Akilatul Kidbah

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Adab, Ilmu, dan Syara' yang Tak Membekas)

Membaca postingan seorang teman FB, yang curhat grup WA yang diikutinya, tak ada yang hirau akan wafatnya Ibunda Jokowi, tak dapat sembunyikan senyum getir saya.

Tak ada ucapan belasungkawa, apalagi doa seperti lazimnya.

Bahkan ada beberapa lewat FB, Instagram, atau cuitan Twitter, malah melecehkan, tebar hoax dan kebencian, gulirkan fitnah.

Menohok nurani saya sebagai orang Jawa, yang nguri2 pesan, 'Mikul duwur mêndêm jêru'. Memiriskan hati . . .

Ibunda Jokowi, Sujiatmi Notomiharjo, merugi ? Ndak. Justru kita yang alpa ini jadi manusia yang sangat tak beruntung . . .

Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Nabi, asyik 'bercengkerama' dengan Rabb-nya. Usai sholat beliau berdoa. Panjang sekali.

Putra kesayangannya, Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib, duduk diam di sisinya, tekun sabar menunggu, memperhatikan sang Bunda. Dengan mata redup menahan kantuk.

Usai sang Bunda menutup doa panjangnya, Hasan bertanya polos, 'Doa sepanjang dan selama tadi, kok tidak ada pinta untuk Bunda sendiri ?' Mata kantuknya berkejap seolah meminta jawab.

"Anakku, doakanlah dahulu orang yang terdekat dengan kamu. Karena ketika para Malaikat mendengar doamu itu, niscaya mereka akan mendoakanmu"

"Bukankah tak ada yang lebih baik dari doa para Malaikat, mahluk yang selalu ada dekat dengan Allah ?"

Hamzah, Singa Perang Uhud, yang sebelumnya begitu garang menakutkan, sekarang tumbang diam tergolek. Rubuh. Tombak tertancap di dada. Seorang budak, Al Wahsyi, lakukan serangan curang, membokong.

Hindun bin Utbah, perempuan ningrat Quraish, janjikan kebebasan baginya jika dalam perang Uhud nanti mampu membunuh Hamzah, pejuang Uhud sekaligus paman Nabi.

Melihat tubuh Hamzah yang sekarang diam, Hindun berlari mendekatinya. Ingatan kelam pada Hamzah yang membunuh Bapak, paman, dan saudaranya, di perang Badar, memicu dendam.

Hindun potong kedua telinga Hamzah. Lalu juga hidungnya. Tak puas, dia robek perut Hamzah ditarik keluarkannya jantungmya, lalu dia gigit, dia kunyah, sepuas dendamnya. Wajah memerah karena amarah dendam kini kian membara terbalut darah . . .

Nabi berdiri ketika ada iringan pengusung dan pengantar jenasah. Baru duduk kembali setelah iringan jauh.

Seorang sahabat tak dapat menahan heràn dan bertanya, "Ya Rasulullah. Itu jenasah orang Yahudi".

Nabi pun segera menjawab tegas, "Bukankah dia juga manusia ?"

Itulah adab yang dicontohkan Nabi. Untuk bersikap hormat pada semua tubuh yang telah tak bernyawa. Semua punya Tuhan, dan sedang kembali pulang dipanggilNya.

Tak lagi punya bendera, warna kulit, atau apapun juga. Cuma kepunyaanNya . . .

Mikul duwur mêndêm jêru. Memikul tinggi mengubur dalam2. Kita tutup aibnya kita angkat kebaikkannya.

Jika tidak, kita tak lebih dari sekumpulan Asu Ajag, Dubuk, burung Pemakan Bangkai, yang dengan ganas mengoyak buruan yang telah tak berdaya. Merobek perut, mengunyah hati, menggigit jantung, tanpa perasaan. Hanya puaskan rasa lapar dan dendam.

Jika manusia, telah dicontohkan oleh Hindun Jahilliyah, sang Pemakan Jantung. Pengunyah Hati. Akilatul Kidbah. Julukan hitam yang melekat seumur hidup yang tak putus2 selalu disesali nya . . .

Adab dan adat telah kita buang . . .
Ilmu dan syara' pun kita sepak . . .
Berbilang bulan hadir di majelis ilmu dan majelis dzikir, cuma tersisa di tampilan.

Kopiah putih haji, misal . . .
Dahi menghitam, umpama . . .
Atau jilbab panjang hitam wajah tertutup cadar . . .

Tapi perilaku tak ubah seperti asu, anjing, ajag. Berpesta pora menista tubuh diam kepunyaan Tuhan . . .

Sayang memang . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Thursday, March 26, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: