Akhirnya Jokowi Pegang Kendali Politik Indonesia

 

 

Oleh : Ricky Vinando

Jelang tutup tahun 2015 dan menyambut tahun baru 2016, Hiruk pikuk politik tanah air kian menarik. Presiden Jokowi berhasil membuat hampir semua partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih untuk berputar haluan. Putar haluan yang dilakukan oleh partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih tak lain adalah disebabkan oleh lemahnya kekuatan politik motor penggerak Koalisi Merah Putih sekaligus Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Lemahnya posisi atau daya tawar politik Prabowo Subianto dan tidak adanya keuntungan yang bisa didapat dari Koalisi Merah Putih, Membuat Koalisi Merah Putih kini kian keropos dan hampir mendekati bubarnya Koalisi yang awalnya dibentuk secara permanen tersebut. 

Putar haluan seperti yang dilakukan oleh Partai Amanat Nasional (PAN) yang pada 3 September lalu telah memutuskan putar haluan dan menyatakan dukungannya terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Masuk dan bergabungnya PAN dalam pemerintahan, Ini kian membuktikan betapa sulit terbendungnya daya magic sekaligus kekuatan sihir politik yang dimiliki oleh Jokowi. Daya magnit dan sihir politik yang dimiliki oleh Presiden Jokowi tersebut  berhasil membuat hampir semua partai dalam Koalisi Merah Putih terpikat dengannya, Kecuali Gerindra yang tetap pada pendiriannya yakni menjadi motor Koalisi Merah Putih walau hanya bertahan seorang diri dalam Koalisi tersebut.

Selepas PAN tak lagi dipimpin oleh Hatta Radjasa. PAN dengan Ketua Umum yang barunya mengambil jalan pintas yakni langsung menyatakan dukungannya terhadap pemerintahan. Jalan pintas tersebut diambil karena PAN melihat keuntungan luar biasa pasti akan didapatnya jika bergabung dengan pemerintahan. Meskipun terkadang masih ada suara-suara tak sejalan dengan keputusan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.

Contohnya saja Amien Rais, lahan-perlahan tokoh penggagas reformasi tersebut akhirnya larut dalam hiruk pikuk politik yang dimainkan oleh Zulkifli Hasan. Terbukti kini Amien Rais lebih banyak diam ketimbang bicara sebagaimana yang sering dilakukannya setelah Jokowi menang pilpres lalu. Namun, sesungguhnya keputusan PAN yang memutuskan untuk keluar dari gerbong Koalisi Merah Putih besutan Prabowo, sesungguhnya merupakan pukulan telak bagi Koalisi Merah Putih. Pasalnya saat itu, Koalisi Merah Putih berhasil menduetkan Prabowo-Hatta dalam Pilpres lalu, dan pada saat itu pula strategi-strategi untuk melawan pasangan Jokowi-JK terus dikumandangkan.

Tapi tak lama setelah Zulkifli Hasan menjadi Ketua Umum PAN, PAN langsung mnegambil sikap politik dan meninggalkan sikap politik sesat Hatta Radjasa yang mendukung KMP yang makin hari makin tak bedaya. Namun setelah PAN resmi berganti kepemimpinan, Zulkifli Hasan memimpin PAN, PAN mampu melihat dan membaca mengenai situasi politik yang dapat menguntungkannya.

Keputusan PAN keluar dari KMP membuktikan betapa lemahnya kekuatan ataupun daya tawar yang dimiliki olhe KMP, Setelah Golkar dan PPP terbecah belah menjadi dua keping. Itu artinya daya tawar Prabowo Subianto kini makin lemah dan sulit dibendung oleh daya magic yang dimiliki oleh Jokowi. Kekuatan Koalisi Merah Putih dalam waktu dekat, cepat atau lambat akan kembali dipastikan kehilangan salah satu energi terbesarnya selama ini.

Selama ini salah satu energi terbesar KMP ada pada Partai Keadilan Sejahterah. Namun kini sudah terbaca jelas bahwa Partai Keadilan Sejahterah dipastikan akan segera merapat dan menyatakan dukungannya terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Hal tersebut terbaca dari perubahan sikap yang ditunjukan oleh elit PK yang Selasa lalu mendadak bertemu dengan Jokowi di Istana Merdeka.

Perubahan sikap politik PKS yang kini dipimpin oleh orang-orang yang memiliki pemikiran revolusioner rupanya berhasil terpihat dengan daya magic politik yang dimiliki oleh Jokowi. Dengan mudahnya saat pertemuan tersebut. Presiden PKS, Sohibul Iman memuji-muji program-program yang telah diluncurkan oleh Presiden Jokowi. Bahkan sinyalemen PKS akan bergabung dengan pemerintah makin terasa setelah Presiden PKS, Sohibul Iman juga menyatakan akan mendukung semua program yang dilucurkan oleh Jokowi. Hal ini kian membuktikan bahwa daya tawar politik Jokowi kian tak terbendung lagi.

PKS selama ini menjadi partai yang paling getol menyebar fitnah, pencemaran nama baik yang ditujukan terhadap Jokowi. Tetapi dalam waktu cukup singkat pasca Munas PKS yang digelar pada bulan Oktober lalu, Pimpinan PKS yang baru telah mengambil sikap yang sudah daat ditebak akan meninggalkan Koalisi Merah Putih. Tentunya keputusan PKS yang sudah mulai jatuh hati dengan Jokowi dan mulai menujukan ketertarikannya untuk bergabung dengan pemerintahan juga sudah berhasil membuat opini bebas keluar dari ucapan-ucapan elit Gerindra.

Elit Gerindra bahkan menyatakan bahwa PKS sepertinya sedang mengejar kekuasaan kembali dan mengkhianati KMP, yang merupakan rumah besar bagi perkumpulan pendukung Prabowo. Namun kini PKS dipastikan, Cepat atau lambat akan segera pergi meninggalkan rumah perkumpulan Prabowo dan masuk ke dalam pemerintahan Jokowi, yang  akan sangat menguntungkan bagi PKS, terutama Jokowi. Karena kekuatan di parlemen akan kembali dikuasai oleh partai-partai pendukung pemerintah (P4).

Selain itu opini-opini miring yang dibuat oleh elit Gerindra tersebut makin menunjukan bahwa sebenarnya Gerindra saat ini sedang dilanda kepanikan dan kecemasan yang luar bisa terkait mulai merapatnya PKS dengan Jokowi. Apalagi pasca pertemuan tersebut, Elit PKS juga menyatakan akan kembali bertemu dengan Jokowi dalam waktu dekat. Tentunya hal-hal inilah yang kian membuat Gerindra tampak sangat cemas. Kecemasan tersebut juga berhasil menandakan bahwa Presiden Jokowi yang bukan seorang Ketua Umum maupun pemilik partai, berhasil memikat anggota KMP dan akhirnya putar haluan.

Karena jika PKS benar-benar pergi meninggalkan Koalisi Merah Putih, Maka bisa dipastikan nasib Koalisi Merah Putih kian tak jelas bahkan bisa bubar akibat tak ada lagi kekuatan politik KMP yang sedari awal sudah sepakat menjadikan KMP sebagai Koalisi permannen dengan beberapa partai termasuk PAN, yang sudah lebih dulu meninggalkan KMP, Lalu kemudian PKS yang sudah bisa dipastikan akan mendukung Jokowi.

Dan pada akhirnya Koalisi Merah Putih tak lebih dari sebiah lelucon politik lantaran tak ada lagi kekuatan yang menyokong Koalisi besutan Prabowo Subianto tersebut. Itu artinya kini kekuatan KMP sudah tak lagi memiliki kekuatan secara politik, Karena hanya dihuni oleh Gerindra sendirian. Terlebih lagi saat ini dua partai yang sebelumnya tergabung dalam Koalisi Merah Putih sudah mengalami perpecahan.

Golkar terpecah menjadi dua, Golkar munas Bali dan Golkar munas Ancol. Sedangkan PPP juga terbelah menjadi dua. PPP hasil Muktamar Surabaya dan PPP hasil Muktamar Jakarta. Kedua partai tua yang terpecah tersebut juga terpecah disebabkan oleh dukungan politik yang berbeda. Golkar Munas Ancol mendukung pemerintahan, Sedangkan Golkar Munas Bali mendukung KMP. Pecahnya dua partai tersebut bisa disimpulkan akibat ketidakpercayaan politik pada kekuatan politik yang dimiliki oleh Koalisi Merah Putih. Ditambah lagi saat ini Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan. Itu artinya secara ketetanegaraan, Saat  ini tak ada kubu Golkar yang sah menurut hukum, Karena keputusan Mahkamah Agung tersebut belum ada tindaklanjut dari Kementrian Hukum dan HAM, Bahkan kubu Agung pun bisa menguggat putusan pimpinan DPR yang sudah diputuskan kubu Ical ke Pengadilan Tata Usaha yakni dengan landasan Undang-undang administasi pemerintahan.

Selain itu, posisi Demokrat juga masih sebagai penyeimbang. Dengan tetap berposisi sebagai penyeimbang, ada kemungkinan bagi Demokrat yang akan masuk dan bergabung dengan Koalisi Merah Putih. Namun jika Demokrat bergabung dengan KMP, Bisa dipastikan pula Demokrat akan mengalami nasib yang serupa dengan Golkar dan PPP yakni terbecah menjadi dua. Hal itu disebabkan oleh sikap perbedaan paham politik antar elit Demokrat. Dan sebenarnya Demokat sangatlah ingin berkoalisi dengan pemerintahan, Namun yang menjadi ganjalan bagi Demokrat adalah sikap politik Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang masih memiliki dendam politik dengan Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.

Dendam politik ketika SBY berhasil mengalahkan Mega pada Pilpres 2004 masih membekas hingga kini dan sulit terhapuskan rasa sakit yang mendalam itu. Akibatnya kini Demokrat bisa ibaratkan sedang terombang-ambing karena bingung untuk masuk koalisi mana. Jika masuk Koalisi Merah Putih sudah dipastikan Demokrat tidak akan mendapat keuntungan apapun. Apalagi dalam waktu dekat ini bisa dipastikan anggota dari Koalisi Merah Putih hanya terisa satu, yakni Gerindra. Itu artinya KMP sudah tak lagi memiliki kekuatan politik dan daya tawar Prabowo juga mkin lemah , Ini terlihat dari semua partai yang awalnya bersama KMP , Memutuskan putar haluan dan gabung dengan pemerintah.

PAN sudah pergi, PKS akan segera menyusul. Maka tak ada pilihan lain bagi Demokrat, selain tetap sebagai penyeimbang, dan tidak memilih gabung ke dua koalisi yang ada. Dengan demikian, saat ini peta politik di Senayan akan kembali berubah, dan diyakini pula tak akan ada hambatan lagi di Parlemen, terlebih lagi PKS sudah mendekat dengan Jokowi. Walaupun elit PKS menyatakan bahwa tetap di KMP dan hanya silahturahmi biasa dengan Jokowi.

Dalam politik tak ada yang namanya silahturahmi biasa, Terlebih lagi partai oposisi seperti PKS yang memang masih malu-malu kucing untuk menyatakan bergabung dengan partai-partai pendukung pemerintahan, Tetapi sudah memuji-muji program Jokowi selama ini. dan dapat disimpulkan bahwa jika melihat dinamika politik yang terjadi akhir-akhir ini, Maka Jokowi sudah memegang kendali politik Indonesia, ini diperkuat PKS yang kemudian akhirnya juga terpikat oleh kelihaian dan kepiawaian politik Jokowi.

 

Sumber: kompasiana

 

Wednesday, December 23, 2015 - 20:00
Kategori Rubrik: