Aktivis Kemanusiaan dan Kapal Tenggelam

Oleh: De Fatah

 

"Menyelamatkan korban tenggelam di kedalaman 450 meter itu adalah persoalan kemanusiaan" kata aktivis kemanusiaan.

Dia bersikukuh, Pemerintah harus mengangkat korban yang tenggelam di sana. Jika tidak, itu sama saja melecehkan kemanusiaan.

Dia tidak peduli, kesulitan teknologi penyelamatan dan pencarian korban tenggelam di danau sangat berbeda dengan di lautan.

 

 

Jika kejadian kecelakaan di lautan, kapal-kapal berteknologi tinggi dari luar atau dalam negeri bisa dikerahkan.

Tapi jika kejadian di Danau, bagaimana membawa kapal-kapal berteknologi itu ke dalam danau? Lewat udara? Lewat do'a? Di gotong dengan 7 juta manusia?

Tapi, apapun alasannya "si ibu kemanusiaan" nggak mau peduli.

Sudah 1.600 anggota Basarnas diterjunkan dari hari pertama pencarian. Orang-orang itu siang dan malam mempertaruhkan nyawa mereka demi misi kemanusiaan menyelamatkan korban.

Orang-orang yang mempertaruhkan nyawa dan keluarganya demi menyelamatkan manusia adalah real aktivis kemanusiaan sesungguhnya.

Kemana Ratna Sarumpaet disaat kecelakaan itu? Apakah dia bersama Basarnas atau bersama keluarga korban? Tidak

Ratna Sarumpaet datang diujung hari pencarian berakhir, sambil teriak-teriak bahwa dia aktivis kemanusiaan, di depan penyelamat kemanusiaan.

Orang-orang Basarnas ini bekerja atas dasar kemanusiaan, mereka bekerja tidak melihat apa agamanya, apa sukunya, apa partainya, siapa yang dicoblosnya, cebong atau kampret korbannya.

Dimana suara "aktivis kemanusiaan" Ratna Sarumpaet di saat gereja-gereja di Bom? Di saat jemaah Ahmadiyah di usir? Disaat mayat diancam tidak disholatkan? Disaat simbol agama jadi bahan olokan?

Apa perlu saya telpon Anies, saya telpon Anies,...

 

(Sumber: Facebook De Fatah)

Wednesday, July 4, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: