AIDS

ilustrasi

Oleh : Atoillah Isvandiary

Di hari AIDS hari ini, saya jadi ingat hal ini: Waktu kecil dulu saya memiliki saudara jauh yang cukup dekat (bingung ya, hehehe). Seingat saya, waktu kecil dulu sangat lucu.

Waktu berlalu. Lama tak bertemu, dua puluh tahun kemudian ketemu secara tak sengaja di Unit Penyakit Infeksi suatu RS pemerintah di Surabaya, kali ini saya sebagai dokter yang sedang meneliti HIV, dan dia sebagai responden pasien HIV. Tentu pertemuan mengejutkan yang dirindukan, tapi tak dikehendaki.

Waktu itu usianya awal 20 an. Jadi dengan asumsi masa inkubasi dan stadium infeksi HIV mulai stadium 1 hingga AIDS antara 5 hingga 10 tahun, maka kemungkinan ia tertular bukan dari hubungan seksual, tetapi dari narkoba suntik, karena berarti tertular pada usia yang masih awal SMP. Keluarganya cukup religius, tapi namanya salah pergaulan bisa terjadi pada siapa saja.

Ia akhirnya hijrah. Minimal saya lihat dari atribut2 hijrah yang dikenakan. Good for him. Alhamdulillah. Tapi yang bikin saya ketir ketir, belakangan akhirnya saya dengar ia dinikahkan dengan gadis dari komunitas hijrahnya. Yang bikin saya ketir ketir adalah: apakah ia sudah memberitahukan status infeksi HIV nya pada istrinya yang bercadar itu. Hingga sekarang, saya belum sempat dan memang berat untuk menanyakan hal itu.

Dan memang tidak sempat lagi. Beberapa tahun lalu ia wafat dalam usia yang cukup muda karena penyakitnya. Dan hingga sekarang saya masih kepo apakah ia sempat punya anak dengan istrinya, yang artinya, ia melakukan hubungan suami istri tanpa kondom, dan itu sangat berisiko menularkan HIV nya pada istri dan anaknya yang ditinggal mati. Saya tak sempat bertemu keluarganya lagi.

Saya tak terlalu sering ketemu pasien infeksi HIV. Tapi dari yang tak sering itu, kasusnya cukup unik2. Ada wanita seorang eksekutif muda, yang terinfeksi HIV dari darah yang terkontaminasi saat transfusi ketika menjalani operasi Caesar, ada seorang gadis korban perkosaan beramai ramai yang salah satu pemerkosanya ternyata pengidap infeksi HIV, ada anak jalanan usia 15-20 tahunan yang, saya kira terinfeksi akibat narkoba tetapi ternyata sejak usia 10 tahun sudah jadi langganan seorang PSK setengah tua yang butuh uang di makam kembang kuning, dll.

Hingga hari ini pun, di salah satu RS terbesar di Surabaya hampir tiap hari ada pasien baru yang terdiagnosis infeksi HIV, sebagian besar ibu ibu rumah tangga yang berjilbab. Artinya, mereka ini ibu ibu sholihah, yang mungkin kurang beruntung punya suami yang kurang Sholeh yang suka bermain online. Prostitusi online maksudnya. Karena sejak penutupan lokalisasi di surabaya, mereka kini beroperasi langsung ke ruang privat, memanfaatkan mobile apps dan media sosial. Setiap hari di marketplace medsos ini sering saya jumpai iklan terselubung yang menawarkan "jasa" pemuas nafsu laki-laki online. Mungkin juga gay, hanya saja di time line saya, sumpah, nggak pernah nongol, hehehe.

Artinya, hingga hari ini, ancaman AIDS masih besar dan malah semakin dekat, karena Indonesia menjadi negara terbesar ketiga prevalensi AIDS di Asia Tenggara setelah Filipina dan Myanmar. Thailand, yang justru menawarkan wisata seksual sebagai salah satu unggulan pariwisatanya, prevalensi ya malah turun. Bisa jadi karena mereka berhasil mewajibkan penggunaan kondom untuk mereka yang melakukan hubungan seksual, baik legal maupun ilegal, halal maupun terlarang, suami istri maupun prostitusi.

Di Indonesia? Nekat. Bukan nekat sih sebenarnya, tapi cuek. Masih banyak PSK baik wanita beneran maupun jadi jadian, yang online maupun yang di pinggir jalan, yang cuek tak menggunakan kondom. Di luar kasus hubungan suami istri yang halal tapi berisiko sebagaimana cerita saya di atas.

Dan pengetahuan tentang penularan inipun memang masih sangat rendah, terutama di Jawa. Sepuluh tahun lalu, setelah hampir sepuluh tahun meneliti keliling Papua, saya dapatkan fakta bahwa lulusan SD, bahkan orang yang tak sekolah, di Papua, jauh lebih mengerti tentang penularan HIV daripada kelompk terpelajar di pulau Jawa.

Walaupun di masyarakat manapun, memang pengetahuan tak selalu berbanding lurus dengan tindakan.

Sumber : Status Facebook Atoillah Isvandiary

Thursday, December 5, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: