Al Quran Adalah Obat?

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Banyak ustadz motivator sesumbar bahwa semua penyakit bisa disembuhkan dengan Al-Quran. Sebab As-Syifa' yang berarti obat penyembuh adalah salah satu nama Al-Quran.

Oleh karena itu dia mengklaim bahwa obat virus covid-19 sudah tersedia, yaitu Al-Quran. Bacalah Al-Quran biar terlindung dan sembuh dari virus itu.

Bukan maksud mau mengecilkan peran Al-Quran. Namun sesumbar ini sebenarnya agak kurang tepat, karena memposisikan Al-Quran bukan pada tempat yang selayaknya.

Niatnya mau mengagungkan Al-Quran, tapi malah terjebak salah paham. Sayangnya, kesalahan macam ini lantas dijadikan materi kajian. Muridnya pun mengangguk mengamini meski tanpa tahu urusan.

Pertama :

Benar bahwa Al-Quran itu punya nama lain adalah Asy-Syifa' (شفاء).

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra : 82)

Sayangnya banyak yang kurang teliti lantas menerjemahkan syifa' menjadi obat. Padahal makna kata syifa' itu penyembuh atau penawar. Silahkan cek di terjemahan Al-Quran DEPAG-RI. Di ayat itu syifa' diterjemahkan sebagai penawar dan bukan obat.

Dalam bahasa Arab, obat itu adalah dawa' (الدواء) dan berobat disebut dengan at-tadawi (التداوى). Pasangan obat adalah penyakit yang dalam hadits disebut dengan ad-da' (الداء).

لكل داء دواء
Setiap penyakit ada obatnya. (HR. Muslim)

Sedangkan yang disebutkan dalam ayat Al-Quran bukan dawa' dalam arti obat, tetapi syifa'. Jadi kalau dibilang Al-Quran adalah obat covid-19, sejak awal sudah keliru.

Lalu kalau makna syifa' itu bukan obat, apa maknanya?

Penjelasan tentang apa yang dimaksud di ayat ini, ternyata sudah ada juga di dalam ayat yang lain, yaitu :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)

Jadi obat yang dimaksud dalam ayat ini adalah obat atau penawar hati. Bukan obat dalam arti secara teknis sebagaimana yang kita kenal. Dan secara sunnatullah yang namanya obat itu berupa benda fisik, entah berupa sesuatu yang dimakan, diminum, disuntikkan dan seterusnya.

Sedangkan Al-Quran itu secara fisik adalah mushaf berupa kertas. Tidak benar kalau kertas mushaf dibakar lalu diceburkan ke air lantas airnya diminum. Mungkin kalau mau ngusir jin ada juga yang macam itu caranya.

Tapi ketika bicara penyakit secara fisik, maka obatnya pun harus secara fisik juga.

Penyembuh Dalam Arti Doa

Al-Quran secara maknawi, merupakan kalamullah yang bila dibaca mendatangkan pahala. Memang pada sebagian ayatnya ada doa, termasuk doa untuk kesembuhan atas penyakit.

Ada banyak hadits nabawi yang shahih dimana Rasulullah membaca ayat tertentu untuk kesembuhan. Itu fakta tidak perlu diperdebatkan.

Tapi doa itu bukan obat atas suatu penyakit. Doa adalah doa, salah satu cara kita menyembah Allah dan cara kita meminta. Kita berdoa kepada Allah SWT meminta kesembuhan.

Keliru kalau kita bilang bahwa doa adalah obat. Ketika Nabi SAW bersabda bahwa Allah tidak menurunkan penyakit kecuali disertai dengan obatnya, jelas yang dimaksud dengan obat bukan Al-Quran.

Kedua :

Nabi SAW dan para shahabat adalah para ahli Al-Quran, tiap hari mereka baca AL-Quran. Bahkan Al-Quran diturunkan memang kepada mereka.

Namun ketika mereka sakit, mereka pun berobat baik dengan habbah sauda', madu, kurma, air atau apapun yang mereka kenal sebagai obat di masa itu. Bukan cuma tadarusan mengkhatamkan Al-Quran berjuz-juz secara berjamaah.

Bukan begitu yang mereka lakukan. Cek aja di kitab-kitab sirah nabawiyah bagaimana Nabi SAW dan para shahabat berobat. Makanya Ibnul Qayyim dan banyak lagi ulama menulis buku berjudul pengobatan khas nabawi (الطب النبوي).

Baca kitb itu kita tahu bahwa ada begitu banyak obat yang dimakan Beliau SAW dan para shahabat. Kalau obat itu hanya baca Quran, maka tidak perlu dibukukan bagaimana Nabi SAW dan para shahabat berobat. Kan obatnya cuma baca Quran.

Ketiga :

Namun demikian ternyata para shahabat banyak juga yang sakit, bahkan yang wafat karena wabah juga banyak. Padahal tiap hari mereka juga pada baca Quran tanpa berhenti.

Pernah dengar bagaimana kisah Nabi SAW dan para shahabat diracun oleh wanita Yahudi? Nah, beberapa shahabat yang sempat menelan makanan beracun pun wafat. Padahal mereka ahli Quran.

Keempat :

Dunia kedokteran modern saat ini sedangkan berjaya di Barat yang bukan negeri Islam. Tapi jangan lupa bahwa pondasi kedokteran Barat itu justru mengambil hasil karya para dokter muslim di masa lalu.

Abad pertengahan adalah era keemasan Islam. Kiblat kedokteran dunia terletak di pusat peradaban Islam. Di Spanyol, Baghdad, Damaskus, Kufah, dan seterusnya.

Tentunya kemajuan kedokteran Islam itu diraih bukan cuma dengan baca-baca Quran saja. Mereka melakukan penelitian, observasi, percobaan, dan berbagai usaha mengenali penyakit dan mengupayakan pengobatannya. Sebuah perjalanan ilmiyah yang teramat panjang.

Ibnu Sina, Ibnu An-Nafis, Al-Kindi, Ibu Rusyd dan lusinan nama-nama besar lain jadi bapak kedoteran dunia, yang begitu dihormati oleh para dokter di Barat.

Tak terhitung jumlah sumbangan ilmu kedokteran Islam kepada dunia kedokteran modern hari ini. Mereka tentu saja punya hutang banyak.

Lah kok tiba-tiba muncul generasi baru yang tidak tahu urusan, mau menghapus berbagai prestasi gemilang sejarah kedokteran umat Islam di masa lalu.

Mereka menafikan ilmu kedokteran modern dan mengklaim sepihak bahwa cukup Al-Quran saja sebagai obat. Lucu sekali, di mata mereka ilmu kedoteran modern diposisikan sebagai lawan dari Al-Quran.

Padahal justru Al-Quran yang memerintahkan kita untuk melalukan berbagai penelitian, termasuk dalam dunia kedokteran.

Wallahu a'lam

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, April 9, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: