Akhlak Dan Kemuliaan

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Ramai diberitakan soal "absennya" keluarga Cendana dalam prosesi wafatnya BJ Habibie. Banyak yang menyoroti soal itu. Tentu saja itu hak mereka, hak keluarga Cendana - mau datang atau tidak, mau kirim ucapan duka cita atau tidak. Ini mungkin soal perasaan keluarga, dan itu hanya mereka yang bisa merasakan.

Di tengah ramainya sorotan itu, saya teringat tulisan bagus dari sahabat bernama Muhammad Dateng berikut :
...................

Beberapa waktu setelah tragedi Karbala, Yazid bin Muawiyah memerintahkan eksekusi terhadap beberapa orang jenderal sebab suatu masalah. Salah satunya adalah lelaki yg juga terlibat dalam pembantaian di Karbala.

Karena merasa terancam, lelaki itu melarikan diri ke Madinah. Di sana, ia menyembunyikan identitasnya dan tinggal di kediaman al-Imam Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) bin Husein bin Ali bin Abu Thalib, satu-satunya cicit laki-laki Baginda Rasulullah Saw yg selamat dari pembantaian di Karbala.

Di rumah sosok yg dikenal sebagai as-Sajjad (orang yg banyak bersujud) ini, lelaki itu betul-betul dijamu dengan baik. Ia disambut dengan sangat ramah dan disuguhi jamuan yg layak dalam tiga hari. Setelah tiga hari, lelaki pembantai dalam tragedi Karbala itu pamit pergi. As-Sajjad memenuhi kantong kuda lelaki itu dengan berbagai macam bekal, air, dan makanan untuk bekal diperjalanan. Lelaki itu sudah duduk di atas pelana kudanya, namun ia tak kuasa beranjak. Ia termenung atas kebaikan sikap As-Sajjad. Ia merasa terenyuh karena sang tuan rumah tak mengenali siapa dia sebenarnya.

"Kenapa engkau tak beranjak..... ?!" Tegur As-Sajjad.

Lelaki itu diam sejenak, lalu ia menyahut, "Apakah engkau tidak mengenaliku Tuan.... ?!"

Giliran As-Sajjad yg diam sejenak, kemudian ia berkata,...
"Aku sangat mengenalimu sejak kejadian di Karbala itu......"

Lelaki itu tercengang. Ia tergugu dan memberanikan diri bertanya....
"Kalau memang engkau sudah mengenaliku.... mengapa engkau masih mau menjamuku sedemikian ramahnya..... ?!"

As-Sajjad menjawab ,....
"Itu (pembantaian di Karbala) adalah akhlakmu..... Sedangkan ini (keramahan) adalah akhlak kami. Itulah kalian, dan inilah kami...."

Subhanallah......
Masya Allah.....

.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

......................

Tulisan ini berpesan soal akhlak. Itu saja. Betapa mulianya orang yang berakhlak.

Tentu saja setiap orang berhak merasakan, menikmati dan bahkan memanjakan perasaannya. Tapi kadang kita harus menekan perasaan, menaklukkan dendam dan sakit hati demi sebuah akhlak.

Dan akhlak itu adalah kemuliaan...

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Saturday, September 14, 2019 - 13:00
Kategori Rubrik: