"Aisyah Biarkan Kami Bersaudara", Sebuah Review Santai

Oleh: Mumu Aloha
 

'Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara': Sebuah Review Santai

Pulang dari liburan ke Lombok, saya tergopoh-gopoh nonton film ‘Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara’. Film islami yang lain? Jenis film yang memadukan nilai-nilai religi dengan traveling? Tak ada informasi sama sekali, sekali posternya yang tak menggugah selera, dan judulnya ya lebih mirip judul paper mahasiswa antropologi semester satu tentang agama dan nasionalisme.

Lalu, kenapa saya tergopoh-gopoh? Gara-garanya, seorang filmmaker high maintanance asal Jogja yang sudah punya reputasi internesyenel memuji film tersebut. Asal tahu saja, orang ini seumur hidupnya belum pernah memuji film Indonesia, kecuali yang dibintangi oleh Nicholas Saputra. Bisa dibayangkan, ketika tiba-tiba ia memuji sebuah film dengan judul dan poster yang mudah diprasangkai sebagai film yang hanya ikutan tren pasar, bagaimana mungkin saya tidak tergopoh-gopoh. Kiamat pasti sebentar lagi tiba. Inilah kesempatan terakhir saya untuk menonton film karya anak bangsa.

Sebenarnya says velum visa “move on” dari liburan saya ke Lombok itu. Tapi, apa boleh bikin, tugas saya sebagai pengamat dan kritikes yang berbudi luhur dan penuh dedikasi telah memanggil-manggil. Eh, lha kok ndilalah kersaning allah, ternyata garapan sutradara Herwin Novianto (setelah ‘Tanah Surga Katanya yang memenangkan film terbaik FFI) yang dibintangi Laudya Cynthia Bella (LCB) ini berlatar Indonesia Timur, tepatnya NTT, jadi tak jauh-jauh dari lokasi liburan saya kemarin. Horeee…saya seperti kembali!

Tapi saya salah duga. Harapan saja pupus. Saya mengira akan mendapatkan gambar-gambar eksotis ala film-film produksi Alenia yang boleh dibilang sudah khatam dengan film-film yang mengangkat Indonesia Timur. Film ini malah membuat hati saya merana pedih perih tercabik-cabik karena memperlihatkan kehidupan sosial masyarakat NTB yang di saat kemarau susah air. Atau, tak usahlah menunggu kemarau, dalam keseharian penduduk setempat harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, itu pun cuma satu-dua jerigen saja. Mereka makan hanya dengan nasi jagung, sayur yang direbus dan ikan asin yang digoreng begitu saja. Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari mereka harus ke Atambua yang jauh jaraknya.

Dan, tokoh utama kita, ibu guru muda kita yang cantik, yang diperankan oleh LCB itu, harus ke padang terbuka untuk mendapatkan sinyal guna menelepon ibunya nun di Ciwidey, Bandung sana. Tapi, Bu Guru kita Aisyah ini jelas bukanlah bintang tamu reality show “Jika Aku Menjadi" yang menye-menye jualan airmata keharuan palsu kenikmatan empati semu sesaat. Sebagai sarjana yang selalu ingat nasihat almarhum ayahnya, ia selalu bertekad untuk menjadi “sarjana kelas satu” yang mengabdi dengan tulus untuk kemaslahatan umat. Maka, penugasan ke NTT itu dijalaninya dengan bulat, bahkan sampai harus bersitegang dengan ibunya (diperankan oleh Lydia Kandou), yang sangat mengkhawatirkannya (karena NTT bukan Banjarnegara yang masih di wilayah Jawa Barat).

Aisyah sendiri menyambut gempita penugasan ke NTT itu, harus jujur diakui, juga karena Si Aa (diperankan oleh comic Ge Pamungkas), teman masa kecilnya yang kini jadi incarannya, mendadak sontak dengan santai bilang mau bertugas ke Aceh. “Mau ke Aceh kok kayak bilang mau ke Cirebon saja,” Aisyah bersungut-sungut sambil menangis baper manja kecewa di depan ibunya. Hatinya seperti hancur jadi debu. Si Aa ternyata tidak peduli dengan perasaannya!

Bumbu-bumbu drama cinta seperti itu membungkus keseluruhan kisah film ini, yang sebenarnya memiliki banyak cerita lain yang hendak disampaikan, seperti tersirat dari judulnya. Biarkan Kami Bersaudara? Tak terlalu sulit, bukan, menebak ke mana arah film ini? Menjadi guru di NTT, tentu saja bukan sekadar soal harus jalan kaki puluhan kilometer, seperti sudah dibayangkan oleh Aisyah. Namun, ternyata juga ada penolakan yang tak pernah diduganya. Dalangnya adalah seorang murid yang berperawakan paling besar di antara anak-anak kelas 5 lainnya yang menjadi tanggung jawab Bu Aisyah. Ia menghasut teman-temannya untuk meninggalkan kelas, karena ibu guru yang berjilbab itu adalah orang Islam yang kehadirannya membawa misi jahat untuk menghancurkan gereja-gereja.

Penduduk desa yang mayoritas Katholik, di sisi lain, justru sejak awal menyambut hangat kehadiran sang ibu guru yang dikirim dari yayasan di Jawa, tanpa mempersoalkan perbedaan agama. Menarik sekali bagaimana film ini menggambarkan awal pertemuan dua pihak ini, yang diwarnai dengan kesalahpahaman. Sang Kepada Dusun tidak bisa membedakan kerudung orang Islam dan kerudung suster Katholik. Sang guru yang baru datang itu pun dikirianya Suster Maria, dan sudah disambut dengan jamuan daging babi.

Begitulah, isu pluralisme ditelusupkan dalam film ini dengan lembut, tanpa simbol-simbol klise artifisial yang dipaksakan. Tanpa kotbah yang tegang, melainkan justru dengan adegan ringan nan kocak yang memancing tawa riang. Perbedaan agama dibicarakan secara terbuka, terang-terangan, tapi dengan nada yang santai, apa adanya. Problemnya kemudian adalah, apakah konflik-konflik ini cukup kuat untuk menggerakkan alur film ini menjadi sebuah tontonan yang cukup mengikat penontonnya, dan membekaskan kesan yang utuh sehingga sulit terlupakan?

Jujur saja, saya memang tak bisa berharap lebih. Menyaksikan pelawak modern seperti Arie Kriting berakting “serius” dengan karakterisasi yang kocak tapi proporsional saja sudah membuat saya terhibur. Mau minta apa lagi? Di film lain, penokohan seperti ini bisa terjatuh menjadi karikatur yang dieksploitasi secara berlebihan. Hebatnya Arie, yang menjadi salah satu pilar kekuatan film ini karena porsi perannya yang cukup besar, ia tahu sebatas apa dirinya boleh dan bisa melawak di film ini, sehingga kehadirannya tak hanya menjadi penting, tapi juga tak tergantikan. Dan, bagi LCB, film ini adalah salah satu panggung bagi penampilan terbaiknya. Ia bisa menahan diri untuk tak terlalu “centil” seperti ketika tampil dalam film sebelumnya, ‘Assalamualaikum Beijing'.

Namun, tak bisa berharap lebih bukan berarti pasrah (emangnya saya cowok apaan). Secara keseluruhan, saya menikmati film ini. Saya tertawa dan mbrebes mili. Tapi, film ini curang. Ia membuat saya menangis karena adegan perpisahan memang tak pernah gagal membuat orang menangis. Saya lebih ingin dibuat menangis misalnya karena perjuangan jatuh-bangun Ibu Guru Aisyah yang berdarah-darah. Itu yang kurang digali dari film ini. Semua konflik hanya disentuh di permukaan, ya hanya sekadar agar ada konflik. Konflik-konflik itu, dari penolakan sang murid antagonis, masa kemarau dan ketiadaan air bersih hingga keinginan Aisyah mudik Lebaran…terasa lebih sebagai sebuah rentetan sketsa ketimbang kesatuan alur yang runut bulat-utuh gurih renyah. Film ini seperti membebani dirinya untuk berpacu dengan waktu, sehingga lupa menseriusi konflik(-konflik)nya. Tiba-tiba Natal kurang dua minggu lagi. Tiba-tiba bulan puasa "su" dekat. Tiba-tiba Aisyah harus mudik. Dan, tiba-tiba Si Aa….ups, hampir saja spoiler!

Jadi, kesimpulannya yes apa no? Begitu teman saya si Tata Surya yang lucu dan ceria akan mengunci diskusi yang biasa kami lakukan sehabis nonton film. Dengan segala kritik saya di atas, tanpa ragu-ragu dan tanpa tedeng aling-aling, serta tanpa adanya paksakan serta tekanan dari pihak manapun, dari lubuk hati yang paling dalam, dengan tulus ikhlas dan penuh rasa bangga, saya nyatakan: yes. Jadi, silakan tergopoh-gopoh menonton!

 

(Sumber: Facebook Mumu Aloha)

Tuesday, May 24, 2016 - 17:00
Kategori Rubrik: