AKBP Soliyah, Kapolres Cianjur yang Mengagumkan

ilustrasi

Oleh : Susy Rizky Wiyantini

Dalam perjalanan mau melayat ke rumah duka tempat Ipda (Anumerta) Erwin Yudha Wildani, Mbak Judith Lubis ditelpon oleh pihak Polres Cianjur. Mbak Judith cerita ke Anita Jamin dan saya bahwa kita akan di terima sama Ibu Kapolres. Dalam hati saya mbatin, kasihan Ibu Kapolresnya, jadi ikut repot masalah dinas suami.

Sampai di Polres Cianjur kami udah ditunggu oleh Pak Undang, rekan sejawat Ipda Erwin yang minggu lalu kita temui juga di RSPP.

"Silahkan langsung ke Lt. 2 Bu, Bu Kapolres udah menunggu." Kami naik dan masuk ke ruang tunggu. Nggak sampai 5 menit seorang Polwan minta kita masuk ke ruangan Kapolres.

"Silahkan Bapak dan Ibu-ibu. Wah, jauh ya dari Jakarta." Terdengar suara wanita dari dalam. Akhirnya sosoknya kelihatan juga. Berbaju coklat seragam polisi, tapi yang celana oanjang bukan rok.

Lho? Ternyata yang disebut "Ibu Kapolres" itu bener-bener Kapolresnya, bukan istri Kapolres. Bayangan bahwa yang akan kita temui adalah Ibu Bhayangkari berbaju merah jambu langsung sirna.

Di meja tamu dalam ruangannya yang luas penuh dengan makanan kecil.

"Silahkan Bu dicobain kuenya. Hari ini tamu dan telpon tidak putus sejak pagi. Sebelum rombongan Bapak Ibu datang, Pak Dandim baru saja pulang dari sini. Wawancara tidak terbilang, semua saya layani supaya masyarakat dapat info langsung dari pihak kepolisian, bukan dari mana-mana."

Kelelahan nggak bisa disembunyikan dari wajahnya, tapi beliau tetap tersenyum menerima kami di sore hari itu.

Beliau sempat cerita bagaimana dalam setiap kunjungan ke RSPP beliau memompa semangat Alm. Erwin Yudha. Almarhum mengucapkan "Terima kasih Bu,terima kasih Bu." Masih bisa jawab. Polwan-polwan yang jadi rekan kerja sangat terpukul dengan kepergian Alm. Erwin. Beliau sendiri nggak bisa menahan kesedihannya ketika pagi hari menjadi Irup dalam pelepasan jenazah sebelum dimakamkan.

Matanya sama sekali nggak kelihatan ngantuk padahal nyaris nggak tidur sejak sehari sebelumnya.

Di hari Minggu beliau besuk Alm. Erwin di RSPP. Dari sana langsung besuk lagi 2 anggotanya yang masih dalam perawatan di RS Hasan Sadikin Bandung. Malamnya sampai Cianjur langsung pimpin rapat anggota. Kejadian di Papua membuatnya berjaga-jaga untuk segala kemungkinan yang terjadi, jangan sampai keributan serupa timbul di wilayahnya, Cianjur. Beliau ingin masyarakat Cianjur tenang, tidak terganggu kerusuhan. Sampai jam 11 malam rapat baru berakhir. Senin dinihari jam 00.30 beliau masih buat laporan buat Kapolda. Saya kirim draft laporan ke Wakapolres, minta dicek lagi kalau aja ada info yang belum masum laporan.

WA Waka dalam status online, tapi Bu Kapolres bingung kok nggak biasanya WA beliau nggak langsung dibalas. Akhirnya laporan itu diselesaikan beliau sendiri.

Rampung dengan laporan itu beliau langsung sholat. Nggak lama kabar duka bahwa Alm. Erwin gugur masuk ke beliau. Sebagai pemimpin, setegar-tegarnya prajurit, pasti sedih banget. Setelah bisa mencerna kabar duka itu, beliau kembali menyusun laporan baru buat Kapolda Jabar. Lalu pasang berita di sosial media Polres soal gugurnya Alm. Erwin. Postingan beliau di IG saya lihat memang jadi viral, dikutip dan dishare ke berbagai platform sosial media oleh masyarakat yang bersimpati.

Setelah urus sosial media, Bu Kapolres langsung menelpon semua Muspida dan pemuka masyarakat Cianjur. Beliau ingin Alm Erwin disholatin banyak orang, ingin almarhum di sembahyangkan di Masjid Agung karena beliau sudah menjadi pahlawan masyarakat Cianjur.

Masyarakat keluar semua. Ketika memasuki Cianjur warga menyambut sepanjang jalan. Di Mesjid yang ikut sholat juga banyak. Beliau bahagia anak buahnya mendapat kehormatan yang pantas.

Mumpung ketemu kita tanya suka duka beliau selama jadi Polwan dan bisa mencapai posisi membanggakan sebagai Kapolres.

Rupanya suami beliau juga seorang polisi dan menjadi Kapolsek kota Purbalingga di Jawa Tengah. Ketika dipindah ke Cianjur, beliau nggak ingin anak-anak tidak termonitor. Alhamdulillah dua putranya yang kembar di terima di sekolah yang diinginkan yang ada asramanya. Putra pertama sendiri udah jadi mahasiswa di Unsoed Purwokerto.

Ditengah-tengah obrolan ada telpon masuk dari Radio PRFM Bandung. Beliau minta ijin untuk menerima wawancara itu. Sepanjang kurang lebih 10 menit kami dibuat kagum oleh jawaban Bu Kapolres Soliyah. Ringkas, padat, nggak bertele-tele, informatif. Dalam suasana yang menekan dan fisik yang pasti lelah beliau tetap bisa fokus menjawab wawancara live. Pendengar radionya pasti senang dapat info langsung dari tangan pertama dan pejabat kepolisian yang paling berwenang di Cianjur.

Beliau juga cerita kalau mau diwawancara, bagian media sudah menyusun materi yang harus disampaikan. Bu Kapolres minta disampaikan aja secara verbal, buat beliau lebih gampang diserap. Hebat juga ya Bu Kapolres wanita ini.

Beberapa waktu lalu jabatan Bupati Cianjur diisi oleh Plt Bupati. Sebagai sama-sama bagian dari Muspida kota beliau memberi support kepada Plt Bupati untuk menghandle pekerjaan yang tiba-tiba dilimpahkan kepada beliau. Kompak bersama Dandim yang baru, Kapolres Cainjur mendukung Plt Bupati. Bu Kapolres selalu hadir di acara Pemda sebagai dukungan moril. Beliau tidak ingin Pemda kerjanya terhambat. Wahh, Gubernur Jabar Kang Emil mesti tau nih Kapolres udah cawe-cawe dukung Plt Bupatinya.

Momen Pemilu digunakan beliau untuk mempersatukan seluruh aparat Pemerintah, keamanan dan ormas2 di Cianjur untuk kompak. Alhamdulillah selama Pemilu kota Cianjur aman. Pencapaian angka perolehan suara Jokowi Maruf Amin di Cianjur termasuk salah satu yang tinggi di Jawa Barat.

Senang hari ini bisa ketemu Polwan sekaligus Kapolres Cianjut Ibu AKBP Soliyah. Bangga Polri kita punya sosok Polwan yang tegas sekaligus luwes dalam memimpin. Bravo Polri!

Diujung pertemuan kita tanya apa yang ingin disampaikan oleh beliau untuk masyarakat.

Ibu AKBP Soliyah mengucapkan terima kasih atas dukungan moril dan materil dari masyarakat yang begitu besar atas gugurnya Ipda (Anumerta) Erwin. Beliau juga menyampaikan kepada semua demonstran dimanapun, bukan cuma Cianjur, bahwa Polisi hanyalah aparat yg melakukan tindakan pengamanan, preventif. "Kami bukan melawan mereka, maka koperatifnya terhadap aturan pengamanan yang sudah diberlakukan. Jangan lawan kami, tapi koperatiflah dengan polisi karena kami tidak represif dalam mengawal demo. Kami tidak bawa alat untuk melawan mereka. Kami bertugas pakai hati, saya harap demonstran juga sama. Kami punya keluarga, anak, punya istri dan suami. Kalau keluarga kita mengalami hal yang sama seperti Ipda Erwin, pasti keluarga akan mengalami luka dan trauma yang mendalam. Sekarang saja Ibu-ibu Bhayangkari jadi khawatir kalau suaminya bertugas pengamanan demo karena ada kejadian kemarin.

Tapi bagaimanapun juga kami adalah pelayan masyarakat, kami akan tetap menjaga keamanan agar situasi tetap kondusif. Segala musibah kita anggap sebagai resiko tugas. Sehingga kami mohon dengan sangat agar masyarakat mendukung kami (Polri). Polisi adalah kawan masyarakat, bukan lawan."

Ibu Kapolres yang luar biasa. Semoga Polri melihat kompetensi beliau dan menjadikannya contoh buat daerah-daerah lain.

Salam hormat buat Ibu Kapolres yang bisa jadi panutan perempuan-perempuan Indonesia lainnya. Total dalam menjalankan tugas seperti yang tercermin dalam ucapan beliau : "Saya sudah berdinas jauh dari keluarga, saya tidak ingin pengorbanan anak-anak saya sia-sia. Saya akan dan harus total dalam menjalankan amanah yang negara berikan kepada saya."

Sebelum pulang saya minta foto berdua. "Mari, mari." Beliau langsung berdiri. "Duduk saja Bu / Kenapa? Tapi gak masalah, kita duduk aja." Kalo berdiri takut gue kelihatan pendek banget dan gendut. Belio tingginya nyaris se Mas Sony, 177 cm kayaknya. Sementara gue 150 aja gak nyampe.

Sumber : Status Facebook Susy Rizky Wiyantini

Wednesday, August 28, 2019 - 16:30
Kategori Rubrik: