Ahok vs Gubernur Katrolan

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Ada dua orang saksi fakta yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum pada sidang Ahok kali ini. Keduanya adalah nelayan Kepulauan Seribu yang hadir pada saat Ahok memberikan sambutan di acara panen raya tambak ikan P. Pramuka, 27 September lalu.

Asyiknya, kedua nelayan itu tidak merasa ada omongan Ahok yang menista agama. Ingat mereka juga muslim. Muslim yang mendengar langsung pembicaraan Ahok saat itu. Dibanding orang-orang yang berkoar pada aksi 411 maupun 212, dalam kasus ini mereka lebih kompeten untuk bicara.

 

Mengapa mereka tidak bereaksi? Karena memang tidak ada yang menistakan agama. Sesimpel itu.

"Kita biasa-biasa aja, tuh." ujar Jaenudin saat ditanya apa reaksinya mengenai pembicaraan Ahok. Bahkan para nelayan tepuk tangan sehabis Gubernur memberikan sambutan. Untuk soal Pilkada, omongan Ahok yang diingat Jaenudin hanyalah, "Jika ada cagub yang lebih baik, sebaiknya jangan pilih saya."

Bahkan Shahbudin, saksi fakta lainnya mengatakan, dia baru tahu ada persoalan penistaan agama dari ceramah seorang Dai, yang tinggalnya di Bandung. Sebagai catatan Bandung dan P. Seribu berjarak lebih dari 200 KM.

Apa yang aneh dari semua itu? Justru muslim yang mendengar langsung tidak ada yang protes, tapi orang-orang yang tidak mendengar dan melihat langsung malah kebakaran celana dalam. Apalagi, ditambah statemen Novel Bamukmin bahwa masrakat P. Seribu tidak memprotes karena kurang beriman. Ini jelas pelecehan.

Para nelayan itu orang biasa yang realitis, Masyarakat P. Seribu tidak bereaksi karena memang tidak ada penistaan agama dari omongan Ahok. Kedua, karena mereka adalah masyarakat biasa. Tidak punya kepentingan politis. Cara berfikir masyarakat biasa itu simpel. Kalau gak ada apa-apa, ngapain ribet?

Berbeda dengan para penjaja agama. Mereka membutuhkan masyarakat terikat padanya. Caranya dengan menebar ketakutan bahwa ada pihak yang mengancam agamanya. Dengan menebar ketakutan ini, umat jadi nurut. Lalu gampang disuruh memilih Cagub lain.

Sama seperti di medsos. Saya juga menemukan ribuan orang yang ikut-ikutan menebar hasutan : Ahok menista agama, Ahok melecehkan Quran. Padahal boro-boro mereka mendengar omongan Ahok di P. Seribu. Nonton nukilan videonya mungkin juga belum pernah.

Siapakah mereka itu? Dalam konteks Pilkada Jakarta mereka adalah pendukung calon lain. Kenapa mereka gak jujur saja seperti saya yang terang-terangan mendukung Ahok? Kenapa mereka sering membawa-bawa isu agama untuk mempersalahkan Ahok?

Sebab mereka sadar pasangan yang mereka dukung tidak punya prestasi untuk dibanggakan. Satu-satunya alasan cuma karena Cagubnya seagama. Makanya isu agama merebak kemana-mana. Tujuannya untuk menutupi kelemahan calonnya.

Dalam kompetisi yang sehat, kalau mau jadi juara kelas, mestinya kejar nilaimu sampai rata-rata sembilan.

Apakah jika nilai rata-rata 5, kamu tidak bisa menjadi juara kelas? Bisa saja, sepanjang seluruh murid yang lain dapat nilai 4.

Nah, ibaratnya mereka ini punya calon yang nilai rata-rata rapornya 5, tapi ngotot mau jadi juara kelas. Bagaimana caranya? Terpaksalah ngomong kemana-mana bahwa murid sainganya hanya dapat nilai 4.

Tapi, masa sih, kita mau pilih Gubernur yang nilai rata-ratanya cuma 5? Masa sih, kita punya Gubernur yang naik kelas karena nilainya hasil katrolan demonstrasi dan fatwa?

(Sumber: www.ekokuntadhi.com)

Wednesday, February 8, 2017 - 13:30
Kategori Rubrik: