Aku Ingin dikenang Anakku Seperti Aku Mengenang Ayahku

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Suatu kali ayahku bangun sekitar jam 4 subuh bersamaan dengan ibuku - dan biasanya dia bergantian mencuci piring-piring kotor bekas semalam dan pakaian.

Ketika kutanya kenapa, dia menjawab : " Kasihan mamamu, dia capek. Biar sebentar dia bisa langsung memasak sarapan untukmu dan adikmu.

Suatu kali ayahku mesti mengantarku berlatih ping pong sepulang dia kerja sore hari - itu berarti dia harus menggenjot sepedanya puluhan kilometer dari tempat kerjanya-pulang ke rumah menjemputku-mengantar ke tempat latihanku-sampai malam usai aku latihan dan pulang ke rumah. Dan itu 3 x seminggu.

Ketika kutanya kenapa, dia menjawab : " Kamu kan seneng ping pong, itu bakatmu. Harus dilatih dan disalurkan. Papa masih kuat mengantarmu naik sepeda."

Suatu kali aku melihat ayahku memberikan uang gajinya semua kepada ibuku. Dan aku baru tahu belakangan bahwa dia selalu menyerahkan seluruh gajinya kepada ibuku. Gajinya Rp 200 ribu-an, nyaris empat dekade yang lalu.

Ketika kutanya kenapa, dia menjawab : " Kasihan mamamu, itu saja masih kurang untuk memenuhi kebutuhan kita sebulan."

Suatu kali ayahku (yang 3 x berturut-turut dipilih jadi ketua RT di kampung kami) memasang pengumuman mobil tidak boleh masuk gang yang sempit, sebab seorang warga cukup kaya nekad mengendarai mobilnya - padahal sudah ada kesepakatan dari semua warga mobil tidak boleh masuk. Akibatnya, tetangga yang kaya itu marah-marah dan memaki ayahku yang RT : " Ohh dasar Cino kere, melarattt, sirikkk...dst" Aku heran, ayahku diam saja dan hanya tersenyum.

Ketika kutanya kenapa, dia menjawab :" Biar saja, toh warga lain membela papa diam-diam. Papa gak boleh balas memaki, karena papa ketua RT. Gak baik. Lagian kalau papa balas, dia nanti makin benci sama Cina."

Suatu kali ayahku yang buruh toko (pelayan toko) penjual onderdil mobil itu, disuruh bossnya mewakili undangan dari distibutor spare part mobil. Usai acara setiap undangan diberi souvenir 2 jam dinding, satu untuk toko dan satunya untuk peserta. Tapi esoknya ayahku menyerahkan keduanya kepada bossnya, meski yang satu adalah jatahnya. Dan akhirnya kedua jam itu diambil oleh bossnya.

Ketika kutanya kenapa, dia menjawab :" Tetap harus dilaporkan semua. Kalau diambil boss semua, ya itu bukan rejeki papa."

Masih banyak kisah hidup lainnya dari ayahku. Sampai saatnya aku mulai bekerja di Surabaya (kami tinggal di Malang), dan suatu saat aku memberikan uang Rp 10 ribu dari gaji pertamaku pada ayahku, sebab ayahku gemar menonton sepak bola di stadion. Harga tiket waktu itu masih sekitar Rp 5000,-
Aku masih ingat ekspresi ayahku, bukan hanya senang, tapi juga bangga - menerima uang dari anak sulungnya.

Tuhan mengatur semuanya. Suatu hari aku mendengar kabar ayahku kecelakaan dan ada di rumah sakit. Ketika aku balik ke Malang dan sampai RS, ayahku telah koma. Dia tidak bertahan lama. Aku menguatkan diriku, agar ibu dan keempat adikku juga tahan.

Sampai akhirnya aku menemukan selembar uang Rp 10.000 pemberianku yang belum sempat dipakainya, dibungkus plastik kecil dalam kantong celananya....mungkin takut basah kena hujan. Saat itu juga pertahananku jebol. Kutumpahkan air mataku ke wajah ayahku yang mulai dingin sambil kucium habis dan mesra untuk terakhir kalinya - hal yang belum pernah kulakukan ketika dia masih hidup.

...........
Itulah kisah ayahku. Seorang lelaki sederhana, hanya lulusan SD. Namun lelaki itu menjalankan semua kewajibannya yang sesungguhnya sederhana dan biasa saja - dengan sangat luarbiasa - setidaknya di mataku.

Dia penuhi kewajibannya sebagai suami, ayah dan buruh - dengan kesetiaan luarbiasa - dan itupun masih dibingkai dengan kejujuran dan tanggung jawab yang menggetarkan hati siapapun. Semuanya terbukti ketika hampir semua warga mengantarnya ke pemakaman dengan penuh hormat dan air mata.

Bagaimana aku tidak menghormati lelaki seperti dia ? Bagaimana aku tidak mengagumi lelaki seperti dia ? Bagaimana aku tidak mencintai lelaki seperti dia ?

Aku menghormati, mengagumi dan mencintai dia sebagai ayah dan lelaki sejati. Tak ada yang melebihinya.

Aku akan mulai menceritakan kisah-kisah ayahku kepada anak-anakku. Tapi lebih dari itu, aku akan berjuang lebih keras agar bisa seperti ayahku di mata anak-anakku - meski aku tahu masih banyak yang harus kuperbaiki untuk bisa seperti dia.

Aku kangen lelaki sejati itu, patriot keluarga...
Tuhan, tolong jaga ayahku di sorga. Kutitipkan cintaku untuknya..

Tuhan, aku ingin dikenang anak-anakku seperti aku mengenang ayahku...

-HT-

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Wednesday, February 5, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: