Akibat Kurang Baca

Oleh: Bagus Sigit Setiawan

Razia buku di Gramedia toko buku. Kali ini polah mereka yang gemar menyita buku rada serius. Jika biasanya mereka menyasar pameran buku, atau penjual buku jalanan, kali ini mereka menyasar toko buku 'raksasa'. Toko buku besar yg jarang ngasih potongan harga.

Jika benar keterangan di gambar yang saya tautkan ini, mereka orang-orang yang ada di gambar itu disebut mendatangi toko buku Gramedia untuk menyisir buku-buku kiri, atau yang dianggap mengusung pemikiran kiri, Marxisme, Leninisme, Komunisme atau Maoisme, dll. Setelah itu mereka membawanya. Dibayar dulu atau tidak, saya kurang tau. 

 

Yang menarik dari gambar tersebut, terdapat dua buku yang mereka pegang bergambar muka Lenin dan Marx, keduanya karya Franz Magnis Suseno. Saya menduga dua buku itu mereka kategorikan buku kiri, yang menurut mereka harus dirazia, dimusnahkan. Jika benar anggapan saya itu, tentu dengan ini saya terpaksa membenarkan kata banyak orang, bahwa bangsa ini sedang mengalami darurat baca, bukan darurat bacaan. 

Ya benar, darurat baca, bukan bacaan. Sebab kenyataan yang ada, jumlah bacaan sangat melimpah. Mulai buku, sampai dengan artikel di media online. Bisa dikata hampir tiap pekan ada buku baru yang diterbitkan. Juga banyak penerbit buku baru yang ramai menerbitkan buku-buku baru dari penulis lama atau penulis yg baru pertama kali menulis. Saya lihat semua laris. Tapi, entahlah setelah dibeli, mereka baca atau tidak. Itu soal klasik. Yang jelas buku-buku baru itu laris.

Misalnya anggapan saya itu bisa dihubungkan dengan gambar tautan ini. Dimana antara laku, usaha, dan tujuan justru berkebalikan. Seperti kenyataan bahwa dalam pengantar karyanya berjudul "Pemikiran Karl Marx", pada halaman: xiv, Romo Magnis menulis:

"Karena pengalaman pahit dengan PKI itu, pemerintah Orde Baru, dengan dukungan luas dari masyarakat, membubarkan PKI beserta segala organisasi pendukungnya dan menutup kembali jalan baginya. Sekarang pun, 35 tahun kemudian, saya berpendapat bahwa keputusan itu tepat dan tidak perlu ditarik kembali. PKI dengan ideologinya tidak mungkin ditampung dalam pluralitas pola penghayatan atas dasar Pancasila."

Masih dalam halaman yang sama, Romo Magnis menulis: "Mempelajari sesuatu tidak sama dengan menganutnya, apalagi dengan menyebarkannya."

Jadi mereka tukang razia itu, alih-alih mendapat hasil maksimal, justru malah merusak bangunan yang sudah ada. Romo Magnis dalam tujuan penulisan buku itu justru satu tujuan dengan para tukang razia buku itu, sama-sama menolak paham-paham kiri. 

Saya kira siapapun dia, apapun rupa penampilannya, wajib mengetahui dengan baik apa saja yang dilawannya, entah itu terorisme, marxisme, leninisme, sosialisme, atau komunisme. Menyita buku Romo Magnis bergambar wajah tokoh kiri, seperti Mao, Marx atau Lenin, tanpa membaca lebih dulu isi di dalamnya, tentu termasuk perbuatan gegabah, jika yang mereka maksudkan menyita itu adalah mempersempit gerakan kiri di Indonesia. Sebab buku Romo Magnis lahir untuk menelaah pemikiran kiri, lalu menkritiknya.

Saya ragu mereka yang menyita itu mampu menulis buku kritik atas pemikiran kiri seperti yang sudah dilakukan Romo Magnis. Tapi bagaimanapun itu, saya masih meyakini, bahwa merazia buku itu ndak baik, jahat malah.

 

(Sumber: Facebook Bagus Sigit Setiawan)

Monday, August 5, 2019 - 04:15
Kategori Rubrik: