Ajal dan Akal

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Bulan-bulan ini Allah lagi sibuk menerima doa minta ampun manusia karena serangan corona, doa minta di selamatkan, dan kelakuan para cheerleader yg terus meneriakkan adanya pembelaan dari Tuhan dan menjaganya kl mereka shalat berjamaah di masjid yg sudah di larang para ulama dan pemuka agama serta pemerintah sbg penerus nabi menjadi ulil amri.

Terjadinya penyebaran yg di akibatkan oleh kelompok ijtimak dunia yg berkumpul di Gowa, dan para pembawa lainnya yg tak mau jujur atas dirinya, atau malu menunjukkan sakitnya, merekalah golongan yg tak memakai pikirannya secara optimal. Akalnya kenyal, mendal !

 

Dalam ceramah medsosnya KH. Supandi mengatakan ; yang gak kelihatan bukan berarti tak ada, dan yg kelihatan belum tentu ada. Ini menyangkut cara berfikir. Kepalanya ada, isinya ada tapi tak digunakan sebagaimana mestinya, ini yg disebut ada dan tiada. Kelihatan bentuknya tapi tidak ada fungsinya. Sekarang kita banyak menemukan manusia jenis ini, ceriwis nyinyir, tapi tak berguna.

Pemerintah kerja di sergah, semua salah. Yg diatas asal mangab yg di bawah ikut pengab. Politik adu dombanya nggak ada jedanya, rasa kemanusiaannya lepas dari batin dan akhlaknya. Mereka berkumpul dalam satu wadah manusia berpendidikan tapi tak berperikemanusiaan. Belum lagi manusia yg gila dalam beragama, semua dia buat sama rata, urusan akhirat dibawa kedunia, urusan dunia dibawa ke alam baqa. Nabi konon di tauladani, tapi mulutnya terus memaki. Kalau cerita nabi nyuapi orang buta Yahudi, tapi sekarang agama lain di maki-maki. Ini yg dikatakan pikirannya nggak nyekrup dgn kelakuan.

Dalam tulisan EJB bahwa rasa syukur kita di Indonesia dlm kondisi terwabah masih bergeliat ekonominya walau kesulitan memghantam semua lapisan. Venezuela negara yg pongah dgn ladang minyaknya, sekarang rakyatnya bak rayap kering di tengah wabah Covid19, Inilah negara salah kelola, inflasi ribuan %, mata uangnya tak berguna. Beli roti, lebih berat timbangan uangnya dari berat rotinya. Pembanding yg jelas sekarang UMRnya mereka adalah kira-kira, Rp. 4,3 jt. Harga disinfektan sebotol 4,1 jt. Pilih obat nggak makan, pilih makan nggak berobat. Ini akibat ulah pemimpin yg keren berpopulis, rakyatnya sekarang mati di tengah pilihan antara obat dan makanan.

Kita menerima banyak kasus kekonyolan kaum beragama pakai banyolan, di Pujon Malang nyaris satu pasar terkena Covid19 karena kengeyelan dan ketololan. Dan banyak cerita lain yg sama, di Cilacap, NTB, dst. Semoga saja dalam sisa waktu kedepan kedisiplinan bisa di tingkatkan dan kita terhindar mati konyol karena ulah dari orang yg kepalanya diisi botol.

Mari laksanakan kewajiban kita sebaik-baiknya, selebihnya serahkan kepada Tuhan. Itulah tawqal, bukan bebal pakai akal-akalan. 

TUHAN MENOLONG MEREKA YG MENOLONG DIRINYA SENDIRI.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, May 3, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: