Akankah Kekejaman 65 Terulang Bila Mereka Berkuasa Kembali?

ilustrasi
Oleh : Tito Gatsu
Sampai Hari ini isyu PKI terus dihembuskan dan saya secara pribadi sebagai anak tentara yang pro Orde Baru Masih selalu bertanya , apa sih dosa PKI sesungguhnya hingga sampai simpatisannya dibantai dengan tanpa belas kasihan dan kemanusiaan sama sekali bahkan keturunannyapun dimiskinkan dan dipersulit untuk mendapatkan pekerjaan maupun pendidikan sampai dengan Tahun 2000 di era Gus Dur barulah mereka diakui sebagai manusia Indonesia yang setara.
Pembantai dan keturunannya justru bisa Hidup dengan mewah diIndonesia selama setengah Abad dari peristiwa tersebut.
Karena dari catatan sejarah pembantaian yang dilakukan PKI hanya terjadi pada tahun 1948 itupun dibalas dengan pembantaian yang lebih besar lagi oleh TNI bahkan hampir semua anggota partai sosialis dibantai termasuk Amir Syarifudin dan Tan Malaka yang bukan dari Partai Komunis . Jika pada tahun 1965 terjadi pembunuhan 6 Jendral , misalnya didalangi oleh PKI , apakah 3 juta orang Indonesia (menurut pengakuan Sarwo Edhie Wibowo selalu komandan lapangan penumpasan PKI) harus menjadi ajang pembalasan dendam? . Sungguh Indonesia Pernah mengalami Tragedi kemanusiaan oleh bangsanya sendiri
PEMBANTAIAN SETELAH G-30S
Orde Baru lahir dengan genangan darah dan airmata. Inilah sejarah hitam
pembantaian massal yang menumpuk ketakutan. Tapi sampai kapan ketakutan
mampu ditahan?
-----------------------------
"Siapa yang bersedia dipotong lehernya dibayar seribu rupiah?" teriak Sarwo. Massa terdiam.
"Sepuluh ribu rupiah?" Massa masih diam.
"Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta?" lanjut Sarwo pada massa yang terdiam.
"Jika dibayar Rp 10 juta saja kalian tidak mau dipotong lehernya, jangan berikan leher kalian secara gratis pada PKI. Kalian lawan PKI. Jika kalian takut, ABRI berada di belakang kalian. Jika kalian merasa tidak mampu, ABRI bersedia melatih," kata Sarwo disambut sorak sorai massa.
Ucapan Sarwo Edhie benar-benar dilakukan. RPKAD melatih pemuda-pemuda maupun aktivis ormas antikomunis. Rakyat ikut bangkit melawan PKI.
Merekalah yang kelak menjadi jagal bagi para anggota PKI, atau simpatisan, atau orang yang dituding sebagai PKI. Sejarah kemudian mencatat pembantaian massal terjadi di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sarwo Edhie mencatat korban tewas tak kurang dari 3 juta orang.
Tahun 1965 bagi Indonesia sungguh menyayat hati. Apa yang kita rayakan sebagai hari "Kesaktian Pancasila" sesungguhnya adalah saling bunuh saudara sebangsa. Terlepas dari siapa yang benar ; Soekarno? Soeharto?
TNI AD? PKI? atau partai dan ormas saat itu? Peristiwa itu berbuntut ajal yang tak pasti jumlahnya. Mereka dituduh PKI, sebagian memang PKI, tapi sebagian lain tak tahu apa-apa, termasuk ibu-ibu dan anak-anak.
Berapa yang mati? Angka resmi pertama yang diumumkan di akhir 1965 adalah 78.832
jiwa. Perinciannya; korban di pihak PKI di Bali 12.500, Jawa Timur 54.000, Jawa Tengah 10.000, Sumatra Utara 2.000, sementara korban non PKI yang dibunuh orang-orang PKI tercatat 328 orang. Itu hasil Komisi Pencari Fakta dengan anggota 9 orang yang dibentuk Soekarno.
Tapi dari wawancara John Hughes tahun 1968 dengan salah satu anggota Komisi, angka yang benar adalah 780.000 jiwa (baca: tujuh ratus delapan puluh ribujiwa). Oei Tjoe Tat, Menteri Negara d/p Presidium Kabinet yang juga anggota Komisi, saat ditanya Bung Karno usai penyampaian laporan resmi menjawab 500.000 atau 600.000 korban.
Memang angka resmi baru kemudian muncul setelah Kantor Berita Antara menyatakan
ada 500.000 orang yang mati. Laksamana Soedomo dalam wawancara resmi
tahun 1977 dengan wartawan Newsweek, Bernard Krisher, mengaku ada setengah juta
korban dibunuh. Begitu banyak orang PKI yang mati dilatari dendam warga non PKI karena aksi sepihak, kampanye PKI yang begitu provokatif, hingga penculikan dan pembunuhan terencana oleh aktivis PKI. Di samping itu, pemuda-pemuda anti PKI dilatih dua-tiga hari oleh Pasukan RPKAD yang
dipimpin Sarwo Edhie, lalu dilepas untuk menggerakkan masyarakat dibawah gerakan Komite Aksi Pengganyangan.
Pembunuhan massal
Seperti mendapat pembenaran dengan maraknya demonstrasi anti PKI dan berita-berita media massa yang menyiarkan betapa kejamnya PKI membunuhi para jendral.
Koran-koran terbitan Angkatan Darat, seperti Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, koran Kristen Sinar Harapan, dan koran umum
seperti Duta Masyarakat dan Mingguan Berita, menyiarkan kekejian PKI dan ormas-ormasnya yang membunuhi para jendral dengan silet, sabit, sundutan rokok, dengan diiringi tarian cabul para Gerwani sampai memotong alat
vital korban.
Sedangkan menurut otopsi dokter yang diperintahkan Soeharto, para jendral mati karena tembakan, sama sekali tak ada luka
pukulan atau akibat senjata tajam, sedangkan lebam di kulit diakibatkan benturan saat korban dijatuhkan ke sumur Lobang Buaya (Anderson, 1987).
Tapi dendam dan pengkondisian anti PKI terlanjur menyulut pembantaian.
Cara-cara yang digunakan sering di luar nalar, sampai Mayjen Achmadi-Menteri Penerangan yang juga anggota Komite Pencari Fakta- mengucap,
"Wah terlalu, kok bangsaku bisa begitu kejam".
Di Jakarta, menurut pelaku, mereka menjerang air dalam drum sampai mendidih. Seorang aktivis IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) diikat dengan kepala di bawah lantas dicelupkan ke air yang menggelegak itu. Saat diangkat, kulitnya melepuh, sebagian terkelupas matang, dan kedua bola matanya meletup.
Sebuah keluarga, suami-isteri dan anak-anak, semuanya dibunuh. Jenazah
seluruh keluarga ditusuk dengan sebatang bambu, masuk dari dubur dan
keluar pada kerongkongan, kemudian diarak berkeliling untuk tontonan umum.
Di Jawa Tengah, menurut fakta yang ditemukan H.J. Princen, 800 orang dibunuh massal dengan pukulan batang-batang besi ke kepala. Pembantaian itu terjadi setelah dua bulan penggulungan atas orang-orang yang dinyatakan sebagai komunis, yang sebelumnya dijebloskan dalam kamp-kamp tahanan di Purwodadi, Gundi dan Kuwu.
Interogator dari Batalyon 404 dan 409 menggunakan listrik untuk menstroom alat vital para tahanan demi mengorek info gerakan bawah tanah PKI.
Saksi mata mengatakan pada Princen bahwa Let.Kol. Tedjo Suwarno adalah orang yang memerintahkan pembantaian massal di Purwodadi. Para pemuka umat diancam agar tidak lapor ke Semarang.
TNI AD membantah bahwa telah terjadi pembantaian massal di Jawa Tengah. Panglima Kodam VII (kini IV) Mayjen. Surono mengatakan bahwa para tahanan ditembak saat hendak melarikan diri. Sementara yang lainnya mati karena bunuh diri dipenjara.
Massa PKI di Jawa Tengah dan DIY memang cukup besar. Di Yogya, Kol.Katamso dan Let.Kol. Sugijono mati dibantai PKI. Oleh sebab itu Kol.Sarwo Edhie Wibowo meminta Soeharto agar pasukannya (RPKAD) dikonsentrasikan di Jawa Tengah.
Sarwo Edhie terkenal berdarah dingin.
Ia pernah memerintah langsung eksekusi atas perempuan-perempuan yang dituduh Gerwani. Ketika penduduk desa kasak-kusuk tak puas atas pembunuhan itu, seluruh desa disukabumikan.
Di Jawa Timur, Gatot Lestario (tokoh PKI) sebelum dieksekusi sempat membeberkan pembelaan di pengadilan (banyak eksekusi kasus PKI tanpa pengadilan) betapa "inovatif", "kreatif" dan "kompetitif" para algojo terhadap korban-korban mereka. "Sadisme dan penyiksaan tak manusiawi yang tak terperikan," gugat Gatot, "Menyertai pembantaian-pembantaian massal.
Keluarga-keluarga secara keseluruhan dihabisi, di mana anak-anak satu demi satu dibunuh di depan mata orang tuanya hingga akhirnya tiba
giliran sang ayah. Seorang perempuan dibunuh dalam keadaan hamil.
Perempuan-perempuan dengan anak-anak di pinggul mereka dibunuh di pesisir-pesisir sungai.
Ada kompetisi dilakukan dalam pembunuhan, siapa yang terbaik membelah dalam sekali bacok dari atas ke bawah akan memperoleh hadiah ekstra (ini terjadi di Singosari). Banyak pembunuhan terjadi di pesisir-pesisir sungai, agar dengan demikian orang tak perlu lagi menggali kuburan.
Kepala-kepala yang telah dipenggal digantungkan di pasar-pasar, di depan rumah, di pinggir jalan, beberapa di antaranya dilabur dengan kapur.
Mayat-mayat perempuan dengan bayi susuannya mengapung di Kali Brantas dan di sungai Bengawan Solo, di Bojonegoro banjaran mayat-mayat diikat satu menjadi rakit. Pada sebuah jembatan di lingkungan Babat yang telah berfungsi sebagai rumah potong manusia, aliran dari gumpalan-gumpalan darah membuktikan betapa banyak orang yang
telah dibunuh di situ.
Sejumlah korban dibunuh secara perlahan-lahan, dengan cara memotong anggota-anggota badannya satu demi satu, yang
lainnya dipaksa terjun ke dalam parit untuk ditanam di situ hidup-hidup..."
Di Jawa Barat, menurut John Hughes (Indonesian Upheaval) dan Robert Cribb (The Indonesian Killings), kekerasan massa tidak merajalelakecuali di Indramayu, antara Subang dan Cirebon. Meski dekat dengan pusat kekuasaan, pendukung PKI di daerah ini relatif sedikit. Hanya di Indramayu PKI punya massa karena wilayah ini selalu miskin. Alasan lain,
dendam terhadap orang-orang PKI tidak begitu terasa di Jawa Barat. Meski bukan berarti tak ada kebengisan, seperti pengiriman kepala tanpa badan seorang tokoh PKI kepada keluarganya di rumah.
Di Aceh, pengganyangan dikomandani Kolonel Ishak Djuarsa. Semua orang PKI di Aceh binasa, tidak hanya kader-kader tapi juga seluruh keluarga,bahkan para pembantu-pembantu rumah mereka.
Di Medan, kantor SARBUPRI/SOBSI diserang saat ada rapat. Gedung tingkat tiga itu disiram
bensin dan dibakar.
Para aktivis serikat buruh yang panik mencoba
menyelamatkan diri. Tapi begitu keluar dari pintu, mereka segera disambut dengan berondongan peluru atau keroyokan orang ramai.
Melihat tak ada lagi jalan keluar kecuali maut, sebagian menyelimuti tubuh
dengan bendera serikat buruh atau spanduk merah dengan menyerukan slogan
"Hidup SARBUPRI, Hidup SOBSI," lalu terjun ke jilatan api. Tindakan itu makin menyulut kemarahan penyerbu yang banyak di antaranya adalah aktivis Pemuda Pancasila, sehingga korban yang terbakar itu diseret dari
api, kepalanya dipenggal dan ditendang tendang bagai bola mainan.
Di Bali, pembunuhan massal berlangsung tak kalah mengerikan. "Teror massa", sebuah term yang populer di Rusia jaman Stalin, justru dirasakan orang-orang PKI. Mereka dengan perasaan takut dan tiada harapan menyerahkan diri untuk diapakan saja oleh penguasa. Hal ini dilakukan untuk menghindari siksa aniaya oleh massa lawan politiknya.
Sebulan setelah peristiwa 1 Oktober 1965, Gubernur Bali, Sutedja (tokoh PKI) masih berkuasa. Ketika ditanya Bung Karno di hadapan Sabur, Chaerul Saleh, dan pejabat lain, apakah dia PKI? Sutedja menjawab bahwa itu
hanya fitnah belaka.
Para pejabat Bali yang punya sangkut paut dengan PKI mulai cuci tangan. Saat itu kabar tentang pembantaian di Jawa Tengah
dan Timur telah santer terdengar di Bali.
Rakyat menunggu ABRI. Tapi rupanya pimpinan ABRI di Bali, khususnya
Pangdam Sjafiuddin pun menunggu siapa yang akan menang di Jakarta.
Sebetulnya istri Sjafiuddin sendiri adalah simpatisan Gerwani. Ketua DPRGR I Gusti Media, Ketua Bamumas I Gede Puger, Ketua Lembaga Pariwisata Ida Bagus Komjang juga tokoh-tokoh PKI.
Namun ketika gelagat Bung Karno kalah kian menguat, para pejabat itu mulai menghilangkan jejak.
Dan pembunuhan, adalah jalan paling cepat dan aman sebab orang mati tidak akan bisa bersaksi. Orang-orang Nasakom yang
berkuasa di Bali ingin menunjukkan bahwa merekalah yang paling anti PKI dan paling Pancasilais.
Wedagama (tokoh PNI) menghasut rakyat bahwa membunuh PKI dibenarkan oleh
Tuhan dan tidak akan disalahkan hukum. Wijana, yang mengaku masih kerabat Bung Karno, menyatakan bahwa mengambil barang-barang PKI bukanlah pekerjaan yang melanggar peraturan. Pembakaran rumah orang PKI dianjurkan sebagai warming up. Dan akhirnya pembunuhan itu pun berlangsung di seluruh pelosok Pulau Dewata. Menurut Soe Hok Gie yang menggunakan nama samaran Dewa dalam tulisannya di Mahasiswa Indonesia (Des'67), pembunuhan massal di Bali telah memakan korban sedikitnya
80.000 jiwa. Korban material tak terhitung. Sementara itu pemerkosaan terhadap mereka yang dituduh anggota Gerwani merajalela. Widagda, tokoh PNI adik Wedastra Suyasa yang jadi anggota DPRGR Pusat, diketahui umum telah memperkosa belasan wanita yang dituduhnya Gerwani.
Anak Agung Made Agung, Kepala Djawatan Penerangan Bali diculik dandibunuh.
Terbukti kemudian pembunuhan itu direncanakan wakilnya yang ingin menduduki jabatan kepala. Sedangkan Lie Lie Tjien, pengusaha yang jadi kasir PKI, selamat jiwa dan hartanya karena menyogok Widjana
birokrat Bali Utara.
Saingan Lie Tjien, Tjan Wie difitnahnya hingga
gudang kopi milik tauke itu diserbu massa dan ratusan ton kopi dibuang berserakan di jalan-jalan Singaraja. Tjan Wie pun jadi gila setelah
peristiwa itu.
Begitulah..., fitnah, pemerkosaan dan pembunuhan massal terjadi di berbagai pelosok tanah air. Indonesia yang "hamil tua" akhir-nya melahirkan Orde Baru dengan genangan air mata dan darah. Siapa yang
salah, barangkali bukan pertanyaan yang relevan sebab tak menyelesaikan
persoalan. Yang terjadi adalah amok.
"Amok ya karena orang tidak berani, ketakutan yang menumpuk...
menumpuk... menumpuk.
Kelihatannya damai, indah, tapi 10 tahun kemudian meledak," ujar Romo
Mangunwijaya.
Banyak Orang yang menutup mata bahkan hatinya dengan bangga menjadi pelaku dan bahkan bangga mendukung rezim yang membantai lebih 500.000 orang lebih bahkan menurut Jendral Sarwo Edhie Wibowo sebelum beliau wafat dihadapan anggota DPR RI Pada tahun 1989 ia membunuh 3.000.000 jiwa dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan.
Tentunya Kita tidak Ingin menyalahkan siapa pihak yang benar maupun salah tapi yang jelas banyak rakyat Tak berdosa menjadi korban perseteruan politik .
Lebih jauh apakah kebohongan untuk menutupi sejarah kelam Indonesia yang Pernah tercatat menjadi Negara pembantai manusia (Genosida) terbesar sepanjang masa diurutan no. 8 Guiness World Records (Wikipedia) terus dibiarkan? dan dendam orang-orang yang pernah diperlakukan secara tidak adil diharuskan Tetap memelihara dendam ?.
Semoga dipikirkan bahwa Negara Akan maju bila bisa berdamai dengan kenyataan
Gubernur Lemhanas Letjen (Purn) Agus Widjojo yang juga putra Mayjen (anumerta) Sutoyo korban G30 S , menuturkan :
"Masyarakat harus mampu mengadakan refleksi melihat peristiwa 1965 dari sudut pandang Indonesia Sekarang.
Sekarang ini masih banyak yang menempatkan dirinya dalam tragedi 1965. Jadi pertentangan 1965 masih ada dalam hati mereka sekarang ini.
Harusnya mereka lepas. Lihat tragedi 1965 itu secara reflektif dan secara objektif dan percaya bahwa tujuan rekonsiliasi ini mulia. Rekonsiliasi bukan untuk menghukum atau menjustifikasi siapa salah dan siapa yang benar, melainkan untuk kepentingan bangsa agar bisa maju.
Harus bisa berdamai dengan masa lalu, dan mengambil pelajaran apa yang salah pada masa lalu sehingga bisa saling bunuh dalam jumlah yang besar. Itu penting dan tidak merugikan siapapun".
Semoga Indonesia menjadi negara yang adil , makmur dan maju yang masyarakatnya jujur, bermartabat dan selalu membela kebenaran , masyarakat yang bukan hanya rerilijius tapi bisa dipercaya dan selalu berpikir untuk kemajuan dan saling mencintai sesama anak bangsa yang mendahulukan kemanusiaan daripada yang lain serta cinta tanah air bangsa dan negara Indonesia .
Wallahu'alam bishowab,
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu
Thursday, January 21, 2021 - 08:30
Kategori Rubrik: