Alasan Tidak Usah Takut Memilih Minoritas Seperti Ahok

Oleh : Narwastuyati  Mbeo

Ada beberapa hal yang kita bisa tandai dari seorang Ahok, yang membuat kita sebenarnya tidak perlu takut memilih seorang minoritas seperti dia untuk menjadi pejabat publik.

Pertama, Ahok adalah orang yang anti korupsi. Dengan sikapnya yg anti korupsi, dia berarti juga mengharamkan bentuk-bentuk pengistimewaan lain yang terkait dengan kemungkinan tindak korupsi, yaitu kolusi dan nepotisme.

Sejauh ini kita bisa melihat bahwa tidak ada indikasi Ahok melakukan KKN yang didalamnya ada kemungkinan Ahok menguntungkan suatu pihak, termasuk dengan pihak yang seiman atau satu ras dengannya. Sejauh ini kita tahu, dalam pemerintahannya Ahok menghemat anggaran Pemda sedemikian besar sementara pembangunan berlangsung pesat di sudut-sudut dan pusat kota Jakarta .

Kedua, Ahok dibesarkan dalam keluarga yang menghargai perbedaan, sebagaimana yg pernah dia ceritakan bagaimana ayahnya berteman dan mendukung kaum muslim penduduk setempat di Belitung meskipun Ahok sekeluarga adalah Tionghoa dan Kristen.

Bahkan Ahok sendiri mempunyai keluarga angkat muslim yang membiayai kuliah S2nya. Menariknya, sampai sekarang, di tengah segala cercaan kepada Ahok akibat tuduhan sebagai penista agama Islam, keluarga angkatnya ini tidak pernah meninggalkan Ahok.

Ketiga, selama Ahok menjabat sebagai gubernur, DKI punya mesjid raya, semakin banyak marbot yg diumrahkan dan banyak lagi hal-hal terkait fasilitas untuk peribadatan muslim yg dibangun dan dipertahankan Ahok.

Di sisi lain, Ahok justru menentang ide seorang pendeta utk mendirikan gereja di lingkungan Balai Kota. Ide ini ditolak Ahok karena menurutnya umat Kristen tidak beribadah di hari kerja, sehingga tidak dibutuhkan adanya gereja di Balai Kota DKI.

Keempat, Ahok tidak mempunyai atau mendirikan parpol atau organisasi apapun yang didirikannya sendiri untuk mengusung visi pribadinya terhadap masyarakat Indonesia termasuk untuk warga DKI di mana kini dia menjadi gubernur. Ini yang terlihat nyata beda Ahok dengan politisi Tionghoa Kristen lainnya saat ini, seperti Hary Tanoe. Jika Ahok mempunyai organisasi atau lembaga sendiri, tentu dengan mudah dia bisa menyetir fungsi dan gerak organisasinya untuk kepentingan politiknya.

Ahok tidak mengambil langkah itu. Ahok hanya mengambil peran struktural dalam pemerintahan untuk mewujudkan cita-citanya membangun negeri ini.

Karena itulah Ahok sering mencari dukungan dari partai-partai yg berbeda selama karir politiknya sejak di Belitung, karena partai hanyalah kendaraannya untuk bisa mendapat posisi yang memungkinkannya melayani masyarakat secara luas. Dan cara itu harus ditempuhnya karena sistem politik Indonesia yang sejauh ini hanya memungkinkan orang berperan aktif dalam politik melalui partai.

Tapi yang juga menandai keberbedaan Ahok dengan politisi lainnya, Ahok tidak mengandalkan atau bahkan menunjukkan kedekatannya dengan pimpinan partai yang ditumpanginya. Setidaknya sampai saat ini hampir tidak pernah terdengar ada sebutan Ahok sebagai "orangnya si itu".

Kelima, adalah hal yang mendasari bagaimana sebagai seorang minoritas Kristen, Ahok bisa melakukan 4 hal di atas. Sebagai seorang Kristen Protestan, Ahok pasti dipengaruhi perkembangan hubungan gereja dan masyarakat termasuk negara yang terjadi dalam sejarah gereja Protestan.

Seperti yang bisa dilihat dari sejarah masyarakat Barat, sejak Reformasi Protestan tahun 1517, visi tentang hidup bermasyarakat yang berkembang, termasuk yang berkembang dalam sejarah gereja Protestan semakin mengarah pada hal-hal yg bersifat universal atau dilepaskan ikatannya terhadap gereja, terutama sejak Eropa telah memasuki masa Pencerahan di mana masyarakat Barat semakin majemuk setelah Pencerahan.

Agama bagi seorang pelayan publik kemudian ditempatkan perannya di ranah privat, di mana nilai-nilai keagamaan hanya mempengaruhi nilai-nilai dan semangatnya secara pribadi tetapi tidak berarti untuk mengkristenkan masyarakat.

Itu sebabnya maka Ahok bisa melakukan apa yang saya sampaikan pada poin-poin sebelumnya: sebagai seorang Kristen (yang berarti pengikut Kristus) Ahok menegakkan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat tanpa melakukan kristenisasi, seperti yang mungkin kita bisa interpretasikan ditemui dalam abad-abad 16-18. Bahkan jika mengamati hubungan gereja dan masyarakat luas dewasa ini, khususnya di Indonesia, mungkin bisa dikatakan, jika ada seseorang ingin menegakkan kebenaran dgn kristenisasi, misalnya, maka hampir dapat dipastikan akan ada penolakan dari umat Kristiani lainnya bahkan penolakan dari gereja.

Berdasarkan poin di atas, kita juga bisa melihat, bahwa sebagai seorang dengan minoritas ganda (Tionghoa dan Kristen) dan konsistensi serta integritas yang dapat kita lihat pada 4 hal sebelumnya, Ahok tidak berpotensi untuk menjadi minoritas yang melakukan kristenisasi atau menggunakan kesempatannya memimpin untuk kepentingan pribadi atau golongannya (Tionghoa dan Kristen).

Ahok cukup tahu diri bahwa dia adalah seorang berminoritas ganda, sehingga walaupun kata-kata dan sikapnya pedas dan keras, semua itu tidak berisi ambisi pribadi atau kepentingan pribadi dan golongannya. Dalam hal ini bukan berarti sikap dan cara berbicara Ahok itu tidak perlu diperbaiki, tetapi yang saya tekankan di sini adalah bahwa itu tidak bermuatan kepentingan pribadi atau gologannya.

Dari bagaimana dia dibesarkan orang tuanya dan pemahaman agamanya Ahok sejauh ini terlihat sadar bahwa sebagai seorang dengan minoritas ganda dia harus bekerja keras dan menunjukkan keunggulannya yaitu mampu menegakkan kejujuran, keadilan dan kesejahteraan, karena jika tidak, dia cuma seorang Tionghoa Kristen dengan stereotipe yang untuk sebagian orang Indonesia bukanlah stereotipe yang berkesan baik.

Ahok sadar dan harus tahu diri bahwa tanpa kerja keras, kejujuran dan kesungguhan, dia bukanlah siapa-siapa di dunia politik dan pembangunan Indonesia, khususnya saat ini di Jakarta. Apalagi dengan ada pagar Pancasila, seorang minoritas di Indonesia tentunya akan lebih berpegang pada dasar negara tersebut daripada mengedepankan ambisi atau kepentingan yang mengandalkan sentimen agama.

Seorang minoritas seperti Ahok justru lebih menghargai multikulturalisme dan multikulturalitas dalam negaranya, termasuk menghargai mayoritas. Itu justru yang dapat menjadi kekuatannya untuk menjadi seorang pejabat publik yang adil.**

Sumber : qureta

Friday, February 24, 2017 - 11:45
Kategori Rubrik: