Allah Dekat Dengan Orang Sujud

ilustrasi

Oleh : Abdul Wahab Ahmad

Biasanya pendaku salafi langsung alergi ketika membaca atau mendengar ungkapan bahwa Allah dekat dengan orang sujud. Jiwanya yang selalu membayangkan bahwa Dzat Allah bertempat jauuuuh di atas sana, di atasnya Arasy, meronta-ronta sehingga keluarlah takwil bahwa yang dekat bukan Allah sendiri tapi ilmunya atau rahmatnya.

Meskipun mereka biasanya mengutuk takwil dan berkata bahwa takwil adalah kerjaan musyabbih dan mu'atthilah, tapi dalam kasus kedekatan Allah, semua kutukan itu ditelan sendiri bulat-bulat. Ini adalah salah satu inkonsistensi abadi mereka.

Padahal hadisnya jelas bahwa Rasulullah menyatakan

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
"Paling dekatnya seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika dia sujud"

Mungkin karena sering dikritik inkonsisten seperti di atas, Ibnu Utsaimin akhirnya berkata bahwa kedekatan Allah dengan orang sujud adalah kedekatan hakiki, tidak ditakwil dengan rahmat atau lainnya. Ingat, Allah dekat secara hakiki dengan semua orang sujud yang tersebar berada di mana-mana dan di waktu yang berbeda-beda

Loh.. Loh... Loh..? Apakah Ibnu Utsaimin sesat? Apakah selama ini semua ulama yang mentakwil yang sesat? Apakah artinya Allah di mana-mana? Apakah "hakiki" di sini sebenarnya adalah "hakiki" yang bukan hakiki? Biarlah kawan-kawan pendaku salafi yang bingung menjawabnya 

Berikut ini SS pernyataan Mbah Ibnu Utsaimin dalam salah satu dialognya dengan murid setianya.

Sumber : Status Facebook Abdul Wahab Ahmad

Saturday, June 27, 2020 - 19:45
Kategori Rubrik: