Aksi Bakar Bunga untuk Bantu Petugas Kebersihan, Katanya...

Oleh: Afa Muafa

Sejumlah karangan bunga Ahok-Djarot di depan Balaikota Jakarta dibakar massa saat  memperingati Hari Buruh Internasional. Pembakaran karangan bunga  terjadi sekitar pukul 12.30 WIB, Senin (1/5/2017). Dan aksi buruh yang selalu turun ke jalan setiap tahun memperingati hari yang disebut May Day, tercoreng oleh tindakan brutal para buruh yang meluapkan amarah dengan membakar karangan-karangan bunga tanda cinta.

Yang lucu adalah pernyataan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, berkilah bahwa kawan-kawannya yakni para buruh yang membakar bunga itu sedang membantu petugas kebersihan, seperti diberitakan berbagai portal berita. Baik banget ya, Iqbal dan kawan-kawan ini?

 

Said Iqbal menyebut tak ada niatan buruk sedikitpun dari massa buruh untuk melakukan pembakaran. By the way, ada yang percaya?

Katanya lagi, jikapun ada ada yang marah, pastilah hanya dari pendukung Ahok. karena sudah beli bunga dan kemudian dibakar oleh para buruh yang di bawah komandonya itu. Menurut dia, insiden tersebut terjadi lantaran situasi di lapangan yang memanas. Situasi memanas akibat polisi yang memblokade massa untuk bergerak ke arah Istana Presiden. 

Aksi anak buah Iqbal membakar bunga dengan penuh amarah benar-benar jauh berlawanan dengan aksi simpatik mengirim bunga kepada Basuki Tjahaja Poernama (Ahok) yang kalah dalam Pilkada DKI. Yang satu aksi penuh amarah, yang lain aksi penuh cinta kasih. Seperti halnya juga aksi sejumlah warga berkumpul dan menyalakan lilin di depan Balaikota Senin malam. Mereka yang prihatin atas pembakaran karangan bunga Ahok-Djarot saat aksi buruh siang harinya tak meluapkan kemarahan dengan membalas aksi brutal serupa.

 Aksi yang digelar masyarakat sebagai bentuk kekecewaan atas tindakan buruh memang wajar karena karangan bunga yang dibakar merupakan ungkapan perasaan kecintaan warga terhadap gubernurnya yang tak lama lagi akan meletakkan jabatan. Bagusnya, mereka pilih menyalakan lilin dalam aksi damai, sebagai bentuk ketidaksetujuan akan aksi penuh amarah. Toh mereka juga sadar, apapun yang kami lakukan, status Pak Ahok tak lagi berubah, nggak ada Pilkada ulang.

Well, yang namanya karakter memang sulit diubah. Karakter penuh amarah akan terus seperti itu. Dan karakter penuh cinta juga akan terus seperti itu. Diberkatilah jiwa-jiwa yang penuh cinta...

(Sumber: Facebook Afa Muafa)

Monday, May 1, 2017 - 20:15
Kategori Rubrik: