Akun Pendukung Capres Gagal

Ilustrasi

Oleh : Iwan H Suriadikusumah

Saya ingin berbagi pengalaman, kenyataan yang terjadi antara saya dengan salah seorang sahabat FACEBOOk yang saya kagumi sampai saat ini. 
Kecuali dalam hal yang akan saya ceritakan ini.

Karena sering membaca posting-postingnya yang sangat inspirasional, dan komentar-komentarnya yang sangat cerdas dan mind provoking, saya mengajukan Friends Request FB kepada sobat ini. 
Dan diterimanya dengan hangat. 
He he he……, mungkin diam-diam dia juga suka baca tulisan-tulisanku ya. 
Ge’erku.

Nyatalah kami klop banget. 
Dialog-dialog kami nyambung. 
Diskusi kami mengundang banyak FB-ers yang ikutan nimbrung dan setiap topik berkembang menjadi hangat mencerahkan dan mencerdaskan.

Lalu Jokowi jadi Capres.

Perempuan sobat ini menuliskan segala aktifitasnya yang seru-seram-mengharukan selama kampanye mendukung bekas tukang kayu dari Solo ini. Anak gusuran pinggir kali yang sedang bertarung untuk jadi Presiden 262.000.000 rakyat Republik Indonesia.

Saya tambah kagum membaca bagaimana ibu ini dengan semangat sampai-sampai ikut kampanye ke Monas segala. Bersama gengnya sesama ibu-ibu. (Tahun 2014 Monas belum jadi milik Kaum Monaslimin, mazhab baru yang tidurnya di mesjid, sholatnya di jalan-raya atau tempat-tempat umum yang mengganggu masyarakat.)

Rasanya saya kepingin ikut keramaian seperti itu, tapi kondisi badanku yang sedang dalam daftar tunggu operasi jantung karena kebocoran cacat lahir (bukan koroner) tidak memungkinkan buat turut-serta.
Yah, mungkin kalau maksa ngebandel, sambil pakai masker dan menyeret-nyeret botol oksigen segala sih ya mungkin bisa. Tapi kalau sampai pingsan dlsb kan jadi bikin susah orang lain?

Demikianlah, Jokowi berhasil jadi Presiden kita.
Ahok menggantikannya jadi gubernur Jakarta, dan langsung jadi berita utama karena sepak-terjangnya yang gesit, cepat dan tanpa kompromi dalam membereskan Pemda DKI.

Perseteruan dengan DPRD DKI berkembang dan terbuka. Maki-makian di antara kedua pihak diberitakan tanpa saringan lagi. Baik di media cetak maupun siaran radio dan televisi.

Sobat ini semangat sekali mendukung segala tindakan Ahok meneruskan tugas Gubernur Jokowi yang sudah naik kelas menjadi RI-1.

Sampai kemudian Ahok menormalisasi Bukit Duri, yang sudah puluhan tahun jadi langganan banjir.

Mulai saat itulah terjadi perbedaan pikiran dan pendapat antara sobat FB-ku ini dengan saya.

Diskusi dan debat yang sebelumnya selalu menyenangkan dan mencerahkan, bagiku jadi terasa seperti bertengkar dengan perempuan baperan. Aku jadi pasif dan kehilangan minat untuk terus kontak sebagai SAHABAT.
He he he ……., gentleman macho pantang bertengkar dengan perempuan, taukkk??!

Masih FRIENDS.
Masih Following.

Tapi aku lihat sahabat yang (semula) sangat aku kagumi ini berangsur-angsur kok bertransformasi.
Dari semula yang sangat mengagumi Ahok jadi kritis.
Jadi kritis sekali.
Sinis.
Dan…..
Saya jadi tidak lagi suka mampir di akunnya.

…………...........................................
Ahok sebentar lagi keluar dari penjara.
Jokowi sudah empat tahun jadi Presiden RI.
Rekam jejaknya selama memerintah dalam waktu sesingkat itu sangat nyata dan tak terbantahkan.

Saya masih tetap tidak berselera mampir lagi ke akun sahbatku yang kukagumi ini.
Atau tidak berani, ya?

Terus-terang, saya takut sahabat yang saya SELALU kagumi pemikiran-pemikirannya dulu itu sekarang sudah berubah total menjadi pembenci kedua orang yang masih tetap menjadi idola saya ini: JOKOWI dan AHOK.

Kalaulah sekarang sudah total bertransformasi, biarlah dia tetap jadi sahabat yang akan kekal di memoriku.
Yang mendorong aku mengirimkan FRIEND REQUEST FB dulu,

Yang akan tetap kuhormati.

Sumber : Status Facebook Iwan H Suriadikusumah

Wednesday, January 9, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: