Akibat Salah Fahami Makna Toleransi

Ilustrasi

Oleh : Alim

"Toleransi', meski bermakna baik, kini telah disalahpahami oleh banyak pihak. Yang semula bermakna kebaikan dan keramahan, diplesetkan seakan bermakna pembiaran terhadap 'kemaksiatan'. Orang-orang yang mengkampanyekan toleransi kemudian dicap sebagai anti-nahi munkar, liberal, menganggap semua agama sama, sinkretis bahkan sekuler. Maka tak heran ada saja orang yang menjadi anti dengan istilah 'toleransi'.

Masih untung, ada orang yang memaknai 'toleransi' sebagai pembiaran. "biarkan orang lain beribadah sesuai agamanya, jangan diurusin". Kira-kira begitu. Ini lumayan, tapi belum cukup untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang seabreg gambreng.

Agar lebih solutif, Kuntowijoyo (1996) mendorong agar sikap toleransi atau kerukunan harus diubah menjadi kerjasama atau koperasi. Ini setahap lebih maju dari toleransi. Dalam kerjasama sudah terkandung makna toleransi, saling mengerti dan kepedulian --tidak hanya peduli satu sama lain, tapi juga peduli terhadap persoalan bangsa yang harus diselesaikan bersama.

Untuk itu, umat beragama berada dalam front yang sama untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Front yang terbentuk bukan lagi 'I versus you', tapi "we versus it" di mana "we" adalah umat beragama dan "it" bisa diganti dengan kemiskinan, kebodohan, masalah pembangunan, keadilan, keterbelakangan; agenda global, seperti tantangan modernitas, alienasi, spiritualisme, dan nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya. Dengan demikian, agama-agama merupakan kekayaan bersama bangsa dan kemanusiaan, modal besar untuk kerjasama.

Untuk itu memang tidak mudah. Langkah pertama yang amat berat dilakukan adalah meminimalisir kecurigaan-kecurigaan antar umat beragama. Sudah mafhum bahwa ekspansi agama dalam bentuk apapun pasti menimbulkan riak2 bahkan konflik. Islamisasi dan kristenisasi bisa jadi contoh. Untuk itu sudah lahir aturan main dalam bentuk hukum. Nah, sekarang tinggal usaha-usaha lain dari sisi etik. Analogi dalam aspek keselamatan di sebuah gedung, bila hukum adalah "emergency exit", etik adalah rambu2 keselamatan. Nah, etik ini dalam kultur kita ada dalam konsep 'tepo seliro', asah-asih-asuh dsb.

Tulisan mas Arif Nur Kholis soal misi kemanusiaan MDMC (muslim) di area penduduk terdampak bencana mayoritas non-muslim, yang dikutip oleh Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya soal kristenisasi dan islamisasi dapat menjadi contoh di mana etika menjadi panduan.

Nah, 'tepo seliro' toleransi ini saatnya kita tingkatkan menjadi 'guyup', 'gotong-royong' kerjasama. Ini dicontohkan oleh Muhammadiyah (tokohnya Pak dr. Sudibyo Markus) yang menginisiasi dan memotori Humanitarian Forum Internasional dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI) yang berisi lembaga-lembaga kemanusiaan lintas agama. HFI bekerjasama dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan kemanusiaan khususnya bencana. Di mana ada bencana, HFI ada untuk membantu. Contoh teknis kecil, bila ada isu pelanggaran hukum soal penyebaran agama di area terdampak bencana, HFI sangat berperan dalam klarifikasi dan solusi. Jadi sudah ada buktinya.

Beda agama dan kerjasama? Bisa!

Sumber : Status Facebook Alim dengan judul asli kembangkan toleransi jadi kerjasama

Monday, February 12, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: