Akibat Rem Tangan Anies Soal PSBB

ilustrasi

Oleh : Jonminofri Nazir

Gubernur Anies menarik rem tangan lagi untuk menghentikan pertumbuhan jumlah orang yang terkena Covid-19. Maklum, dalam beberapa hari terakhir, jumlah orang yang terpapar virus penyebab Pandemi ini sampai 3.000 orang per orang.

Apakah aksi supir DKI ini menarik rem tangan mampu menahan laju jumlah korban?

Namun sebelum rem tangan ditarik oleh Gubernur, korban ekonomi sudah tampak. Pasar Modal bereaksi negatif terhadap pengumuman Anies. IHSG turun secara signifikan, para pengamat pasar modal memperkirakan IHSG akan tertekan terus sampai awal pekan depan.

Pelaku usaha juga sudah mengeluh. Mereka cemberut lagi setelah senang beberapa pekan hari karena pengunjung mulai datang ke kedai setelah pelonggaran yang dilakukan Gubernur Anies.

Pengumuman bahwa bioskop akan dibuka lagi –kendati dengan protokol kesehatan yang ketat—memberikan angin segar bahwa ekonomi akan menggeliat kendati pelan-pelan. Sekarang mereka kecewa lagi karena restoran harus ditutup lagi mulai hari Senin 14 September besok.

Ada dua persoalan utama soal kebijakan Gubernur Anies ini.
Pertama soal kewenangan. Siapa sebenarnya yang berwenang menarik rem tangan atau rem kaki pada masa pandemi ini?

Menurut PP21/2020 dan Keppres 11/2020, jelas disebutkan bahwa kewenangan menetapkan pembatasan wilayah atau PSBB ini adalah Menteri Kesehatan. Pemerintah daerah boleh merencanakan dan mengusulkan PSBB, namun palu keputusan dipegang oleh Menteri Kesehatan. Hal ini berlaku lancar sejak April lalu ketika Pandemi mulai ramai. Gubernur Anies juga ketika itu, mengajukan usul dan menunggu persetujuan pemerintah pusat sebelum menetapkannya.

Kini Anies menarik rem tangan sendirian, tanpa persetujuan Menteri Kesehatan. Artinya, dari segi legalitas, peraturan Anies tidak sah. Kebijakan Anies ini berpotensi tidak diabaikan oleh warga. Apalagi banyak warga kota yang cuek dengan Covid-19. Mereka tetap berkerumun di pasar, di acara pernikahan. Apalagi, gubernur juga memberikan izin acara yang mengumpulkan banyak orang seperti terjadi pada tanggal 18 Agustus lalu, acara Deklarasi KAMI.

Kedua soal substansi. Apakah benar PSBB akan mengurangi jumlah orang yang terpapar virus Corona? PSBB sebenarnya adalah langkah keras menerapkan protokol kesehatan. Sebab, interaksi warga sangat dibatasi. Dengan begitu, penyebaran virus bisa dikendalikan. Namun, yang menjadi isu adalah pengawasan PSBB selama ini terasa longgar. Anggota masyarakat cenderung cuek saja melanggar aturan PSBB ini.

Lalu bagaimana?

Bisa jadi pemerintah pusat membatalkan rem tangan Gubernur Anies. Pertama karena tidak sesuai prosedur hukum. Kedua, kebijakan Anies mengesankan bahwa pemerintah tidak punya konsep yang jelas dalam mengatasi pandemi ini. Peraturan cepat sekali berubah. Baru saja warga merasakan ada harapan bahwa ekonomi akan sedikit pulih karena relaksasi yang diberlakukan pemerintah pusat.

Hal ini diperkuat dengan penyaluran sejumlah bantuan tunai kepada anggota masyarakat miskin, atau UMKM, atau cara lain yang membuat ekonomi di kalangan bawah bergerak. Jika ekonomi di bawah bergerak, ekonomi di kalangan masyarakat bawah menjadi menggeliat. Ini memberikan harapan kepada masyarakat.
Selain itu, kebijakan Anies ini mengesankan tidak terjadi kekompakan pemerintah dalam mengatasi pandemi ini. Siapa sebenarnya panglima tertinggi dalam mengatasi wabah ini.

Nah, kita tunggu langkah pemerintah selanjutnya. Pilihannya adalah:

Pertama, kebijakan Anies tetap berjalan. Pemerintah pusat memberikan restu atas kebijakan Anies ini.

Kedua, kebijakan Anies dibatalkan Menteri Kesehatan. Langkah selanjutnya pemerintah pusat mendorong Pemda DKI melakukan pengawasan yang lebih ketat kepada masyarakat. Bukan dengan cara simbolik seperti mengarak peti mati ke pelosok DKI.

Ketiga, kebijakan Anies berjalan, dan pemerintah pusat tidak bereaksi apa-apa.

Langkah apa yang akan diambil pemerintah? Kita tunggu saja. Namun, pemerintah perlu meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah mempunyai konsep yang jelas untuk mengatasi wabah ini. Selain itu, pemerintah harus satu suara dan kompak dalam menangani pandemi ini.

Sumber : Status Facebook Jonminofri Nazir

Sunday, September 13, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: