Aksi Brutal G 30-S terhadap Ninoy

Oleh: Rudi S Kamri

Saya mendapat kabar tentang penculikan sahabat saya Ninoy Karundeng pada 1 Oktober 2019 pagi menjelang siang. Saya juga menerima kiriman video tentang Ninoy yang sedang diinterogasi dengan wajah lebam dan terlihat sangat ketakutan dan tertekan. Jujur saat itu saya merasa marah dan muntab karena persekusi ala orde baru dengan aroma ISIS ini mengapa bisa terjadi di Indonesia. Saya hubungi HP Ninoy berulang kali tapi tidak tersambung karena off.

Sore sepulang dari Istana Negara saya mencari informasi tentang Ninoy dan konon saat itu sudah dibebaskan. Karena HP saya trouble dan harus masuk UGD, saya baru bisa menghubungi Ninoy malam hari. Alhamdulilah tersambung, sesaat kemudian terdengar suara cempreng sahabat saya itu. Jujur saat itu saya lega luar biasa. 

 

Dia lalu menceritakan secara singkat kronologi kejadian yang dialami. Lalu saya bertanya : "Apa yang bisa saya bantu ?" Dia mohon kepada saya untuk sementara jangan menulis apapun tentang kejadian yang dia alami, dia mau cooling down dulu. "Saya mau istirahat dulu Bro, saya masih ketakutan", katanya. Saya bisa mengerti dan terpaksa mengendapkan nafsu birahi menulis saya yang sedang 'on fire' menggelegak membara butuh penyaluran.

Kejadian persekusi ini yang kedua dialami Ninoy. Pertama dia dipersekusi oleh oknum preman yang katanya dari PSI. Saat itu dia hanya mengalami tekanan mental saja dan dipaksa minta maaf secara oral, visual dan tulisan kemudian diviralkan. Namun saat persekusi ala PKI yang diterima Ninoy pada 30 September 2019 lalu dia mengalami tekanan mental dan siksaan fisik yang luar biasa biadab. Berdasarkan kronologi kejadian yang dikirimkan Ninoy ke saya siksaan yang dialami Ninoy dilakukan seperti ISIS karena ada ancaman serius untuk dibunuh kemudian akan diviralkan. Konyolnya penyiksaan yang dilakukan oleh gerombolan orang liar itu konon terjadi di lingkungan Masjid Al Falah Pejompongan Jakarta Pusat.

Tapi anehnya sampai sekarang tidak ada sanksi kongrit yang diberikan oleh Dewan Masjid Indonesian (DMI) pimpinan Jusuf Kalla. Salah seorang pengurus DMI hanya sekedar menyayangkan kejadian tersebut tanpa ada narasi akan memberi sanksi kepada Pengurus Masjid yang telah membiarkan kejadian yang jauh dari nilai-nilai Islami tersebut terjadi di dalam lingkungan Masjid. Pengurus masjid Al-Falah justru berusaha membelokkan fakta dengan mengatakan Ninoy malah diamankan oleh pengurus masjid dan dibawa masuk ke lingkungan masjid. Ucapan pengurus masjid itu sangat tidak sesuai dengan kesaksian Ninoy.

Yang patut kita apresiasi adalah gerak sigap aparat kepolisian. Hanya beberapa saat setelah kejadian Polri berhasil menangkap sekitar 12 orang yang diduga sebagai pelaku penyiksaan terhadap Ninoy, termasuk salah satu diantaranya Sekjen Front Pembela Islam (FPI). Apakah penculikan tersebut melibatkan FPI secara kelembagaan ? KITA BELUM TAHU. Tapi Polri harus berani tegas menelisik dan mengungkap sampai ke akar-akarnya siapa aktor intelektual di balik kejahatan kemanusiaan ini.

Apa yang dialami Ninoy bagi saya bukan sekedar penculikan, penyekapan atau penganiayaan biasa. Tapi merupakan ancaman sangat serius bagi kebebasan dalam mengekspresikan pendapat. Sebagai rakyat kita harus mengawal agar kasus penculikan Ninoy Karundeng ini tetap lurus pada koridor hukum positif yang seharusnya. Jangan biarkan masuk angin di tahapan kepolisian, kejaksaan ataupun di pengadilan. Kalau terbukti bahwa kejahatan terhadap demokrasi tersebut merupakan kebijakan organisasi, pemerintah harus berani mengambil langkah keras memberikan sanksi kepada ormas dimaksud, misalnya membubarkan secara permanen. Negara tidak boleh tunduk kepada tekanan kelompok yang anti Pancasila dan anti demokrasi.

Sebagai sesama penulis yang aktif di media sosial, saya merasakan simpati dan empati yang dalam terhadap apa yang menimpa sahabat saya Ninoy. Dan hal ini sedikitpun tidak menyurutkan nyali saya untuk tetap bersuara nyaring membela kebenaran dalam koridor Merah Putih dan NKRI. 

Semangat kami adalah seperti yang disampaikan oleh almarhum Wiji Thukul :
"Jika tiada mesin ketik aku akan menulis dengan tangan, jika tiada tinta hitam aku akan menulis dengan arang, jika tak ada kertas aku akan menulis pada dinding, jika aku dilarang menulis, aku akan menulis dengan tetes darah !!!"

Untuk bro Ninoy istirahatlah sesaat tapi jangan terlalu lama, ayo kita menulis lagi karena negeri ini perlu keberadaan kita, kaum penyuara kebenaran nurani rakyat.

Btw, menyikapi kasus penculikan Ninoy ini, kemana suara Komnas HAM, aktivis HAM, kaum Social Justice Warrior (SJW) yang katanya pejuang demokrasi dan pejuang hak azasi manusia ? Apa karena Ninoy merupakan pendukung Presiden Jokowi membuat kalian jadi sariawan dan bungkam ? Preeeetlah kalian.

Salam SATU Indonesia
08102019

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Wednesday, October 9, 2019 - 07:30
Kategori Rubrik: