Akar Virus Teori Konspirasi

ilustrasi
Oleh : Alim
 
Kalau dilacak lebih jauh, sesungguhnya cara berpikir ala teori konspirasi yang infeksius di kalangan umat Islam itu berakar dari perasaan kalah dan inferior (inferiority complex) yang menggerogoti mental umat Islam pasca melorotnya "kekuasaan Islam" yang konon ditandai dengan keruntuhan Kerajaan Turki Utsmani dan menurunnya peradaban umat Islam. Tapi baiknya harus dibahas lebih ke belakang lagi sampai akar penyebab turunnya kualitas peradaban Islam itu.
 
Kata guru saya, salah satu penyebab, dari sekian banyak penyebab, adalah ketidak mampuan umat Islam dalam mengambil inspirasi dari sumber otentik Islam dan merumuskannya menjadi solusi atas persoalan kehidupan faktual sesuai dengan zaman saat umat Islam itu hidup.
 
Pada zaman yang disebut sebagai zaman keemasan Islam, pengetahuan umat Islam sangat maju. Rumusan-rumusan teologis seperti ilmu kalam, ilmu tafsir, ushul fiqih, ijtihad fiqhiyyah, ilmu hadits dan lain-lain amat subur, di samping pengetahuan kealaman dan humaniora. Itu cocok untuk saat itu.
 
Saat kondisi dunia berubah, sayangnya tidak diikuti dengan banyak perkembangan yang terjadi pada rumusan-rumusan teologis untuk menjawab persoalan dunia itu. Rumusan kalam dan ushul fiqih, misalnya, tak banyak berkembang secara signifikan. Sejak dirumuskan di zaman Abbasyiyah hingga zaman post-truth ini, rumusan itu ya begitu-begitu saja. Inilah yang disebut sebagai kejumudan. Akibatnya, umat sering tergopoh-gopoh, kagetan dan terseok mengikuti perkembangan zaman karena alat ukur dan tongkat penopang berjalannya sudah emmm.. nggak enak saya ngomongnya.
Ironinya, saat ada yang mencoba melakukan ijtihad untuk mengusun rumusan baru, resistensi dari dalam tubuh umat Islam sendiri sangat besar. Tuduhan-tuduhan dilemparkan kepada para mujtahid dengan mudah, termasuk tuduhan menyelisihi syariat. Padahal yang terjadi hanya perubahan di level fiqih, misalnya, tapi tuduhannya merubah syariat. Paling ringan adalah konsepsi bahwa ijtihad tidak mungkin dilaksanakan karena kualitas orang sekarang jauh dibawah para mujtahid di zaman kerajaan dulu.
 
Kemudian karena kekalahan demi kekalahan dalam persiangan peradaban, umat Islam bukannya introspeksi ke dalam, tapi dengan cekak aos (jalan pintas) menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah karena konspirasi orang luar.
 
Ya, bisa jadi benar karena memang, kalau dalam perspektif persiangan, ya antar peradaban itu kuat-kuatan. Tinggal kita kuat atau nggak? Artinya, seharusnya kita memperkuat diri, bukan nyuruh orang lain untuk berhenti menyaingi.
 
Ini tidak. Sudah menyuruh orang lain berhenti menyaingi dengan menyebut usaha mereka sebagai konspirasi, lalu khayalan-khayalan berbumbu hoaks dilestarikan, bahkan oleh orang-orang yang mendaku sebagai ulama, ditambah kita menyalahkan dan bersaing antar umat Islam sendiri. Itu buktinya Timur tengah yang berdarah-darah. Betul atau betul?
 
Sumber : Status Facebook Alim
Friday, June 14, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: