Aku dan Papua

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Menjelang akhir tahun 1980-an, mendaki pegunungan Jayawijaya Papua (saat itu masih bernama Irian Jaya) dengan tujuan akhir adalah Puncak Jaya (Carstensz Pyramide) adalah sebuah impian dan tantangan. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu (Sudirman) terdapat titik tertinggi di Indonesia.

Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) menyimpan banyak keunikan dan tantangan. Bukan hanya karena puncaknya diselimuti salju tropis abadi tetapi juga termasuk dalam deretan 7 (tujuh) puncak benua.

Melakukan izin pendakian disana pada era orba berkuasa adalah hal yg sangat sulit. Hingga timbul istilah, "Kesulitan mendaki Puncak Jaya adalah memperoleh izin daripada pendakian itu sendiri."

Untuk mendaki kita harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA, Menhutbun/PKA, PTFI. Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, harus mendapat rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan.

Bukan berarti setelah mendapat semua izin, pendaki bisa langsung melakukan ekspedisi. Semuanya tergantung dengan situasi keamanan pada saat itu. Bila sedang tidak ada bahaya yang dapat mengancam keselamatan pendaki seperti perang suku, maka pendaki boleh segera mulai.

Saat melakukan pendakian, biasanya para pendaki ditemani warga setempat sebagai porter. Selain untuk mengangkut barang, mereka juga bisa diandalkan sebagai penunjuk jalan. Dan sebagai pengganti jasa mereka, para pendaki membayar sesuai kesepakatan.

Ada yg unik saat melakukan transaksi dengan warga lokal saat itu. Kadang warga lokal yg diminta sebagai porter, tidak meminta uang tetapi meminta barang atau makanan kemasan yg belum pernah mereka jumpai sebelumnya seperti mie instan, havermout, chocolate dan makanan kaleng serta tak ketinggalan rokok.

Pada tahun itu warga setempat masih melakukan barter dalam melakukan transaksi dagang antar mereka. Itu berimbas juga pada transaksi jasa yg dilakukan dengan para pendaki.

Jika pendaki ingin memberikan uang, beberapa porter menganggap itu bukan pembayaran namun hanya sebagai pemberian barang kenangan. Dan hampir seluruh porter akan memilih uang kertas nominal Rp 100,- ketimbang nominal yg lebih besar. Alasannya sangat sangat sederhana, di uang kertas tersebut terdapat gambar burung mabruk victoria. Salah satu burung khas Papua. Selain itu, warna uang yg merah cerah itu adalah uang pertama yg mereka kenal.

Uang nominal berapa yg telah kita kenal pada tahun 1980 - 1990..??

I love Papua
I love Indonesia.

-TYVa-

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Saturday, January 20, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: