Allah, Alam Semesta dan Kereta Api

ilustrasi

Oleh : Rakhmad Zailani Kiki  
Sekretaris RMI-NU DKI Jakarta/ Sekretaris Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN)
Ketika berita Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA, diangkat menjadi Komisaris Utama dan Komisaris Independen PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) viral, saya meresponnya dengan tertawa kecil, sekaligus membuat saya merenung. Dan dari hasil perenungan saya yang merupakan hasil kajian dengan pendekatan tasawuf falsafi, atas jabatan baru beliau ini, membuat saya kagum terhadap beliau.

Saya tertawa kecil karena sepanjang saya mengikuti berita tentang KH Said Aqil Siroj,  beliau sudah sering ditawari jabatan oleh Pemerintah dengan berbagai jabatan yang lebih hebat dari komisaris sebuah BUMN, tapi beliau tolak. Kok ini, jabatan komisaris sebuah BUMN, malah beliau terima. Terlebih, teristimewa, selain beliau adalah tokoh terkenal yang memimpin ormas Islam terbesar di dunia, beliau juga masuk jajaran Muslim yang berpengaruh kelas dunia, yang urusan ekonominya sudah selesai. Apalagi beliau menyatakan sendiri bahwa gajinya sebagai komisaris di PT KAI akan beliau sedekahkan. Lalu, untuk apa jabatan komisaris utama dan komisaris independen tersebut beliau terima?

Namun, setelah saya renungi dan kaji,  saya mengerti dan saya kagum dan berterima kasih dengan beliau, walau ini subyektif, bukan menurut beliau, tapi menurut saya: KH Said Aqil Siroj menerima jabatan  Komisaris Utama PT KAI  bisa ditemukan hikmahnya, jika dikaitkan dengan buku karya beliau  yang berjudul Allah dan Alam Semesta. Jadi, melihat penerimaan jabatan komisaris oleh KH Said Aqil Siroj tesebut, sekali lagi menurut saya,  jangan dilihat dari dimensi materalistik, tapi di dimensi sufistik.  Loh kok begitu, apa alasannya?

Alasan utamanya, sederhana saja:  beliau adalah pakar dalam bidang tasawuf falsafi,maka saya menggunakan pendekatan tasawuf falsafi atas jabatan beliau sebagai Komisaris Utama PT KAI, perusahaan milik pemerintah yang mengoperasikan kereta api, sebuah kendaraan yang memiliki metofara sufistik yang terkait dengan dua diksi dari judul bukunya: Allah dan Alam Semesta.

Dalam penjelasan sufistik, misalnya dari kosmologi Ibnu Arabi berdasarkan ajarannya  tentang Wahdatul Wujud (kesatuan wujud yang transenden),  bahwa sesungguhnya hanya satu realitas wujud, satu realitas, dan semua yang lain hanyalah refleksi dari nama-nama dan sifat-sifat Allah di atas cermin noneksistensi. Dan alam semesta, makro kosmos, dan juga manusia, mikro kosmos, sejak awal tercipta berada dalam rel ketetapan-Nya. Dalam penjelasan seorang ulama sufi Betawi, KH Abdurrahim Radjiun bahwa makro kosmos dan mikro kosmos ini selalu berada dalam kapsul atau gerbong rahmat Allah SWT dengan Nur Muhammad SAW sebagai lokomotifnya untuk terus berjalan menuju atau kembali kepada Allah SWT.

Metafora kehidupan manusia seperti sebuah perjalanan kereta api dengan pendekatan sufistik juga saya dapatkan dari KH Hasyim Adnan, tokoh dakwah Jakarta, penceramah ulung, mentor banyak para dai dan daiyah,  dan tokoh di LDPBNU pada masanya.  Pada suatu hari, KH Hasyim Adnan mengajak anak pertamanya, Rahmatun Nazilah, ke stasiun kereta api. Dia mengatakan kepada putrinya bahwa orang-orang di stasiun kereta api ini tadinya bersama-sama dalam satu kereta api, tapi kemudian mereka berpisah ketika tiba di stasiun kereta api tujuan, ada yang turun di Karawang, Cirebon, dan lain-lain. Begitulah manusia hidup, tidak bisa selamanya bersama, tentu ada saatnya untuk berpisah, kembali kepada-Nya, kepada Allah SWT.

Kesimpulannya, andai kata  KH Said Aqil Siroj menolak jabatan Komisaris Utama PT KAI dan beritanya tidak viral sampai ke saya juga, tentu saya lalai, lupa akan hikmah  terhadap moda transportasi kereta api dalam pendekatan tasawuf falsafi, padahal saya saya sering naik kereta api. Kalau sudah tahu hikmah begini, naik kereta api lebih  bermakna ibadah dan tentu berpahala buat saya.  Terima Kasih KH Said Aqil Siroj, terima kasih PT KAI! *
Sumber : Status Facebook Rakhmad Zailani Kiki

Sunday, March 7, 2021 - 12:30
Kategori Rubrik: