Akhlak

Oleh : Ahmad Tsauri

Pagi ngobrol dengan abdi dalem Cak Nun, dengan antusias dia menceritakan kekagumannya. Salah satu yang ia kisahkan, rendah hatinya cak Nun. Misalnya, Cak Nun tidak pernah menyuruhnya. Pernah satu waktu, karena Cak Nun datang bersama Mba Novia, si abdi dalem yang bertugas menjaga salah satu rumah Cak Nun tidak menyiapkan minuman, makanan buat Cak Nun.

Beberapa hari kemudian, ia baru tahu, pada saat itu Cak Nun tidak ditemani istrinya, dan sedari pagi hingga jam 8 malam, diruang kerja tidak tersedia makan apapun. Hanya air putih tersedia diruangannya. Jadi dari pagi hingga malam membiarkan Cak Nun kelaparan.

Katanya, Cak Nun memang mengajarkan kepada anak-anaknya supaya tidak menyuruh dan meminta tolong pada orang lain. Mendidik anak-anaknya supaya tidak punya perasaan memiliki, rumah, mobil dan harta lainnya adalah milik Allah. Dengan seperti itu, bukan saja tidak mudah kecewa saat kehilangan, tetapi juga tetap rendah hati kepada orang lain.

Makanan pun, Cak Nun sangat sederhana, beliau tidak memakan ikan, kecuali sesekali ikan lele, tidak makan ayam broiler, beliau hanya makan remahan ayam kampung yang digoreng kering. Menu makan Cak Nun, sangat sederhana, cukup tempe, sayur ala kampung, dan menu wajibnya sambel.

Biasanya ia tidak mau keluar makan sendirian, karena biasa dirubung pengunjung, minta foto dan urusan lainnya. Ia juga rendah hati, dan mendengar, simpatik pada orang biasa, tukang beca, tukang parkir, diperlakukan sama dengan kelas ekonomi lainnya.

Wajar jika beliau memiliki banyak pengikut. Sisi lain ini, mirip-mirip dengan kesahajaan kehidupan pribadi Maulana Habib Luthfi bin Yahya, juga sama dalam kasih sayangnya terhadap masyarakat kecil, keduanya sama-sama mencintai umat Nabi Muhammad saw, dari berbagai latar belakang tanpa agama. Perbedaannya, jika Cak Nun secara terang menunjukan pandangan politiknya, Maulana Habib Luthfi lebih soft, dan memilih mengayomi semua aspirasi politik.

Mungkin kita setuju atau tidak setuju dalam satu dan lain hal, tetapi akhlak, adalah kalimatun sawa, yang menyatukan kita semua, terutama umat Nabi saw. Karena ajaran Nabi saw yang didakwahkan selama 23 tahun, dan di dilanjutkan oleh jutaan Muhammad yang lain dalam ukuran-ukuran lebih kecil selama 14 abad, jika dirangkum dalam satu kata, maka kata itu adalah "akhlak".

 

Sumber : facebook Ahmad Tsauri

Thursday, October 18, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: