Alien VS Predator, whoever Win We Lose

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Pak Jokowi, tentu saja kami semua paham mengapa anda memilih Kyai Ma’ruf Amin, seorang ulama yang (sebagian) sisi keulamaannya sangat kami hormati, sebagai cawapres. Ada banyak keuntungan yang bisa mengantar Koalisi ini menuju kemenangan. Dari sisi politisi, langkah taktis ini sangat handal. Politisi tujuannya menang, bukan?

Masalahnya kami berharap Anda bukan sekedar politisi. Tapi terlebih sebagai negarawan. When other play low, we expect you to play high, not merely play (rather) low just to win the game but at the same time destroy further the battle field. Waktu demokrasi terancam oleh permainan politik identitas, kami berharap Anda tidak ikut memainkan alat berbahaya itu, hanya sekedar untuk menang. Tentu saja Anda bisa menang mudah ronde ini, tapi sambil merusak arena pertandingan. Banyak yang bilang memasang ulama di posisi itu akan meredam polarisasi yang mengancam disintegrasi bangsa. Well, Anda sebenarnya cuma sedang mengompres panasnya, tapi tidak menghilangkan sumber demamnya. Ada “damage” serius di arena (sistem demokrasi) yang susah diperbaiki ke depan: Anda menancapkan politik identitas makin dalam ke arena elektoral. Aktor elektoral mana lagi ke depan yang berani meninggalkan politik identitas?

Tapi Pak Jokowi, saya masih akan memilih Anda, pertama karena alasan “no way Prabowo, never”. NO untuk jenderal berdarah siapapun pendampingnya, mau akademisi mau ulama apalagi hanya pengusaha pemain pasar uang kelas atas yang tiba-tiba dapat gelar santri post-Islamisme jebolan Pesantren Pangudiluhur (*guyon). Terlebih big NO untuk jenderal berdarah yang selalu mengakomodir kelompok Islam politik yang menggunakan segala narasi agama dengan cara makin rendahan makin memalukan demi meraup suara. Suara sahabat-sahabat yang kecintaan pada agama membuat mereka (mislead jadi) memberhalakan identitas agamanya.

Saya juga tetap memilih Anda Pak Jokowi, karena alasan kedua, saya masih bertaruh (walau sedikit) pada “marjinal improvement”, kebaikan-kebaikan (marginal) yang bisa dilakukan, seperti infrastruktur, membangun dari pinggir, reform tata niaga dll. Meletakkan orang yang tepat pada tempatnya.

Mungkin masalahnya memang kami terlalu naif karena mengkonfrontasikan harapan “negarawan” vs realitas “politisi”. Kami tahu Anda punya kualitas negarawan ‘deep down’ dalam diri Anda pak Jokowi. Tapi sayangnya Anda bertarung di arena politik yang sedemikian predatory-nya, sehingga Anda harus melepaskan topi negarawan dan memakai topi politisi biasa. Kami kecewa, sangat kecewa, tapi masih memilih Anda semata karena belum ada negarawan lain yang bisa bertahan dan menang di arena tersebut tanpa turun derajat menjadi politisi biasa.

Tapi tentu saja tidak (pernah) akan ada negarawan bertarung seperti itu di negara ini eh, let alone menang? Seperti Nelson Mandela misalnya. Karena di arena yang sangat ‘predatory’ begini, seorang negarawan hanya bisa menang jika dibantu alat tarung memadai, sesuatu yang saat ini tidak tersedia, karena ada yang belum mengerjakan PR-nya. Siapa? Anda dan saya. Warga negara.

Yaitu melibatkan diri dalam gerakan terorganisir. Yang berorientasi reform sistem. Sehingga bisa jadi sparing partner aktor-aktor so called Negarawan bertarung dan bukan hanya menang ronde (pemilu) tapi juga memperbaiki arena pertandingan (sistem demokrasi).

Ya, ronde (pemilu) kali ini adalah alien vs predator, siapapun yang menang kita semua (sistem demokrasi) akan kalah, karena (salah satunya) Anda dan saya belum mengerjakan PR sebagai warga.

Ya, Anda dan saya. Jangan hanya menuding sana sini, komen sana sini, klik like share dan nanti vote atau tidak vote, Anda dan saya harus mulai mengerjakan PR kita. Karenanya kali ini saya akan memilih dalam diam karena malu. Malu saya sendiri belum mengerjakan PR saya.

*terinspirasi twit alien vs predator Evan A Laksmana & tulisan2 kawan Abdil Mughis

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Saturday, August 11, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: