Akurasi Quick Count Versus Hasil Rekapitulasi KPU 2019

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Metode ilmiah Quick Count untuk menilai cepat siapa menang/kalah Pemilu menjadi bahan perdebatan sejak hari pemilihan. Bahkan ada yang menganggap bahwa yang mereka lakukan adalah rekayasa, sihir, penipuan. Ada cukup banyak hoaks yang menyerang lembaga ini, termasuk ada screenshot rekayasa salah satu pemimpin lembaga ini.

Sampai-sampai asosiasi yang menaungi lembaga survey itu harus membuat temu media untuk memberikan penjelasan kepada publik, termasuk dua profesor pakar statistik, di Jakarta 20 April lalu. Namun tidak mengubah mereka yang sudah termakan post-truth terkait Quick Count ini. Bahkan ada tulisan yang mengaku-ngaku sebagai orang yang paham statistik dan mencoba mendelegitimasi QC ini, apalagi ketika muncul hasil RC Situng KPU Bengkulu yang sekilas hasilnya berbeda dengan hasil QC, dan diviralkan seolah itu adalah bukti kekeliruan QC, tanpa mereka memahami kaidah Margin of Error (MoE) yang selalu mengikuti QC.

Nah tentu, penilaian akhir ada pada hasil rekapitulasi manual KPU yang resmi itu sendiri. Dan hari ini sudah ada beberapa provinsi yang selesai melakukan rekapitulasi manual berjenjang di level provinsi. Saya ambil empat provinsi: Jawa Tengah, Jawa Timur, Jambi dan Kalimantan Barat, dan akan saya bandingkan dengan QC dari SMRC.

Tampak bahwa hasil RC KPU dan QC SMRC sangat berkesesuaian. Perbedaan antara RC dan QC SMRC masih di bawah margin of error (MoE), misalnya Jawa Tengah perbedaan 0,14% dari MoE 0,81%; Jawa Timur perbedaan 0,59% dari MoE 1,09%, Jambi 3,16% dari MoE 5,12% dan Kalimantan Barat 2,37% dari MoE 5,79%.

Tentu beberapa hari ke depan, kita akan mendapatkan hasil lebih lengkap dari provinsi lain, sehingga kita bisa mencocokkan lebih lanjut hasil QC dengan RC KPU.

SMRC dalam laporannya menulis bahwa dari 34 provinsi ada 8 provinsi yang tidak signifikan, tidak bisa ditentukan pasangan mana yang menang dari QC, yaitu : Sumut, Bengkulu, DKI Jakarta, Kaltim, Sulteng, Gorontalo, Maluku, Malut. Hal ini karena selisih antara keduanya, masih berada dalam margin MoE. Dan ia menyebut ada setidaknya 2 provin si yang bisa jadi keluar dari MoE.

Apa yang bisa kita tangkap dari tulisan ini?

- Hasil RC KPU dari 4 provinsi menunjukkan bahwa QC masihlah menjadi metode analisis yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dan semakin banyak hasil dari provinsi lain, niscaya akan konsisten.

- Berhati-hatilah berprasangka atau menuduh pihak lain, diakibatkan karena minimnya pengetahuan kita dalam suatu hal.

- Ikutilah pendapat para pakar yang punya profesionalisme di bidangnya, misalnya dosen/profesor statistik, dan jangan terjebak oleh analisis abal-abal buzzer politik di media sosial.

Wallahua'lam bish shawab

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Sunday, May 12, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: