Al Qur'an Dan Teknologi

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Sebagian dosen meminta saya menulis disertasi terkait dengan tafsir ilmi yang mengaitkan Al-Quran dan sains modern.

Menurutnya, sebenarnya jumlah ayat yang mengandung isyarat tentang sains dalam Al-Quran jauh lebih banyak dari ayat terkait ahkam. Setidaknya sampai 750 ayat, sedangkan tentang ayat ahkam ada pendapat yang menyebutkan hanya 200-an ayat saja.

Namun karya dalam bidang hukum syariah kenapa jauh lebih banyak dari pada karya di bidang sains? Ini merupakan kekosongan yang harus ditutup dan ditambal. Maka tulislah tafsir terkait sains, kira-kira begitu pesannya.

Sebenarnya ide segar ini bagus dan menarik juga. Hanya saja ada beberapa masalah yang harus dijadikan pertimbangan, antara lain :

1. Untuk menulis tafsir ilmu atau tafsir saintifik, seseorang harus punya latar belakang pendidikan yang cukup di bidang sains terlebih dahulu. Jangan sampai tulisannya malah bertentangan dengan sains itu sendiri.

2. Sains itu ilmu yang terus berkembang, sehingga apa yang ditulis hari ini, sepuluh tahun lagi sudah tidak relevan lagi. Jadi harus juga menguasai sains yang bersifat futuristik.

3. Kemunduran umat Islam di bidang sains menurut hemat saya tidak semata didasari kurangnya apresiasi dalam tafsir sains. Buktinya, orang Barat sebagai para penemu di bidang sains, malah tidak mendapatkan ide-idenya dari Al-Quran, melainkan dari pengamatan ilmiyah.

4. Maka kalau pun di dalam Al-Quran tersebar isyarat tentang sains, sifatnya hanya isyarat saja. Jangan dianggap bahwa Al-Quran adalah kitab sains itu sendiri. Isyarat ya isyarat, perlu digali lagi dan panjang ceritanya.

5. Menariknya, tidak mentang-mentang suatu bangsa jadi penemu sains, lantas dia yang menguasainya. Belum tentu juga. Sebab kita tahu bahwa para penemu otomotif itu orang Barat, namun industri otomotifnya malah Jepang.

Teknologi hp pada awalnya ditemukan oleh bangsa Eropa, tapi yang banyak produksinya malah Korea.

Sebab sains dan teknologi itu baru ada gunanya kalau sudah 'kawin' dengan industri dan ekonomi. Jangan bangga dulu kalau banyak pelajar kita pada memenangkan berbagai kompetisi sains, matematika, fisika dan lainnya di luar negeri. Sebab teknologi pada akhirnya harus bergantung pada industri dan strategi dagang, ujung-ujungnya urusan ekonomi juga.

Percuma saja kita jadi penemunya, kalau tidak mampu memproduksinya dan tidak laku dipasaran. Pada akhirnya, yang menentukan bukan penemuan teknologinya, justru para pedagangnya. Bagaimana beragam teknologi itu bisa masuk dunia industri, lalu diproduksi secara masal, laku di pasaran dan menguasai pasarnya. Hasilnya jadi pemasukan dan devisa negara.

So, Al-Quran dan teknologi boleh saja dibuat tafsirnya. Tapi kalau tidak bisa jadi industri dan tidak kuasai pasarnya, tidak terlalu banyak hasilnya. Sekedar buat ilmu saja.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Thursday, April 25, 2019 - 12:45
Kategori Rubrik: