Alkohol

Oleh: Ferizal Ramli

 

Meskipun belasan tahun di Eropa aku dan keluarga nyaris tidak menyentuh alkohol. Alasanya sederhana: iya, kami muslim. Kami tidak sentuh minuman keras karena kami muslim!

Dalam meeting-meeting penting dengan customer dan client aku pribadi selalu memesan minuman non alkohol. Padahal umumnya semua minum wein yang tersedia yang notabene wein berkelas tersaji.

Saat-saat nyantai di "Biergarten" (semacam tempat ngafe tapi di taman, lihat gambar), aku memesan "Bir NON Alkohol" supaya tetap sama-sama minum bir dengan teman-temanku. Jadi, dalam kondisi apapun aku terlihat "aneh" diantara temen-temenku.

Ini bukan Indonesia bung, ini Jerman! Ini negeri pencinta bir. Orang Jerman minum bir dengan air putih entah mana yang lebih banyak. Jadi, tidak menyentuh alkohol apalagi di acara-acara yang amat kredibel itu bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Begitu juga tidak menyentuh alkohol di acara-acara rileks dengan temen-temen di taman bukan acara yang mudah.

Pernahkah aku menyentuh alkohol selama di Jerman? Tentu pernah. Yang aku ingat paling tidak saat itu acara bersama tetangga di München di musim dingin amat puncak suhu saat itu lebih rendah dari minus 10 derajat. Salju tebal amat tinggi. Lalu tetangga undang kita (satu-satunya orang asing karena semua bule) untuk acara api unggun.

Nah, aku dan bojoku meskipun sudah pakai jaket amat tebal, dilapisi pullover, dengan sarung tangan, tutup telinga, dll, tetap saja kedinginan di dekat api unggun. Nah, secangkir "Glühwein" berdua dengan istri tercinta benar amat nikmat kuseduh. Romatis banget saling seduh secangkir berdua, tentu saja kadang disertai kecupan mesra ke sang istri saat menyeduh "Glühwein".

"Glühwein" itu anggur yang digodok hangat disajikan mirip wedang jahe. Nikmatnya tiada terkira apalagi diseduh di saat dingin menggigil menusuk tulang di acara api unggun di saat suhu dibawah minus 10 derajat selsius.

Kenapa aku tidak sentuh alkohol? Apakah alkohol buruk? 
Yang aku tahu ada dampak buruk alkohol jika dikonsumsi berlebihan tapi ada juga kenikmatan alkohol jika dikonsumsi sewajarnya saja. Jadi ini bukan hitam putih dalam konteks melihat manfaat dan kerugiannya.

Oleh karena itu di negara-negara Barat, peredaran alkohol diatur secara ketat supaya tidak dikonsumsi anak di bawah umur agar dampak buruknya bisa dikontrol!

Jika aku TIDAK konsumsi alkohol itu semata-mata karena aku muslim! Jadi, tidak ada alasan lain selain aku muslim sehingga aku tidak konsumsi alkohol, dan teman-teman bule-ku hormati itu. TITIK!

Nah, yang lutju itu yang sebagian orang muslim di Indonesia. Lihat orang non muslim konsumsi alkohol dan bir kok anda ngamuk-ngamuk nyalahkan macem-macem. Aku beritahu yah di negara-negara yang konsumsi alkohol tinggi itu tidak seburuk caci maki anda. Persepsi anda tentang alkohol itu dipenuhi doktrin alkohol buruk berdasarkan omongan murobi yang anda terima yang tidak sepenuhnya tepat.

Mereka (di negara-negara yang konsumsi alkohol boleh) malah lebih jujur, lebih baik kualitas hidupnya dari anda-anda yang mencaci maki orang yang konsumsi alkohol. Jarang sekali kudengar ada kecelakaan di jalan raya karena sopirnya mabuk disini. Jarang sekali kudengar ada orang membunuh karena mabuk. Meskipun juga sering kudengar terutama di keluarga miskin orang kecanduan alkohol sia-siakan anaknya. Itu lah realitas kehidupan.

Jadi, biarlah alkohol haram buat anda dan aku yang muslim. Jika buat yang NON muslim alkohol itu halal. Anda tidak perlu caci maki orang non muslim yang konsumsi alkohol. Hargai saja itu semua seperti orang-orang bule menghargaiku karena aku TIDAK meminum alkohol diantara mereka.

Kenapa sih menghargai sebuah perbedaan susah banget pada masyarakat muslim kita?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

 

(Sumber: Facebook Ferizal Ramli)

Friday, April 15, 2016 - 08:15
Kategori Rubrik: