Alangkah Sabarnya Polisi Kita

Ilustrasi
Oleh : Supriyanto Martosuwito
 
Saya merasa sebagai satu di antara ribuan warga - mungkin juga jutaan warga negara Indonesia - yang gemas dan tak sabar, menghadapi aparat penegak hukum kita yang lamban menghadapi kelompok intoleran dan ormas radikal.
Membandingkan aksi para polisi jagoan dalam tayangan sejenis "Patroli" - "86" dan "Jaguar" di jalan - dan jadi program khusus di teve dan Youtube - betapa penanganan terhadap ormas intoleran seperti bumi dan langit. Alangkah tegasnya menghadapi para preman, pelaku kriminal dan remaja di jalanan. Sebaliknya, alangkah sabar dan ramah-tamahnya polisi terhadap FPI padahal sudah dihina dina dan direndahkan martabatnya.
Nampaknya ada "kanker" di lembaga polisi kita - dan itu kita sama sama tahu. Entah stadium berapa. Ada dua jendralnya yang sudah dibui. Juga dulu ketangkap KPK, hingga ramai jargon "cicak lawan buaya"
Bukan rahasia lagi, di lapangan - di antara oknum polisi dan ormas diam diam saling kerjasama. Ada wilayah "abu abu" yang mendatangkan duit dan gaji tambahan, tapi tangan polisi ingin bersih. Mereka menggunakan ormas sebagai kepanjangan tangannya. Dari bisnis lahan parkir, pengaman dunia hiburan, lahan lahan sangketa, dan kasus lainnya, melibatkan kerjasama ormas dan aparat.
Di zaman Orde Baru, "bisnis abu abu" itu dulu dikuasai oleh ABRI / TNI. Tapi sejak baju hijau diasramakan dan baju coklat menangani ketertiban sipil, "bisnis abu abu" pun pindah tangan. Friksi yang kerap terjadi di antara oknum TNI dan oknum polisi tak jauh dari itu. Urusan rezeki tambahan.
Ada pameo yang sudah jadi pengetahuan umum : "Tentara gajian sebulan sekali, polisi gajian tiap hari " - yang mengakibatkan kecemburuan dan kebencian juga iri hati di antara aparat lembaga penegak hukum kita itu. Tak terhindarkan.
AKAN TETAPI saya yakin masih banyak polisi yang tegas dan ingin menegakkan hukum. Keamanan umum kita relatif terjaga. Angka kriminalitas sudah tak semenghebohkan dulu. Tapi aksi oknum yang minoritas, problematik dan bermasalah sering mengotori mayoritas yang bersih.
"Nila setitik rusak susu sebelanga, " kata pepatah. Kalau di lembaga kepolisian, saya yakin tidak hanya "setitik". Melainkan "banyak titik". Titik titiknya malah "merata". Sehingga citra yang rusak bukan hanya "sebelanga", melainkan "seIndonesia".
Seorang teman pengusaha berkata, " Sama polisi kita jangan bermusuhan. Tapi juga jangan bersahabat. Pokoknya kita jangan terlalu dekat, " katanya.
Dia bicara berdasarkan pengalamannya sendiri: "Kalau bermusuhan kita dibikin susah, tapi kalau kelewat dekat, beban hidup mereka ditanggungkan ke kita juga, " katanya.
DALAM menghadapi ormas radikal saya mencoba berbaik sangka. Penanganan mereka memang tidak mudah. Mereka jadi berani - ngelunjak dan nekad menentang aparat karena ada backingnya. Dari kalangan elite.
Lihat saja setiap kali disusudutkan, orang orang seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rocky Gerung, para pembela HAM langsung menyalak begitu kencangnya. Juga kaum oposan yang sakit hati pada pemerintah. Didukung korporasi media yang dikuasai oleh konglomerat bermasalah.
Polisi jadi hati hati - tak mau terpancing oleh insiden yang akan membesar menjadi masalah nasional.
Di Tunisia revolusi yang merunruhkan pemerintah - "Arab Spring" - yang merambat ke negara tetangga - dimulai dari pedagang kaki lima yang membakar diri karena dagangannya ditertibkan oleh polisi pamong praja setempat.
Di Suriah revolusi dan kehadiran ISIS dimulai dari ekspose foto bayi yang konon tewas oleh tentara Suriah. Lalu berkobar jadi kerusuhan massal dan berujung membakar negeri.
Campur tangan Amerika dan Russia membantu kubu yang bertikai meluluh lantakkan negeri itu, menimbulkan gelombang pengungsi ke Eropa. Negara pun hancur.
Indonesia punya banyak sekali bibit keributan dan potensi bertikai berlatar belakang SARA. Jangankan di antara umat Islam - Kristen atau Pribumi dan Non Pribumi. Di antara Islam sendiri bisa saling aniaya. Dalam kasus Madura terbaru - yang mengintimidasi keluarga Mahmud MD, pelakunya mengaku sebagai santri. Padahal Mahfud MD menguasai ilmu keIslaman, sering jadi khotib dan ahli tata negara. Menguasai ilmu yang dikuasi para santri.
Tapi tokh dia diintimidasi oleh sesama muslim, sesama santri. Orang Islam diintimidasi oleh orang (yang mengaku) Islam!
 
Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito
Saturday, December 5, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: