Akhir Kisah Tragis Sang Sengkuni

Oleh:  Rudi S Kamri

'Gagal Maning' rupanya telah menjadi nama tengah abadi seorang Amien Rais. Kegagalan demi kegagalan begitu akrab dari perjalanan manusia sepuh berumur 76 tahun ini. Digadang-gadang fansnya menjadi tokoh reformasi, tapi ternyata ditolak oleh para pelaku sebenarnya dari gerakan reformasi 1998. Kemudian berambisi menjadi Presiden di negeri ini, tapi tidak pernah berhasil sampai ujung hayatnya. Lalu berusaha menjegal Jokowi dua kali dalam Pilpres, juga gagal maning - gagal maning.

Hal yang paling menyakitkan dan sangat ironis, bahkan untuk mempertahankan partai yang didirikan dengan susah payah pun gagal total. Amien Rais telah tercerabut dari Partai Amanat Nasional (PAN). Dan lebih tragis lagi, yang menumbangkan dominasi Mbah Amien di PAN tak lain tak bukan sang besan Zulkifli Hasan. Ini mungkin pukulan telak yang paling menyakitkan sekaligus memalukan yang diterima Amien Rais. Entah apa yang akan terjadi dengan perkawinan anak mereka akibat perseteruan politik kedua orangtuanya.

 

Berita terbaru, Amien Rais bersama Din Syamsudin dan Sri Edi Swasono pun gagal menggugat Perppu tentang Corona di Mahkamah Konstitusi (MK). Hakim MK menganggap para kelompok tua tersisih ini sudah kehilangan objek gugatannya karena Perppu tersebut sudah disahkan jadi Undang-Undang. Artinya di sini jelas gerakan orang tua yang tidak mawas diri ini sama sekali tidak dianggap dan tidak mendapat perhatian dari Parlemen.

Kini dengan laskar sakit hati yang tersisa, Amien Rais ingin mendirikan partai baru sebagai tandingan dari PAN. Entah apa namanya, mungkin PAN Baru yang kepanjangan dari Partai Amien Ngamuk, Partai Amien Ngambek atau Partai Amien Norak. Dari sikapnya yang tidak legowo menerima kekalahan ini menunjukkan dengan terang benderang Amien Rais bukan seorang yang berjiwa demokratis. Sejatinya dia hanyalah seorang otoriter dan maniak kekuasaan tulen.

Tapi mengingat usianya yang sudah mendekati akhir perjalanan dan ditambah popularitasnya di akar rumput sudah relatif habis, upaya pendirian partai baru yang digagas Amien Rais saya prediksi akan sia-sia belaka. Ibarat menegakkan benang basah, keberadaan partai baru tersebut tidak akan mendapat respons positif dari publik. Rekam jejak kegagalan yang selalu berulang akan menjadi catatan kelam dari masyarakat tentang sosok Amien Rais.

Hukum tabur tuai sedang terjadi. Inilah karma setimpal dan pantas yang harus diterima oleh Amien Rais, setelah menjatuhkan kredibilitas Habibie dan Gus Dur sehingga tersingkir dari kursi kepresidenan di negeri ini. Dan ini juga harga yang harus dibayar Amien Rais karena berulang kali memfitnah dan menghina Presiden Jokowi selama ini.

Sebuah epilog tragis bagi seorang petualang politik yang akhirnya harus menjadi gelandangan politik seperti yang sudah diprediksi oleh Gus Dur bertahun- tahun lalu.

Salam SATU Indonesia
13052020

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Thursday, May 14, 2020 - 03:30
Kategori Rubrik: