Air Mata

ilustrasi

Oleh : Diding Sukowiradi

Air mata--yang jatuh itu tak sekadar berpedih sedih--bak orang yang lagi putus cinta. Tapi lebih berbicara duka lara, atas keserakahan sesama manusia.

Ketika air mata itu jatuh berlinang, kiranya begitulah yang mewakili air mata kita semua. Karena dia berasal dari orang biasa, seperti kebanyakan dari kita.

Tentu dia tak bicara atas dan buat mempertentangkan pertarungan antar kelas sosial yang ada. Tapi lebih kepada keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Lantas, bagaimana kita memaknai seseorang yang bergelora berteriak akan ketimpangan sosial--padahal dia sendiri termasuk didalamnya-- yang memperkosa ketimpangan itu sendiri guna sekadar beragitasi ?

Dan orang itu bukan dari kalangan rakyat biasa, seperti kita kebanyakan anak negeri ini.

Itulah mengapa, kita semua mesti selalu ikut menggelorakan: "orang biasa, sebaiknya memilih orang biasa". "Orang baik, sepatutnya memilih orang baik pula".

Bukankah air mata, itu lebih bermakna daripada janji sejuta kata?

Bukankah saat kita berkuasa, itu lebih bermanfaat digunakan kekuasaannya untuk membela kepentingan bersama, seluruh anak negeri sebangsa?

Lantas....

"Jika negara meminta, akan Saya kembalikan", katamu bergelora.

Bukankah itu hanya caramu berkelit? Bukankah negara tak serta merta bisa meminta? Bukankah disitu ada kontrak hukum yang mesti dipenuhi? Jangan-jangan itu sekadar bualan disiang hari? Malah bisa jadi sebuah perangkap, jebakan batman, yang kamu pasang?

Jadi, jika air mata itu mewakili keinginan anak negeri, maka bersukarelalah kamu yang menunaikannya.

Jika tidak--geloramu itu tak lebih dan tak bukan--bualan air mata buaya, sekadar buat mendulang suara.

Suaraku bukan untukmu yang cuma pandai bersuara.

Suaraku lebih memilih air mata itu. Karena disana ada cinta sejati...
Dan sehatiiii....

Sumber : Status Facebook Diding Sukowiradi

Tuesday, February 26, 2019 - 09:00
Kategori Rubrik: