by

Alam Ganjar, Pelita Hati Keluarga

Oleh : Prihati Utami

Keluarga adalah tempatmu berpijak sebelum melompat, keluarga pula tempatmu mendarat kembali dan pulang. Ya, Sebegitu penting peran sebuah keluarga untuk seseorang dan berpengaruh besar dalam menjalani kehidupan ini. Selain itu, keluarga adalah wadah bagi seorang anak mendapatkan ilmu dari kedua orang tuanya, lingkungan terpenting dalam membentuk karakter seseorang sejak dirinya dilahirkan.

Kehadiran kedua orang tua begitu penting dalam membentuk kepribadian sang buah hati. Sama halnya seperti gelas kosong, anak bisa menerima apapun yang dituangkan didalamnya. Jika kedua orang tua tak mengawasi apa yang diterima sang anak, bisa saja gelas itu cepat rusak dan pecah. Namun jika mereka mengawasi dan menfilter apa yang harus masuk ke dalam wadah itu pastinya gelas akan terus terjaga dengan baik.

Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah, diperlukan kesabaran, ketelatenan, dan keterbukaan jika menginginkan mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat. Kekompakan dari orang tua dalam mengajarkan hal-hal berbau positif juga diperlukan sang anak dalam menjalani tumbuh kembangnya.

Membahas mengenai didikan orang tua, sepertinya kita perlu memasukkan bagaimana seorang Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh mengajarkan apa itu nilai kehidupan kepada putra semata wayangnya, Muhammad Zinedine Alam Ganjar.

Lahir dan besar di keluarga yang sederhana, Alam Ganjar tumbuh menjadi sosok pemuda yang penuh dengan kesederhanaan. Ia begitu berbeda dengan anak pejabat kebanyakan, yang lebih mementingkan gaya hedonnya untuk sebuah pengakuan dari semua orang. Alam yang sedari kecil diajarkan tentang kesederhanaan tak pernah memanfaatkan posisi sang ayah untuk mencari keuntungan.

Informasi ini datang tatkala keluarga cemara Ganjar Pranowo hadir menjadi bintang tamu di acara Rosi Silalahi beberapa hari lalu. Banyak hal yang di ungkapkan keluarga ini di hadapan sang pembawa acara, mulai dari pengalaman hidupnya yang terdahulu sampai dengan saat ini. Kehidupan sederhana Alam Ganjar ini dibuka sendiri oleh sang ibunda, Siti Atikoh.

Mulai dari tak pernah ia berganti tas sekolah miliknya sejak SD hingga SMA karena mengaku masih bisa digunakan, sampai ia yang selalu membawa bekal masakan ibunda tercinta dari rumah. Ini merupakan secuil kisah kesederhanaan Alam Ganjar, yang memang buah dari pupukan kesederhanaan kedua orang tuanya.

Jika parenting yang dilakukan orang tua lain berupa memberi hadiah kepada si anak jika mendapatkan juara atau melakukan tindakan berprestasi lainnya. Berbeda dengan apa yang diterapkan Ganjar dan Siti Atikoh, mereka mengajarkan kepada Alam apa itu mendahulukan kebutuhan yang penting. Tak mengherankan jika pada akhirnya Alam Ganjar tumbuh menjadi sosok yang tak menuntut untuk diberikan sesuatu.

Kesederhanaan yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil begitu melekat sempurna di diri seorang Alam Ganjar. Budaya positif ini tentunya berdampak baik juga untuk kehidupannya di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Seperti yang terjadi selama 10 tahun terakhir ini, sang ayah yang telah berubah status dari seorang anggota DPR menjadi Gubernur tak merubah diri Alam. Dengan posisi seperti ini pastinya akan banyak mendatangkan keuntungan untuknya, gelimang harta melimpah, fasilitas dan pelayanan nomor wahid, hingga previlege di berbagai ruang kehidupan tak membuat Alam gelap mata dan merubah dirinya menjadi figur yang gila hormat.

Yang ada adalah Alam Ganjar yang sederhana, tak menuntut dihormati olah orang lain karena posisinya sebagai anak orang nomor satu di daerahnya, bahkan tak menggunakan stusnya untuk mendapatkan berbagai kemudahan di kehidupannya. Sampai disini, kita sudah bisa menilai bahwa hasil kolaborasi hebat Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh dalam mendidik Alam menjadi sosok yang rendah hati sangatlah berhasil.

Alam juga seorang pemuda yang suka bersosialisasi, melalui keikutsertaannya di berbagai organisasi, mengikuti kegiatan sosial, atau bahkan melakukan hobinya di bidang e-sport dan olaraga lainnya. Ya, ia masihlah seorang pemuda yang bebas melakukan keinginanya selagi masih berada di jalurnya.

Di samping semua itu, Alam Ganjar juga tumbuh seperti kebanyakan anak. Menginginkan orang tuanya mendampinginya di kala belajar. Keinginan sederhana itu terwujud, dengan keberadaan Siti Atikoh yang setia mengajarinya dan mendampinginnya menimba ilmu. Ditengah kesibukannya melayani rakyat, sang ibu menjelma menjadi seorang guru untuknya dikala malam menyapa.

Tentunya perjuangan Alam dan sang ibu dalam berbagi ilmu tak sia-sia, ia berhasil menjadi siswa yang berprestasi. Lewat kecerdasannya, Alam banyak membanggakan kedua orang tuanya, Jawa Tengah, bahkan Indonesia. Tepatnya ia mempersembahkan berbagai penghargaan internasional, seperti mendali emas dalam kompetisi sains di Korea Selatan, dan juara tiga ajang Junior Achievement (JA) Asia Pacific Company of the Year Competition.

Kecerdasannya ini juga jelas terlihat saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rosi. Apalagi tanggapannya terkait kekuasaan begitu banyak mendatangkan kekaguman dari berbagai kalangan. Dalam sudut pandang Alam, kekuasaan adalah terminology dimana itu berarti kekuasaan adalah tentang bagaimana seorang pemimpin beranggung jawab atas tugas yang telah diberikan rakyatnya.

Atau saat ditanya tanggapannya mengenai pencalonan sang ayah menjadi seorang presiden, “Alam it’s a bad or good news?” jawaban pun tak terduga “it’s news”. Ya, lelaki berusia 21 tahun itu begitu dewasa dalam menanggapi semua pertanyaan yang datang kepadanya. Pun saat menghadapi masalah di kehidupannya.

Disaat sang ayah sibuk melayani sang tuan, Alam menggantikan perannya melindungi sang ibunda. Tak membiarkan cinta pertamanya itu menangis sendirian, dan setia mendampinginya dikala kepala keluarganya tak berada disamping mereka. Mengajari perempuan yang telah melahirkannya tentang bagaimana menanggapi persoalan yang datang dengan menggunakan logika bukan hati, apalagi jika sudah berkaitan dengan politik.

Buah hati Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh itu sudah menjelma menjadi sosok yang begitu dewasa, mewarisi semua sifat kedua orang tuanya. Bahkan di tengah kesibukan kedua orang tuanya, dirinya tak bisa meninggalkan nilai-nilai kehidupan yang di dapat sedari kecil. Malahan semua nilai itu tumbuh dan mekar sempurna di dalam dirinya. Biarpun ayah dan bundanya tak bisa selalu disampingnya, tapi nilai kehidupan yang diajarkan mereka berdua selalu bisa menjadi tonggak pegangannya dalam menjalani harinya.

Yang pasti, Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh telah mengisi gelas yang mereka buat dengan hal-hal positif, sehingga kaca bening itu terus terjaga dengan baik dan tak mudah pecah. Menciptakan batu loncatan sekaligus tempat pulang untuk buah hati mereka dengan begitu baik. Berhasil membentuk Alam Ganjar menjadi anak hebat yang membanggakan mereka berdua serta bangsa ini.

Sumber : Status Facebook Prihati Utami

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed