Al Patekah dan Kepekokan Jemaah Kampret

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Memang benar kepinteran ada batasnya tapi kepekoan, kedunguan, kebahlulan, "kekeledaian" atau meminjam bahasa Bib Rizieq "keguoblokan" sungguh tak terbatas dan tak berujung. Kalau Anda nggak percaya, silakan amati "jamaah kampret al-bahluli". Sudah tak terhitung berapa kali mereka menunjukkan kepekoan di hadapan publik Indonesia.

Belakangan yang lagi ramai mereka gunjingkan atau gossipkan adalah soal "Al-Patekah". Kita tahu mereka ramai ngomongin itu karena yang mengucapkan Pak Jokowi. Seandainya yang ngomong itu Pak Prabowo atau Sandiaga Uno, tentu saja lain ceritanya.

 

 

Sangking pekoknya mereka bahkan banyak yang meragukan keislaman Pak Jokowi hanya karena "al-patekah". Padahal, tidak ada satu jentil dalil pun dalam Al-Qur'an maupun Hadis yang menganggap pengucapan "al-fatihah" sebagai syarat fundamental keislaman.

Menjadi Muslim itu gampang: cuma ngomong atau mengucapkan kalimat syahadat doang. Bim salabim, aba kadabrah. Cling, jadilah ia seorang Muslim, lalu ia dijamin masuk syurgah. Wuuennak tenan to mbul.

***

Sudah sejak zaman bahulela, orang Jawa deles memang susah mengucapkan sejumlah huruf Arab.

Di antara huruf Arab yang susah dilafalkan adalah "ha" yang biasanya menjadi "ka". Maka, sejumlah kata menjadi berubah pelafalannya seperti "haul" menjadi "kaul", "alhamdulilah" menjadi "alkamdulilah", "hasan" menjadi kasan", "hamid" menjadi "kamid", "hampret" menjadi "kampret", begitu seterusnya.

Selain huruf "ha", orang Jawa juga susah mengucapkan huruf Arab "ain". Oleh orang Jawa, huruf ini kemudian berubah menjadi "ngain". Contoh: "alamin" menjadi "ngalamin", "abdul" menjadi "ngabdul", "amin" menjadi "ngamin", "rais" menjadi "rangis", "aceng" menjadi "ngaceng", begitu seterusnya.

Dulu di abad ke-19, ada seorang ulama agung terkenal sekali bernama Kiai Ageng Kasan Besari dari Tegalsari, Ponorogo. Yang dimaksud tentu saja Kiai Hasan Besari. Ulama lain yang terkenal dulu adalah Kiai Ageng Ngabdul Mursad Tukun (Kediri), Kiai Ahmad Rifangi (Kalisalak, Batang), Kiai Ngabdul Kamid, dlsb.

Huruf Arab "fa" (f) juga susah dilafalkan oleh orang Jawa. Makanya jangan heran kalau orang Jawa totok akan bilang "al-patekah" bukan "al-fatihah". Contoh lain "fitnah" menjadi "pitnah", "fatonah" menjadi "patonah", "fulan" menjadi "pulan", "fadli" menjadi "padli", "fentil" menjadi "pentil", begitu seterusnya.

***

Apakah fenomena dialek dan keragaman bacaan Bahasa Arab itu hanya dialami oleh orang Jawa saja? Tidak. Semua masyarakat non-Arab di dunia ini mengalami problem yang sama, dan itu sangat wajar seqalee karena Bahasa Arab bukan "bahasa ibu" mereka. Sama wajarnya ketika orang Arab tidak bisa melafalkan sejumlah "huruf asing" yang tidak dikenal dalam struktur Bahasa Arab.

Karena itu Anda jangan heran kalau masyarakat Muslim dari Persi, Kurdi, Turki, India, Pakistan, Banglades, Afganistan, Balkan, atau negara-negara di Afrika, dlsb, memiliki pelafalan yang berbeda-beda terhadap Bahasa Arab.

Orang Arab juga sama. Mereka tidak bisa melafalkan sejumlah huruf asing yang absen dalam struktur Bahasa Arab. Misalnya, orang Arab tidak bisa mengucapkan huruf "P". Oleh karena itu kata-kata asing yang menggunakan huruf "P" diganti dengan "B". Maka jadilah: Japan menjadi "Yaban", Parking menjadi "Barking", Puncak menjadi "buncak", Papi menjadi "Babi", "Jemput" menjadi "Jembut". Jadi kalau "Jemput Papi Rizieq" menjadi....?

Bukan hanya terhadap huruf-huruf asing saja. Masyarakat Arab di Timur Tengah: dari Afrika Utara sampai Arab Teluk dan Arab Levant, juga memiliki dialek yang berlainan tentang Bahasa Arab itu sendiri. Seperti di Jawa dan belahan dunia lainnya, huruf-huruf Arab tertentu diucapkan secara beda oleh berbagai kelompok suku dan masyarakat Arab di Timur Tengah.

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Thursday, October 11, 2018 - 23:30
Kategori Rubrik: