai ulang pada pilpres 2019, tapi mereka gagal, namun framing yg sama terus mereka lakukan untuk menyongsong pilpres 2024, dgn tetap memakai isu agama, makanya sang wayang tetap di sayang oleh dalang, sayang tadi malam sudah di gelandang.
Ingat deklarasi KAMI, tayangan murahan ILC, camp Petamburan, dagelan gubernur dungu, semua ini ada benang merahnya karena mereka dalam frekuensi yg sama. Hanya saja sementara memakai studio berbeda, nantinya akan menyatu menjadi suara yg " pura-pura Indonesia ". Gampang ngebacanya, segampang kita membaca bacotan mereka yg seragam, seolah peduli kepada bangsa dan negara padahal merekalah buaya darat pemangsa rakyat.
Bayangkan ditengah kebejatan kelakuan tukang obat yg dibawa pulang, ada orang waras yg tiba-tiba amnesia menyebut sang penjahat sebagai pemimpin kharismatik, mengatakan bhw Indonesia sdg kekosongan pemimpin, apa tujuannya kalau bukan mereduksi peran pemerintah.
Mereka ini jahatnya gak ketulungan, baik dari sudut kebangsaan, kenegarawanan, kemanusiaan, rapotnya merah semua. Bayangkan ditengah pandemi yg melelahkan mereka menyerang, mengambil kesempatan dalam kesulitan, apa gak pantas kalau kita sebut setan.
Dari semua kejadian kita masih ditolong Tuhan yg sayang kepada bangsa besar ini, diturunkannya Jokowi utk mengisi kebenaran pasti bukan tanpa alasan dan pengawalan. Naik dan terpilihnya beberapa anak muda dalam pilkada, juga anak dan menantu Jokowi, adalah pertanda bhw yg benar pasti menang. Masa transisi menghilangkan para pecundang waktunya sudah datang, baik dalang, wayang, atau penabuh gendang sudah waktunya kita tunjang sampai terjengkang.
TNI - Polri, masih hadir dgn kekuatan dan orang terpilih masih ada di barisan, walau ada juga yg sudah terbeli dan melacurkan diri kepada bohier atau pemangku kepentingan dgn akal yg kesetanan.
Ini momentum kita bertindak dan menyatukan diri kepada TNI dan Polri, agar kita tak kehilangan negeri yg kita cintai. Wayangnya sudah masuk kotak, dalangnya gak lama lagi bakal merangkak.
BRAVO TNI - POLRI.
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Sunday, December 13, 2020 - 16:45
Kategori Rubrik: