Akhir Sebuah Drama (Revolusi Mental)

Oleh : Erizely Jery Bandaro

Tidak mungkin semua petinggi partai koalisi Gerindra serta tim sukses PAS bisa dibohongi oleh RS. Mengapa ? mereka semua orang terpelajar dan pemain politik. Semua tindakan mereka terukur dengan standar yang ketat. Yang pasti semua didasarkan oleh arahan konsultan ahli di bidang kampanye politik. Setiap recanana, dilengkapi dengan target dan time table nya. Cakupan sukses nya juga dapat diukur dengan tingkat error sangat kecil. Itu sebabnya suara petinggi Partai dan tim sukses senada. Mereka memang berhasil menyebarkan berita tentang RS di aniaya oleh orang tidak dikenal. Apalagi berita yang viral di sosial media itu di dukung dengan jumpa pers yang dihadiri oleh para petinggi partai. Maka lengkaplah berita itu jadi senjata politik yang ampuh.

Walau tidak ada laporan dari RS kepada polisi namun polisi langsung melakukan investigasi atas kejadian tersebut. Seluruh rumah sakit dikota bandung di telusuri semua. Ternyata hasilnya tidak ada nama RS yang pernah dirawat. Dimana sekarang RS ? petinggi partai dengan enteng menjawab bahwa tempatnya dirahasiakan demi keamanan RS. Namun satu hal yang mereka lupa. Bahwa Polisi di era sekarang dibekali sarana investegasi yang canggih. Berkat transaksi debit card yang terhubung dengan sistem EDC, Polisi dapat mengetahui pasti dimana RS berada pada tanggal kejadian yang dimaksud.

Setelah mengetahui posisi RS berada maka Polisi langsung datang ketempat dimana transaksi dilakukan. Ternyata dia berada di klinik operasi plastik. Polisi pun minta file CCTV dibuka. Maka tuntaslah investigasi itu bahwa pada tanggal kejadian RS tidak di Bandung seperti berita di sosial media tetapi ada di Klinik Operasi plastik. Polisi melakukan jumpa pers dan menyebarkan hasil investigasi itu kepada publik. Mengapa ? karena sudah tugas polisi mengklarifikasi berita yang sudah terlanjur viral kepada publik agar tidak terjadi keresahan. Bagaimana dampaknya terhadap hukum atau UU ITE ?. Itu kembali kepada prinsip dasar dari UU ITE yaitu delik aduan. Artinya kalau tidak ada yang dirugikan atas berita viral tersebut maka polisi tidak bisa memprosesnya.

Nah sudah ada dari masyarakat yang melaporkan kejadian itu ke Polisi dengan tuduhan menyebarkan berita hoax. Kemudia Tim Sukses Jokowi juga akan melakukan tindakan hukum atas berita hoax tersebut. Karena secara politik merugikan kubu JAMIN. Kemudian pihak Gerindra dan tim sukses PAS, juga akan melaporkan RS ke Polisi atas berita bohong tersebut. RS terpanggang kiri kanan. Itu harga yang harus dibayar oleh RS yang bagaikan debu diatas tungku. Sekali tiup sirnahlah semua kehormatan dan kebanggaan sebagai pejuang kebenaran. ( katanya).

Selama ini pemilih PS sangat percaya integritas PS pembela kebenaran. Namun dengan fakta kebohongan ini, yang dilakukan Juru Kampanye Nasionalnya sendiri maka orang dapat dengan mudah menduga duga bahwa PAS tidak punya konsep kampanye yang demokratis dan religius. Design kampanye memang diarahkan untuk menciptakan rasa takut, kecurigaan kepada pemerintah, hasutan kebencian, dengan target tentunya menarik swing voter dan sekaligus menciptakan chaos. Tetapi cara cara seperti ini tidak efektif dalam sistem demokrasi yang modern ditengah masyarakat yang kritis.

Peran RS sebagai drama queen yang tadinya menarik simpati dan empati kaum sorak dari kubu PS, ternyata menjadi bedak kotoran yang di poleskan kewajah PAS. Hebatnya, RS dengan segala resiko mengakui kebohongannya. PS pun secara jantan mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada publik. Sekarang kembali kepada publik. Semoga kita semua bisa mendapatkan hikmah dari kasus ini. Berdrama itu bagus kalau menghibur. Tetapi sangat buruk kalau itu adalah fitnah atas dasar kebencian. Kita semua nampak terhormat bukan karena kita hebat tetapi karena Tuhan menyembunyikan aib kita. Dan Tuhan berbuat sesukaNya…

**** Orang yang dihinakan akan diangkat derajatnya oleh Tuhan, sementara yang menghina akan dibukakan segala kebusukannya oleh Tuhan

 

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Thursday, October 4, 2018 - 11:00
Kategori Rubrik: