Akhirnya Si "Musnah" Makan Hoax Buatannya Sendiri Di Penjara

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Saya agak kesulitan menyebut nama manusia berkepala jemblem ini. Untuk lebih mudahnya saya sering memberikan sebutan kehormatan si MUSNAH yang merupakan kependekan dari nama lengkapnya MUStofa NAHrawardaya. Entah karena wajahnya punya bakat untuk tidak disenangi atau tidak simpatik tapi memang saya sangat tidak suka dengan orang ini secara komprehensif tanpa terkecuali.

Si MUSNAH ini mulutnya kasar luar biasa. Berkali-kali dia memproduksi HOAX yang menyerang Pemerintah. Dia pernah menghebuskan HOAX bahwa saat Jokowi jadi walikota Solo alokasi dana bansos 70% untuk warga non muslim. Suatu ujaran yang ngawur dan tanpa data. Si MUSNAH juga yang memprotes pengangkatan Lurah Susan dengan ujaran yang berbau RASIS. Dan setiap komentar dia tentang terorisme selalu bernada membela teroris dan mengecam Polri. Dia juga pernah membuat cuitan yang menghina Ibu Nuriyah Abdurahman Wahid. Dan si MUSNAH ini juga yang menghembuskan HOAX Jokowi pakai alat bantu dengar saat debat Capres. Dan beberapa produksi HOAX yang lain. Sungguh biadab manusia ini.

Tapi herannya selama ini dia seakan tak tersentuh oleh hukum. Karena dia selalu lolos dari jeratan pidana, saya sempat mengagumi kelicinan manusia nir rambut ini. Dan sangat tepat laki-laki yang lahir pada 12 Juli 1976 yang merupakan Caleg PAN ini bergabung dengan kubu Prabowo. Setidaknya dia masuk ke dalam komunitas yang sejenis dan sewarna.

Karena berkali-kali lolos dari radar pihak keamanan, si MUSNAH ini semakin merajalela memproduksi kebohongan dan disebarkan ke pengikutnya. Puncaknya cuitan dia terakhir yang mengarang cerita palsu alias HOAX yang mengatakan ada anak kecil dipukuli Brimob di dalam masjid sampai meninggal. Ujaran kebohongan yang luar biasa jahat dan sangat biadab.

Meskipun kata si ember bocor Fahri Hamzah mengapa cuitan hanya sebaris bisa ditangkap. Tapi cuitan sepotong ini pengaruhnya luar biasa. Seperti yang pernah saya bilang bagi kaum kroco kubu Prabowo cuitan di medsos yang dilakukan elite Kubu 02 sudah dianggap seperti kitab suci. Dan yang terjadi cuitan ngawur dari si MUSNAH juga dianggap kebenaran oleh kaum pekok yang tidak mengenal kebenaran sejati. Akibatnya pikiran kotor kaum pekok ini kepada aparat Kepolisian khususnya Brimob menjadi sangat buruk dan penuh prasangka.

Saya yakin semua orang yang berakal sehat dan waras di negeri ini dengan suka cita menyambut gembira penangkapan MUSNAH yang saat ini menjadi kolektor penyakit asam urat, diabetes dan hipertensi. Apalagi Bareskrim Polri serta merta menetapkan manusia ini sebagai tersangka. Meskipun posisi si MUSNAH ini hanya kroco kelas menengah di kubu Prabowo tapi langkah "schock therapy" dari Polri ini patut kita berikan apresiasi yang tinggi. Tujuannya untuk meredam cuitan kebohongan yang diproduksi oleh kelompok pengacau keamanan negara.

Teori makan bubur panas dari Polri sedang berjalan efektif. Menyisir dari pinggir, kemudian ke tengah perlahan namun pasti para penjahat kemanusiaan yang memporak-porandakan kedamaian negeri ini satu persatu harus ditangkap dan diMUSNAHkan. Mereka telah menjadi virus yang menggerogoti keindahan dan kedamaian Indonesia.

Pemerintah dan aparat keamanan negara harus tegas dan tidak boleh tunduk kepada para penjahat yang haus kekuasaan. Ketegasan Pemerintah pasti didukung oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Karena hal ini salah satu upaya untuk menyelamatkan Indonesia dari cengkeraman kaum penjahat yang ditunggangi kaum radikalis Islam yang berencana merusak kebhinekaan Indonesia.

Mungkin saya salah. Tapi sebagai seorang yang cinta Indonesia saya ingin manusia sejenis MUSNAH ini membusuk di penjara. Karena saya yakin Indonesia kita akan semakin indah penuh warna yang harmonis tanpa ada manusia rasis dan destruktif seperti MUSNAH dan kawan-kawannya.

Setuju kan ?

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Monday, May 27, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: