AHY Si Bocah Baper

ilustrasi
Oleh : Seruanhulu
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, itulah peribahasa yang menggambarkan AHY dengan bapaknya yaitu SBY. Dalam pembawaan keduanya memang tidak memiliki kemiripan yang mencolok. Namun di bidang kebaperan yang berujung pada sebuah drama, AHY dan SBY memiliki kesamaan yang cukup signifikan.
Seperti yang dilakukan AHY akhir-akhir ini, dimana AHY melakukan konpers terkait adanya dugaan kudeta dirinya dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat yang dilakukan oleh beberapa tokoh pendiri Partai yang berlogo Mercy itu. Dan bukan hanya itu, bahkan Moeldoko juga ikut terseret dalam isu yang dibuat AHY tersebut.
Di sini tentu muncul pertanyaan, kenapa harus menyeret nama Moeldoko bahkan dalam narasi beberapa petinggi Partai Demokrat beliau lah yang diisukan akan merebut kursi Ketua Umum Partai Demokrat dari AHY?
Jawabannya adalah karena Moeldoko berada di lingkaran istana yang kini sedang menjabat sebagai KSP.
Sehingga dengan demikian, untuk menggoreng isu lalu kemudian melemparkan tuduhan kepada pihak istana supaya isunya menjadi heboh, tentu jauh lebih efektif.
Benar saja, setelah melakukan konpers, AHY langsung mengirim surat kepada Presiden Jokowi untuk meminta tanggapan terkait gejolak yang sedang dialami Partai Demokrat. Tapi sayangnya, pihak istana jauh lebih dulu mengetahui drama yang sudah direncanakan oleh AHY, sehingga kemudian pihak istana tidak merespon surat tersebut.
Artinya, sampai di sini drama yang dibuat AHY dan pentolan-pentolan Partai Demokrat lainnya gagal total.
AHY di dunia politik, ibarat bocah yang baru masuk SD. Dimana seharusnya dia masih butuh banyak belajar, sehingga ketika nanti sudah cukup mencapai tingkat kematangan, barulah berperang. Saat ini masih belum, itulah sebabnya setiap tindakan yang diambilnya selalu saja berbalik arah dan menampar mukanya sendiri.
Andaipun benar isu yang dibangun AHY tentang adanya pihak yang mau menggesernya dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat, maka sah-sah saja baik secara hukum maupun secara politik. Tidak ada yang salah dengan itu.
Semua orang memiliki kebebasan yang sama untuk melakukan manuver politik sesuai selera masing-masing dan AHY lupa bahwa dulu bapaknya (SBY) juga pernah melakukan manuver politik yang sama.
Kebaperan AHY yang medramatisir dan langsung melakukan konpers lalu kemudian mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi, selain memperlihatkan ketidaktahuannya tentang dinamika politik, juga mengungkap fakta bahwa AHY tidak mampu menyelesaikan masalah ataupun gejolak yang terjadi di internal partai yang dipimpinnya.
Inilah akibatnya ketika orang yang tidak memiliki pengalaman di bidang politik dipaksa untuk memimpin partai dan itulah yang sedang dialami AHY.
AHY dengan terpaksa harus memenuhi ambisi bapaknya (SBY) untuk tetap menguasai Partai Demokrat, meskipun jika menilai dari segi kapasitas sebenarnya AHY belum cukup mumpuni untuk menjadi Ketua Umum partai dan hal inilah yang membuat beberapa tokoh pendiri Partai Demokrat muak.
Ditambah lagi struktural kepengurusan Partai Demokrat yang layaknya susunan pengurus arisan keluarga.
Mulai dari Ketua Pembina diduduki oleh SBY, Ketua Umum AHY dan Wakil Ketua Umum EBY (Ibas). Jadi, wajar saja jika para pendiri Partai Demokrat berupaya kembali merebut kendali kekuasaan partai yang mereka dirikan tersebut dari tangan AHY yang jelas-jelas belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin sebuah partai.
Sumber : Status Facebook Seruanhulu
Wednesday, February 10, 2021 - 13:00
Kategori Rubrik: