Akhlak, Bagaimana Ilmu Sosial Memandangnya?

ilustrasi

Oleh : Arya Hadi Darmawan

1. Mengapa akhlak/moral itu penting?

Akhlak atau moral itu fondasi dari sebuah bangunan sistem sosial. Dengan akhlak atau moral, maka ujungnya akan terwujud sebuah bangunan masyarakat dengan pernak-pernik elemennya dalam sistem sosial. Secara sosiologis, moral akan berujung pada pembentukan sebuah peradaban. Akhlak itu bekerja di tataran agensi/individu/orang-per-orang, sementara peradaban itu bekerja pada tataran sistem-sosial-makro (kumpulan orang-orang). Jika akhlak-seseorang-individu itu tertata rapi dan tertib, maka wujud masyarakat dalam sebuah sistem sosial pun akan rapi dan tertib. Sebaliknya, jika akhlaknya atau moralnya acak-acakan, maka masyarakat dan peradabannya pun akan acak-acakan pula.

2. Lalu apa itu akhlak atau moral?

Akhlak seseorang, secara harfiah dimaknai sebagai *karakter atau kepribadian* seseorang yang dibentuk oleh nilai-nilai yang dianut atau setidaknya menginspirasi orang tersebut dalam menentukan sikap dan tindakan. Ulangi, sikap, tindakan dan perilaku seseorang dengan demikian adalah cerminan (refleksi) atau turunan (derivat) dari akhlak atau moralnya.

Jadi, tindakan, sikap dan perilaku itu sangat tergantung akhlak sementara akhlak akan bergantung pada apa saja nilai-nilai (value system) yang dipetik oleh seseorang dan dimasukkan ke dalam pikiran atau nurani atau bathin-jiwa seseorang. Ini, pemahaman awam orang sosiologi. Begitulah akhlak atau moral dipahami.

3. Dari moral menuju peradaban

Bila dibuat flow of logic-nya jadi urutannya seperti ini (1) Paling atas ada nilai-nilai (yang bersumberkan dari perintah agama) --> ia menginspirasi terbentuknya seperangkat (2) code-of-conduct akhlak atau moral ---> yang kemudian menentukan (3) sikap, tindakan, perilaku orang per orang di dalam bergaul sesama manusia dan dengan alam ---> dimana, kemudian semua-kesatuan sikap, tindakan, perilaku orang-orang (yang telah berakhlak tadi), kemudian akan membangun (4) sebuah sistem sosial-masyarakat ---> yang seterusnya masyarakat dengan segenap atribut sikap, tindakan, perikelakuan setiap individunya akan membentuk dan membina (5) peradaban. Jadi simple saja sejatinya, kaitan antarra *akhlak-di-tataran-individu-seseorang-dengan-sistem-sosial/masyarakat-dan-peradaban-di-tataran-makro-sosial*. Singkat kata, tanpa akhlak pada level individu, maka tak akan ada masyarakat ataupun peradaban.

Karena kita, pada saat ini sedang dan terus membangun dan melestarikan peradaban, maka kini kita bisa menelusur ke"hulu"nya. Moral-moral atau akhlak-akhlak apa saja yang sejatinya sedang & telah mengantarkan kita kepada peradaban saat ini?

Dengan lain kata: peradaban apa yang kita sedang & akan terus bangun dengan akhlak di tataran individual? Untuk Indonesia, kita boleh katakan bahwa kita sedang membangun masyarakat dengan peradaban yang *modern-berdasarkan-pada-lima-sila-dalam-Pancasila*. Dalam membangun peradaban itu, nilai-nilai agama menjadi inspirasi penting untuk menata akhlak/moral di Indonesia selain nilai-nilai kearifan lokal.

4. Moral atau akhlak dan penerapannya.

Lalu bagaimana *moral atau akhlak* itu dikonseptualisasikan secara agak sistematis? Dalam banyak kamus, moral atau akhlak didefinisikan sebagai: "concerned with the principles of right and wrong behavior and the goodness or badness of human character". Moral atau akhlak itu adalah tentang diikutinya sesuatu yang diyakini benar/good/baik dan dihindarinya sesuatu yang diyakini salah/wrong/bad/tidak-baik/buruk oleh seseorang. Itulah sebabnya akhlak menjadi samadengan karakter kepribadian seseorang. Kenapa karakter? Karena seseorang akan selalu mendekati yang good/right dan menghindari yang bad/wrong dalam masyarakat. Sesederhana itulah akhlak atau moral itu.

Teladan mudahnya adalah seperti ini: jika sikap "bersih dan sehat" itu diyakini sebagai hal yang baik/benar/good, maka sikap menenggang hal-hal "kotor dan sakit" diyakini sebagai sesuatu yang tidak-baik/buruk dan karenanya harus dihindari. Jika moral ini diterapkan, maka masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang bersih dan sehat serta jauh dari penyakit.

Itulah peradaban yang kita sedang dan akan terus bangun. Sesederhana itu kaitan antara moral-atau-akhlak pada tataran individual dengan masyarakat & peradaban di tataran makro-sosial. Setiap hari kita menerapkan aneka standar moral, di setiap nafas kita (kecuali jika seseorang itu mati) dalam mewarnai kehidupan.

"the good/right (baik/benar) and the bad/wrong (buruk/salah)"

Sebagai contoh tentang adanya satu set *akhlak atau moral* seseorang yang mengaku beragama (agama apapun) adalah seperti di bawah ini. Seorang yang beragama, pasti mengagungkan atau menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang kemudian menjadi nilai-nilai universal di bawah ini. Ketika orang per orang itu menerapkannya, maka pada akhirnya akan terbentuklah masyarakat dengan karakter/ciri-kepribadian/budaya yang semacam di bawah ini pula.

1. Nilai-nilai kejujuran (jujur itu baik, tidak jujur itu buruk). Jika kita percaya pada moral kejujuran maka kejujuran menjadi etika kehidupan setiap hari warga di sebuah masyarakat. Hasilnya adalah sebuah masyarakat yang berakhlak anti-kepada-tindak-penipuan, masyarakat yang berakhlak anti-kepada-tindak-korupsi, masyarakat yang berakhlak tidak-suka-mencuri dst.

2. Nilai-nilai kemanusiaan (welas-asih itu baik, jahat dan dengki-dan-memusuhi itu tidak baik). Jika moral welas-asih yang dikembangkan oleh individu-individu, maka terbentuk masyarakat yang sangat tenggang rasa dan hormat pada sesama.

3. Nilai-nilai kerendahan hati (rendah hati itu baik, sombong itu tidak baik). Jika moral atau akhlak rendah hati menjadi etika kehidupan seseorang, maka setiap saat kita akan menjumpai orang-orang yang tidak jumawa, orang-orang yang tidak sombong, orang-orang yang tidak petentang-pententeng dan orang-orang yang tidak suka merendahkan orang lain. Masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang saling menghargai.

4. Nilai-nilai kesantunan (sopan-santun & menghormati pihak lain itu baik, tidak-sopan-santun dan penuh caci-maki itu tidak baik atau sangat buruk). Jika nilai-nilai kesantunan menjadi etika kehidupan pribadi seseorang, maka kita akan mendapati masyarakat yang penuh keramah-tamahan, hangat, hospitality, saling menghargai. Sebuah masyarakat dengan peradaban yang penuh respect dan rasa hormat satu sama lain.

5. Nilai-nilai persatuan, persaudaraan, dan solidaritas sosial (bersatu-bersaudara-solider itu baik, sebaliknya bermusuhan-dan-perpecahan itu buruk). Jika persatuan yang dikembangkan, maka kita membangun peradaban yang bersatu-padu dan saling bahu-membahu dengan keberagaman.

6. Nilai-nilai perdamaian (damai itu baik, sementara konflik-permusuhan-dan-peperangan itu tidak baik atau buruk). Jika perdamaian ada di dalam benak atau hati setiap individu, maka akan terbentuk masyarakat yang damai tanpa konflik.

7. Nilai-nilai kedermawanan ("tangan di atas" yang selalu memberi itu baik, sementara "tangan di bawah" yang hanya meminta, itu tidak baik). Jika nilai-nilai kedermawanan telah menjadi akhlak-moral kepribadian setiap orang, maka kita akan memiliki masyarakat yang saling menyantuni. Yang kuat merengkuh yang lemah. Masyarakt saling tolong menolong.

5. Penutup

Ada ribuan "the good and the bad" yang diajarkan oleh agama kita masing-masing. Dari sana terbangun akhlak atau moral dan akhirnya peradaban. Menurut teman-teman, sejatinya tak ada yang baru dengan kode-akhlak kita selama ini. Semua sudah kita pelajari dalam kitab-suci agama kita dan juga dalam Pancasila sebagai bangsa Indonesia. Yang kita perlukan adalah mer-fresh dan memupuk apa-apa yang good/right/bagus/baik/benar tadi dan menjauhi apa-apa yang kita sepakati sebagai bad/salah/buruk tersebut.

Selamat membina peradaban yang sangat dinamis.
Mari terus me-refresh akhlak atau moral kita dalam menghadapi science dan technology yang terus berubah cepat.

Salam Indonesia untuk peradaban modern yang terus memperhatikan nilai-nilai keagamaan sebagai standar moralitas dalam bermasyarakat di Indonesia (bukan di Amerika atau di Jazirah Arab atau di Eropa)

Sumber : Status Facebook Arya Hadi Dharmawan
 

Tuesday, November 17, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: