Aksi Bela Uighur, Antara Cerdas dan Latah

ilustrasi

Oleh : Ramli Azis

Sepertinya sorotan untuk etnis Tionghoa tak henti-hentinya “dikumandangkan”. Pasca demonstrasi di depan Kedutaan Besar China, Kuningan, Jakarta Selatan pada Jumat, 21 Desember 2018 yang lalu tampaknya masih terus berkelanjutan.

Beberapa tokoh terlihat seperti Neno Warisman, Lieus Sungkarisma, Bachtiar Nasir, Irawati Iskandar, dan Novel Bamukmin bergantian menyampaikan orasinya yang isinya meminta “Pemerintah China untuk menghentikan penganiayaan Muslim Uighur dan meminta Pemerintah Indonesia mengusir Duta Besar negara yang dijuluki negeri tirai bambu itu”.

Hal ini dilakukan sehubungan para pengunjukrasa menilai Pemerintah Indonesia belum dapat secara tegas mengambil tindakan khusus terhadap kasus penindasan warga muslim Uighur. 

Sebagai umat muslim dimanapun kita berada, kita sangat menyadari bahwa apa yang menjadi duka muslim adalah duka untuk kita semua, karena mereka (dalam hal ini muslim Uighur) adalah saudara-saudara kita.

Jangankan untuk berbicara dalam kapasitas keyakinan. Siapapun di belahan bumi manapun, jika ia tertindas oleh semena-menanya ”kekuasaan” adalah duka kita. Pun seyogyanya sebagai manusia yang menjunjung tinggi hak azazi manusia, sudah selayaknya kita ikut berempati dengan melakukan aksi yang bisa membantu mereka meminimalisir beban permasalahan yang berat.

Namun aksi seperti apa yang bisa kita lakukan?. Apakah memang harus aksi turun ke jalan, menyorak-nyorakin sambil menuding pemerintahan Indonesia tidak tegas terhadap permasalahan Uighur? atau memboikot semua yang “bernuansa” China apapun itu baik makanan maupun produk yang sering digunakan masyarakat Indonesia.

Tindakan ini yang dalam istilah psikologi disebut men-generalisasi-kan suatu stimulus, menganggap satu stimulus berkaitan dengan stimulus lainnya dan menghasilkan respon yang sama. Padahal kasus Uighur dengan tudingan terhadap pemerintah yang tidak tegas serta memboikot semua produk China adalah hal yang sangat berbeda.

Aksi turun ke-jalan dengan bentuk “Tabligh Akbar” perlu bersama-sama menjadi perhatian kita. Bukan pada permasalahan “Tabligh”-nya tetapi muatan apa yang terkandung dalam kegiatan tersebut. Terlebih lagi kegiatan ini bertepatan dengan rangkaian persiapan menuju Pilpres dan Pileg 2019.

Jangan sampai kegiatan ini menjadi ajang politik untuk saling menjatuhkan lawan-nya dan jangan pula kegiatan yang seharusnya sebagai wujud empati anak bangsa justru menjadi media untuk saling hasut-menghasut untuk memusuhi suku bangsa, agama dan ras lainnya.

Bukankah sebaiknya sebagai wujud empati sebagai anak bangsa Indonesia, kegiatan penggalangan dana untuk muslim Uighur kita lakukan secara elok di tempat yang semestinya dilakukan (misalkan rumah ibadah, sekolah, dan instansi pemerintah) dengan cara yang dibenarkan oleh Undang-Undang di negara ini.

Termasuk pula dalam penyampaian pendapat, sudah ada tatanan baku yang diatur di negara kita. Tidak dengan turun kejalan sambil menuding pemerintah Indonesia “tidak becus” dalam bersikap. Semoga menginspirasi.

Sumber : Indonesiana.id

Thursday, December 19, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: