Algoritma Baru dan Innamal A'malu Binniyat

Ilustrasi

Oleh : Hilman Fajrian

Kemarin, 13 Januari 2018, Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook telah memperbaharui algoritma mereka pada news feed. Kali ini news feed akan membatasi tampilnya konten non-personal seperti berita, iklan, maupun informasi dari akun-akun non-personal (publisher). Konten personal yang membagikan tautan berita tampaknya juga akan dibatasi. Singkatnya, konten media dan iklan akan dibatasi kemunculannya. Yang diprioritaskan adalah konten-konten personal agar pengguna individu makin terhubung secara lebih intim dan otentik. Pengguna individu menang, pengguna bisnis dan media kalah.

Pembatasan ruang bagi publisher ini akan mengakibatkan makin mahalnya tarif iklan di FB. Banyak yang berteori ini adalah strategi FB menaikkan pendapatan lewat peningkatan harga iklan. Tapi menurut saya tidak, karena dengan algoritma baru FB akan kehilangan banyak pengiklan berbujet kecil dan menurunnya popularitas FB di kalangan publisher sebagai media pemasaran. Ini keputusan yang akan membuat FB kehilangan banyak uang. Keyakinan yang sama juga ada di pasar yang ditunjukkan dengan jatuhnya harga saham FB 4,4%.

Kita bisa berspekulasi melalui berbagai perspektif atas motivasi diambilnya keputusan ini: strategi bisnis untuk meningkatkan keuntungan, atau benar-benar untuk meningkatkan kualitas konten, keintiman pengguna, dan memberantas konten negatif seperti yang diumumkan Zuckerberg?

Saya lebih percaya yang kedua karena memandang FB sebagai perusahaan dengan WHY yang sangat kuat. Melihat bagaimana perusahaan ini dijalankan, serta cara hidup dan falsafah founder/CEO-nya, saya yakin "To bring the world closer together" dijadikan acuan dalam mengambil keputusan algoritma baru ini. Bukannya 'To bring the money closer to FB'.

"Kami tidak membangun layanan (Facebook) untuk menghasilkan uang. Kami menghasilkan uang untuk membangun layanan yang lebih baik lagi." (Mark Zuckerberg)

Sebenarnya FB juga menghadapi krisis yang mirip dengan J&J pada level yang berbeda. FB dituduh menjadi alat propaganda, wadah perekrutan dan orientasi para ekstremis, tempat disebarkannya ideologi jahat, serta media dimana permusuhan disebarluaskan. FB dituntut untuk bertanggungjawab mengatasi perilaku merusak yang terjadi 'di dalam rumahnya' yang memberikan dampak serius secara global. Seperti yang dilakukan J&J, FB mengambil tanggungjawab itu meski harus menderita kehilangan uang sangat banyak.

UANG BUKAN TUJUAN
Kita mungkin asing dengan konsep seperti ini: rela rugi banyak demi tanggungjawab kepada konsumen atau masyarakat. Kita merasa janggal dengan gagasan mengorbankan harta atau kekayaan demi untuk kebaikan orang lain yang sebenarnya tanggungjawab itu bisa saja kita kesampingkan. Kita merasa asing dan janggal karena berangkat dari niat dan Why yang berbeda. Atau karena kita menganggap bahwa uang adalah satu-satunya Why yang masuk akal.

Mengapa uang tidak menjadi Why pada semua orang atau perusahaan?

Faktanya, uang hanyalah salah satu satu hasil/result dari apa yang kita kerjakan dan bernilai bagi orang lain (kombinasi Why, How, What). Uang sebenarnya tidak pernah menjadi purpose/tujuan, karena kita selalu menukarkan uang untuk tujuan yang lain. Uang adalah hasil jangka pendek sebagai insentif atas keputusan jangka pendek pula.

Kita punya uang 1 gudang, lalu apa? Bahkan dimakan pun tidak bisa. Ia harus ditukarkan kepada sesuatu yang kita butuhkan untuk mencapai sebuah tujuan. Uang adalah instrumen alat tukar yang diperlukan agar perusahaan dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan demi mencapai tujuan yang sesungguhnya. Mencari uang dengan tujuan mendapatkan uang yang lebih banyak lagi terdengar seperti ular yang menelan buntutnya sendiri.

Sumber : Potongan Status Facebook Hilman Fajrian

Monday, January 15, 2018 - 17:00
Kategori Rubrik: