Alhamdulillah Mudik Lancar, Tapi Takbir Tawuran Lagi

Oleh: Eko Kuntadhi

Beberapa tahun lalu, saya menulis tentang mudik membandingkan dengan prosesi migrasi besar-besaran koloni hewan. Idenya saya ambil dari liputan Nastional Geographic, a Great Migration. 

Ada migrasi rusa Afrika, dari padang rumput Tanzania menuju Kenya. Biasanya terjadi setiap akhir Maret. Ada migrasi kepiting merah di Chrismas Island dari daratan menuju lautan. Ada juga perjalanan jutaan Salmon dari Samudera menuju sungai-sungai air tawar.

 

Sepanjang perjalanan berat itu setiap koloni menghadapi tantangan. Rusa Wlidebeest harus melewati sabana yang dihuni kawanan Singa atau Haina. Mereka juga harus menyeberangi sungai penuh buaya. 

Sedangkan kepiting merah harus melintasi jalan penuh lalu lintas. Sebagian mati tergilas. Sebagian lainnya jadi santapan unggas laut. Sementara tantangan Salmon, berupa beruang dan elang yang menunggu santapan di pinggir sungai. Atau nelayan yang menjaring koloni di tengah laut. Menjadikannya seporsi shasimi.

Perjalanan koloni di alam liar itu mirip dengan prosesi mudik di Indonesia. Serombongan manusia dari kota-kota besar bergerak bersamaan menuju desa-desa. Jumlahnya jutaan. Seperti muhibah bersama. Dalam sebuah orkestrasi. Manusia-manusia itu bergerak memenuhi panggilan jiwanya, kembali ke akar primordial. 

Jalanan macet. Kendaraan berjejal. Angkutan umum tidak manusiawi. Adalah bagian syah dari prosesi mudik setiap tahunnya.

Ketika saya menulis artikel itu, tahun 2010, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan saat mudik mencapai 632 orang. Pada tahun setelahnya turun sedikit menjadi 587 orang. Apakah dari semua keriwehan mudik dan korban jiwa itu, tahun berikutnya kumpulan mahluk berakal itu tidak bergerak lagi untuk mudik? 

Gak juga. Justru peserta mudik malah makin banyak setiap tahunnya.

Disinilah yang membedakan. Salmon, Rusa Afrika dan Kepiting merah memasrahkan saja hidupnya dengan sirkulasi alam. Meski setiap migrasi sebagian mereka akan jadi korban, tetap saja saban tahun tidak ada yang berubah. Begitu-begitu saja. Mereka menjalani lagi ritual itu dengan route yang sama dan cara yang juga sama. Selama ratusan tahun mengikuti dorongan alamiahnya.

Berbeda dengan manusia. Dari tahun ke tahun, mestinya ada usaha untuk membenahi manajemen mudik. Sebab mahluk berakal itu bisa belajar bagaimana membuat hidup lebih baik.

Untung kini pemerintah lebih konsen memikirkan rakyatnya.

Kini perjalanan mudik jauh lebih lancar. Jalan tol trans-Jawa, trans-Sumatera, angkutan kereta dan Laut, dipersiapkan jauh lebih baik. Kelancaran ini menurunkan beban stress pemudik. Secara langsung berakibat pada turunnya tingkat kecelakaan lalu lintas.

Ada juga sih gerundelan mengenai harga tiket pesawat terbang. Setelah bertahun-tahun kita disuguhi harga tiket perang tarif, kini harga itu kembali ke titik bisnis. Tapi, masalahnya kita sudah terbiasa dengan harga perang tarif yang membuat maskapai bangkrut. Kita masih ingat Adam Air, Mandala Air, Simpati Air, Batavia Air dan sejenisnya yang kini sudah almarhum.

Kita syah saja protes harga tiket pesawat. Tapi airline juga syah berusaha menghindari dari kebangkrutan. Mungkin usulan Presiden Jokowi untuk mengundang maskapai asing turun terbang di udara Indonesia bisa membuat harga tiket jauh lebih baik. Karena isu duopoli group Lion dan Garuda yang ditenggarai menjadi penyebab naiknya harga tiket sekarang, bisa ditepis.

Kembali ke perjalanan mudik. Data Korlantas menyebutkan, angka kecelakaan mudik pada tahun ini menurun drastis. Jika tahun lalu pada H-3 terjadi 152 kecelakaan dengan korban meninggal 68 orang. Pada rentang hari yang sama, kecelakaan tahun ini sebanyak 67 kasus dengan korban meninggal 18 orang.

Hitungan kasar, pada arus mudik kali ini angka kecelakaan turun sekitar 60% lebih dibanding mudik tahun lalu. Kita belum tahu berapa besar turunnya jika arus balik nanti. Tapi melihat dari manajemen mudibah akbar ini yang makin tertata, kita berharap angka itu tidak bertambah lagi.

Lebaran tahun ini memang berkah. Harga-harga kebutuhan pokok di pasar tidak bergejolak. Perjalan mudik jauh lebih menyenangkan. Sebab ada orang yang bekerja di belakang itu untuk melakukan perbaikan. Bukan tetiba berubah sendiri.

Kita bersyukur punya pemerintah yang terus belajar. Yang berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik. Prosesi mudik saat ini hanyalah salah satu buah dari pemerintah yang terus belajar.

Sayangnya masih ada Pemda yang bukannnya bergerak maju, tetapi justru kembali ke jaman purba. Dulu Gubernur DKI Sutiyoso pernah melarang Takbir Keliling, karena sering menjadi penyebab tawuran masyarakat. Bukan melarang takbirnya, tetapi menghalau dampak dari prosesi karnaval malam berjubah agama itu.

Kini takbir keliling dianjurkan lagi oleh Anies Baswedan. Gubernur yang sibuk dengan isu populisme ini mengajak kembali masyarakat Jakarta untuk show of force beragama. Akibatnya kemarin di Kemayoran meletus tawuran warga. 

Dulu memang kita punya tradisi takbir keliling dengan obor. Itu dulu ketika Jakarta masih jadi kampung besar. Kini Jakarta kota metropolitan. Orang bertakbir keliling dengan kendaraan. Kebanyakan tanpa helm. 

Bahkan rombongan dari petamburan, sengaja membunyikan klakson yang memekakkan telinga ketika melintas id depan kantor PBNU. Apa sebabnya, karena beda pilihan politik. Ini kan, ngehe.

Bukan warganya yang salah. Tetapi Gubernurnya yang ingin menghidupkan kembali tradisi yang justru tidak sesuai dengan kehidupan kota besar. Di Sulawesi Tenggara lebih parah. Karena takbir keliling terjadi tawuran warga, rumah dibakar. Korban ratusan.

"Harusnya dia bukan Gubernur Jakarta, mas. leboih cocok jadi Kepala Desa di Probolinggo aja," ujar Abu Kumkum.

www.ekokuntadhi.id

Sunday, June 9, 2019 - 04:30
Kategori Rubrik: