Alarm dari Alam Lain Untuk Peradaban dalam Tiap Peradaban

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Boleh percaya boleh tidak, namanya juga #SILIT (Sambungan Internasional Langsung Ilmu Telepati) Hehehe..

Jadi, kurun waktu peradaban manusia biasanya disimbolisasi dalam hitungan perabadan atau seratus tahun. Baik berupa angka ataupun istilah. Abad 19, 20, 21 atau istilah seperti Abad Pertengahan, Millenial dan sebagainya.

Uniknya, siklus ini juga dialami oleh Jagad Raya. Yaitu dimana dalam kurun waktu tiap satu abad, Tata Surya membentuk formasi tertentu yang mempengaruhi Sistem Kosmis Semesta termasuk pada Manusia. Dimana saat siklus ini terjadi, kondisi kesehatan manusia menjadi rentan terserang penyakit. Makanya ada siklus wabah 100 tahunan yang menyerang Umat Manusia. Tak terkecuali saat ini yang dikenal dengan Wabah Corona.

Fenomena ini sejatinya sebuah alarm dari alam untuk Peradaban Manusia. Contohnya saat ini ketika eksplorasi terhadap alam menjadi ugal-ugalan, alam memiliki alarm untuk mengingatkan manusia sekaligus untuk membersihkan dirinya. Jika dibiarkan secara alami dan mengikuti hukum alam, siklus ini sebenarnya berlangsung selama tiga bulan saat formasi kosmis itu mulai bergeser.

Celakanya, fenomena dan hukum alam ini juga dipelajari dan dieksploitasi oleh manusia. Momentum Siklus Kosmis dikapitalisasi menjadi sebuah Bisnis Global berupa virus dan vaksinnya. Makanya saya tidak terlalu kaget ketika ada yang mengatakan ini adalah siklus alam. Termasuk pendapat ini ada campur tangan (rekayasa) manusia. Karena menurut saya keduanya benar.

Ditambah lagi ketika Israel mengumumkan butuh waktu 90 hari untuk menemukan vaksinnya. Klop sesuai dengan takaran waktu alami saat seharusnya wabah ini mereda. Apalagi, awal mula pandemik ini muncul dari China. Bingo! Sekali tepuk dua lalat. Propaganda Anti China didapat, Bisnis Vaksin dikeruk, termasuk Israel akan tampil menjadi Pahlawan Kemanusiaan. Kemudian sambil mendongakkan kepala dan membusungkan dada, mereka akan sesumbar: "Mana yang sudah mengatakan kami sebagai Penjahat Kemanusiaan? Hah?!"

Namun sepandai-pandainya Manusia berencana, hanya Tuhan yang memiliki Ketetapan. Skenario itu gagal dan "senjata" itu mulai memangsa tuannya. Amerika kini menjadi negara paling terdampak Coronavirus. Justru China yang tampil sebagai Pahlawan Kemanusiaan. Rencana membangun Oligarkhi dan Kapitalisasi Kesehatan melalui tangan WHO melenceng dari rencana.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Minimal untuk tiga bulan ke depan, patuhi Instruksi Pemerintah dalam hal Physical Distancing. Yang sudah mendapatkan subsidi, manfaatkan sebaik-baiknya. Karena rupanya Pemerintah juga sepaham dengan ukuran waktu tiga bulan tersebut.

Tak dapat dipungkiri bahwa Covid-19 yang kadung bersarang dan menjadikan tubuh manusia sebagai inang akan tetap menimbulkan korban sebagai konsekwesinya. Tapi setidaknya, putuslah rantainya disitu. Dan semoga lebih banyak yang selamat daripada yang jadi korban.

Jika kita terus disiplin mematuhi instruksi pemerintah, tiga bulan ke depan virus ini kembali tertidur dan terbangun 100 tahun kemudian entah bermetamorfosa nantinya menjadi apa. Tergantung kondisi kosmis semesta dan kerentanan manusianya. Kecuali jika manusia terus membukakan pintu sebagai inang atau memelihara virus itu tetap terjaga. Atau juga Hukum Alam yang belum selesai menunaikan "pelajarannya" kepada manusia. Tentu ini akan menjadi cerita yang berbeda.

Wallahu a'lam bi shawab.

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, April 11, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: