Akankah Jonru Balik Melaporkan Agus Suparto?

 

Oleh: Tante Paku

Jonru kembali berulah karena merasa selalu aman dalam menebarkan berbagai kebohongan untuk menyudutkan dan menghina Presiden Jokowi. Aman dalam arti belum ada yang mampu menghadapinya di dunia nyata untuk menjerat dengan hukum yang berlaku.

Terlalu banyak memang penipuan yang sudah Jonru lakukan untuk mengelabui pengikutnya, misalnya pernah mengutip tajuk utama majalah The Geo Times di fans page-nya dengan kalimat: "Kepala Kosong Menuju Paris. Itulah judul headline majalah The Geo Times Vol. 02 No. 37". Apa tujuan si Jonru itu? Jelas ingin mengolok-olok Presiden Jokowi dengan dasar sampul majalah tanpa membaca isinya. Dengan kata lain, Jokowi adalah figur presiden yang berkepala kosong, begitulah pola pikir Jonru. Lagi pula, apakah Geo Times adalah narasumber kredibel dibandingkan NatGeo atau New York Times ketika memberitakan tentang Jokowi?

Tentu saja masih banyak netizen yang tidak percaya dengan ocehan Jonru. Bahkan, tak sedikit netizen yang sudah memahami bahwa yang berkepala kosong adalah si Jonru sendiri. Bila dibandingkan Jokowi, apa sih prestasinya untuk rakyat negeri ini?

Kini Jonru mengira telah mendapatkan celah saat melihat foto Jokowi sedang berlibur di Raja Ampat. Ia meragukan keaslian foto tersebut demi melecehkan hasil juru foto kepresidenan tersebut. Foto Jokowi dituduh editan, alias menggunakan perangkat lunak Photoshop tanpa dasar kemampuannya di bidang fotografi. Cara yang ia gunakan seperti melempar kepada pambaca untuk mencari pembenaran.

Cara untung-untungan yang digunakan Jonru mudah sekali ditebak. Kalau benar foto Jokowi dibuat menggunakan Photoshop dengan cara tumpang tindih gambar, Jonru pasti berlagak jadi pahlawan kesiangan karena berhasil membongkar ‘kebohongan’ Jokowi saat berpose di Raja Ampat.

Kebohongan Jonru sendiri yang justru terbongkar, dan ia buru-buru menghapus posting-annya (seperti kebiasaannya bila ketahuan bohongnya karena Jonru sudah berulangkali melakukan cara demikian). Setelah ketahuan, dan mendapat kecaman banyak pihak, ia bersandiwara melakukan khilaf dan pura-pura meminta maaf disertai berbagai alasan di laman fan page-nya.

Kata ‘maaf’ mungkin bisa saja dimaafkan secara manusiawi, tapi apakah semua akan selesai begitu saja dengan kata maaf? Bila nanti ia mengulangi lagi, terus kembali diselesaikan dengan maaf? Salah lagi minta maaf lagi, salah lagi minta maaf lagi, sampai kapan sadarnya bila selalu mengulangi perbuatan busuknya itu?

Fotografer Istana

Terakhir saya bertemu fotografer pribadi Jokowi, mas Agus Suparto saat melayat ibundanya yang meninggal di Yogyakarta, Desember 2014 kemarin, dan dikebumikan di Pracimoloyo bersanding dengan suaminya yang pejuang bangsa karena makam Ayahanda Agus Suparto ditancapkan bendera Merah Putih di nisannya. Seperti biasanya, seorang fotografer memang selalu menenteng kamera di mana saja berada.

Agus Suparto ini sebenarnya fotografer khusus pesawat terbang. Nah, bisa kita bayangkan sendiri tingkat kesulitannya, selain itu beliau juga mengajarkan keahliannya itu di beberapa tempat selain menjadi fotografer pribadi Jokowi di Istana Negara atau bila sedang diajak ke luar kota. Hasil jepretan beliau tak perlu diragukan lagi. Beberapa adegan selalu ditembak dengan beberapa kali jepretan, artinya yang diunggah untuk media pastilah hasilnya yang terbaik dari sekian bidikannya. Membidik Kepala Negara tentu lebih mudah daripada memotret pesawat terbang, apa perlu Agus Suparto minta bantuan Photoshop demi pencitraan? Saya belum pernah mendengar ceritanya beliau melakukan Photoshop untuk mengejar pencitraan di media. Semua yang disebarkan ke berbagai media itu murni hasil jepretannya dan secepatnya disebarkan saat acara selesai agar publik dapat mengetahui segera. Media pers pun menerima foto-foto terbaik untuk pemberitaan mereka.

Saling Lapor

Bahwasannya di tengah peradaban kita yang semakin tinggi dengan arus informasi teknologi, manusia kian merana dan mati karena kekurangan informasi. Dan itulah yang kerap diidap Jonru saat mengutip sumber berita atau foto berita, tanpa melacak dengan teliti dan hati-hati, tapi langsung mengklaim keabsahannya. Begitu mengenaskan cara kerja Jonru yang dianggap ‘nabi’ oleh sebagian umatnya itu.

Merasa integritasnya dilecehkan, Agus Suparto pun ambil tindakan untuk melaporkan lewat jalur hukum. Apakah ini sekedar gertakan atau sungguhan? Tentu saja kita tidak ingin mendengar bahwa itu gertakan semata. Apabila hanya gertakan saja pasti Jonru akan terbahak-bahak semakin melecehkan, dan suatu saat akan melakukan pelecehan yang sama dengan topik yang berbeda walau tetap bertujuan sama, yaitu menghina Presiden Jokowi. Dengan meragukan hasil foto Jokowi di Papua itu dan ternyata ia sendiri yang keliru, apakah menjadikan Jonru sebagai korban ketidakadilan karena akan dilaporkan fotografer Presiden?

Kondisi yang terjadi kini seolah Jonru vs Agus Suparto. Tentu menurut saya, Jonru juga tidak tinggal diam. Pihak Jonru kemungkinan akan menentukan batas waktu. Jika dalam rentang waktu itu, saudara Agus Suparto tidak ada laporan ke Bareskrim maka Jonru akan balik melaporkan Agus Suparto dengan dalih segala macam.

Bukan sekadar berspekulasi, kemungkinan itu jelas ada lantaran Agus Suparto telah menganggu kerjanya di dunia maya, serta tidak bisa membuatnya tidur nyenyak beberapa saat. Entah mau melaporkan ke DPP PKS atau ke Presiden PKS, belum jelas informasi yang saya dapatkan. Baiklah, kita tunggu saja siapa yang duluan melaporkan itu. Terlebih lagi jika ia hendak melaporkan ke kepolisian, tentu langkah pertamalah yang terasa paling sulit. Namun, kalau Jonru memang gentle serta merasa benar tidak menuduh, justru seharusnya Agus Suparto telah dilaporkan dengan alasan mencemarkan nama baiknya. Dengan demikian, penyelesaian polemik tersebut bisa dituntaskan di pengadilan; siapa sesungguhnya yang melakukan fitnah.

Terlepas dari permasalahan ini, seharusnya Jonru menyadari bahwa kini rakyat sudah melek politik. Rakyat selalu mengawasi dan mengawal kinerja pemerintah. Di sisi lain, rakyat juga telah cerdas memilih dan memilah mana berita sungguhan dan mana yang fitnah.

Salam NKRI Raya!

 

Sumber tulisan: Kompasiana

Sunday, January 3, 2016 - 22:15
Kategori Rubrik: