Alasan Saya Suka Ahok

Oleh: Vika Klaretha Dyahsasanti

Saya, entah kenapa, terus menerus berpikir tentang Ahok belakangan ini. Berharap Ahok menjadi gubernur lagi pastinya. Sekaligus emosi melihat banyaknya serangan pada Ahok. Betapa banyak posting yang diikuti debat untuk menjatuhkan Ahok.

Terkadang terpancing juga untuk ikut debat itu. Tetapi saya teringat kata-kata seseorang: debat bertujuan untuk menang. Sehingga segala argumen dan dalih akan digunakan untuk memenangkan opini. Terkadang dalih yang sangat dipaksakan bahkan rekayasa. Beda dengan musyawarah dan dialog, karena bertujuan untuk mencari titik temu...
Saya mendadak malas berdebat, meski saya paham, ini beresiko memperburuk opini tentang Ahok.

Bicaralah atas nama keyakinan, karena akan menjadi tak terbantahkan. Semua takut dan akan selalu terlihat benar. Tidak, kata saya, saya menyukai Ahok antara lain karena Beliau tidak suka pemaksaan akan keyakinan.

Aha... 
Tiba-tiba saya tercerahkan oleh kata 'suka'. Ya, mari kita bicara rasa suka, bicara perasaan, bicara persepsi saya tentang Ahok. Wilayah ini, seperti juga keyakinan, subyektif dan tak layak disanggah. Sah-sah saja saya suka Ahok tanpa alasan apapun. Suka saja! 

Setelah rasa suka datang, barulah saya mulai mendata hal-hal yang membuat saya suka Ahok. Pertama, tentu karena integritas, kompetensi dan prestasinya. Tidak perlu diceritakan panjang lebar, ada banyak ulasan tentang itu dan lebih valid. Kita hanya perlu membuka hati saja, dan tahu-tahu segala ulasan tentang kehebatan Ahok akan membuat hati kita berdegup pada Kokoh yang satu ini.

Kedua, karena minoritas. Saya belum pernah menjadi minoritas di negeri ini, tetapi saya bisa merasakan sedihnya. Mungkin karena sedikit banyak saya pernah merasa menjadi orang yang tidak pernah seratus persen diterima, karena tidak benar-benar sama dengan yang lain. Saya beretnis Jawa meski lahir di Palembang. Di Palembang, saya tidak pernah dianggap 'pribumi' karena etnis saya. Seperti juga di Solo saya selalu saja gagal dianggap 'pribumi' karena aksen bicara yang tidak terlalu Jawa. Itu masalah kecil, tapi bayangkan rasa pedihnya tidak dianggap sebagai warga negeri dimana seseorang dilahirkan dan dibesarkan.

Sebagai mayoritas, tanpa sadar kita sering diajarkan untuk membenci dan tidak merasa bersalah atas kebencian itu. Tanpa pernah malu betapa orang-orang yang dianggap minoritas telah terlatih untuk bersabar menghadapi kebencian. Terlatih bertindak penuh kasih.
Sampai di sini, bukalah hati kita, tendang rasa benci dan rasakan degup jantung untuk Koh Ahok.

Ketiga, yang paling subyektif dan tentu saja paling tak dapat disanggah.... saya suka tanpang dan gesture Koh Ahok. Saya penyuka pria bertampang oriental, mulai dari Andy Lau, kakak Jimmy Lin, Delon dan belakangan komedian Ernest Prakasa. Maka, buat mereka para penyuka tampang cakep, sekali lagi, bukalah hatimu, dan rasakan degup jantung saat menatap Ahok. Si Kokoh ini gak jelek-jelek amat dibanding kompetitornya. Ditambah aura yang memancarkan jiwa baik hati, cerdas, jujur dan gak tegaan. Salah satu kompetitor juga cakep, tapi perhatikan baik-baik, ada aura peragu dan tak berpengalaman di situ. 
Sampai di sini, bisa kan Sista merasakan kerennya Ahok. Ayo kumpulkan KTP buat Kokoh kita ini dong, Sista.. 

Itu saja. Berkampanyelah untuk si Kokoh atas dasar perasaan suka. Sehingga kampanye menjadi penuh suka cita tanpa bisa dibantah. Saya tulis ini sebagai kepedulian saya pada masa depan Jakarta, meski saya ber KTP Surakarta. Ditambah catatan, kalo saya suka dia karena mirip Koh Ahok....jangan disanggah, meski silahkan ditertawakan.
 

 
(Sumber: Facebook Vika Klaretha)
Friday, March 18, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: