Aku Dan Pancasila

ilustrasi

Oleh : Arif Maftuhin

(Seperti judul lomba essai anak SMA)

Jujur saja, sulit awalnya bagi orang seperti saya untuk mencintai Pancasila.

Saya lahir di jaman Soeharto, orang yang selama menjadi presiden menggunakan Pancasila sebagai alat untuk berkuasa. "Apesnya", saya lahir dan besar di tengah keluarga yang anti-Soeharto. Maka, sangat mudah bagi saya untuk membenci Soeharto, sekaligus 'Pancasila' (dalam tanda kutip: Pancasilanya Soeharto).

Tetapi, sebenci apa pun saya kepada Soeharto dan Pancasilanya, saya adalah "juara Pancasila". Saat masuk MtsN, saya termasuk lulusan terbaik Penataran P4 untuk siswa baru. Nilai PMP saya selalu mendekati 100. Saya juga terpilih sebagai wakil sekolah untuk lomba-lomba Cerdas cermat P4. Seluruh butir Eka Prasetya Pancakarsa saya hapal luar kepala.

Saya juga tahu persis ayat-ayat Qur'an mana saja yang cocok dengan setiap butir P4. Gotong royong itu dalilnya ta'awanu alal-birri wat-taqwa. Persatuan itu dadlilnya wa'tasimu bihablillah. Toleransi antar umat beragama itu lakum dinukum wa liya din. Dan seterusnya. Bahkan saat Penataran P4 untuk mahasiswa baru, saya juga jadi salah satu lulusan terbaik

Saya juara 'Pancasila', meski saya diam-diam membencinya. Karena itu, saya juga hapal plesetan Pancasila yang sila pertamanya Kekuasaan Yang Mahaesa dari kumpul-kumpul dengan anak-anak SMID. Sungguh, sulit bagi saya di jaman itu untuk mencintai 'Pancasila.'

Fast forward. Dengan runtuhnya Orde Baru, saya seperti berkenalan lagi dengan Pancasila. Hingga pada akhirnya, saya benar-benar ingin 'membela' Pancasila. Anda harus tahu lah, 'membela' Pancasila itu mungkin agak aneh untuk seorang akademisi, tetapi waktunya memang menuntut demikian.

Indonesia ini negeri yang kaya dan berwarna. Kita mencintainya karena warna-warninya. Singkat kata (harus disingkat karena alasan filosofinya bisa panjang puluhan halaman), tidak ada ideologi yang lebih baik dari Pancasila untuk menjaganya. Tentu Pancasila bukan idelogi yang sempurna, tetapi tidak berlebih jika Pancasila disebut kalimat sawa' yang dengannnya kita menjadi Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Pancasila. Saya yakin, upacara bukan satu-satunya cara untuk merayakan kelahiranmu.

Sumber : Status Facebook Arif Maftuhin

Saturday, June 1, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: