Ahok Telah Kembali

ilustrasi
Oleh : Seruanhulu
 
Ya, siapa sih yang tidak kenal dengan Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok? Dia adalah mantan Gubernur DKI Jakarta yang semasa kepemimpinannya penuh dengan terobosan-terobosan baru dan memiliki program kerja yang efektif khususnya di lingkungan Pemprov DKI.
Menyikat para koruptor di jajaran Pemprov DKI dan memecat siapa saja pegawai yang tidak bisa bertanggungjawab terhadap pekerjaannya adalah pekerjaan Ahok selama menjabat Gubernur.
Ahok bukan tipe orang yang bisa diajak kompromi untuk melakukan suatu hal yang tidak benar dan bukan pula tipe pejabat yang bisa disogok. Itulah alasan kenapa dia selalu dibenci dan diserang. Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur.
Pada tahun 2017, nama Ahok menjadi perbincangan publik karena kasus yang menimpanya yakni kasus penistaan agama dan karena kekuatan massa bayaran dan rombongan pasukan nasi bungkus kala itu dengan terpaksa Ahok harus menerima konsekuensi hukum, walaupun sebenarnya dalilnya dalil karet.
Ahok legowo dan mengalah lalu kemudian menjalani hukumannya dalam tahanan.
Di tengah Ahok menjalani masa tahanan, ujian datang menghampirinya yaitu perceraiannya dengan istrinya (Veronica Tan), sebagaimana keluarga pada umumnya tentu saja Ahok juga memiliki masalah keluarga dan itu tidak perlu dibahas di sini.
Awal tahun 2019, Ahok selesai menjalani masa tahanan dan kembali bebas menghirup udara segar. Tak lama setelah kebebasannya itu, Ahok menikah dengan Puput sang mantan ajudan istri pertamanya.
Sejak saat itu, nama Ahok sudah jarang menjadi bahan perbincangan publik. Sebab Ahok sudah tidak mencampuri lagi hal-hal yang berkaitan dengan politik. Entah ini karena trauma atau mungkin karena lagi menunggu momen yang tepat?
Bulan November 2019, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja nama Ahok kembali disorot oleh media, karena keputusan Menteri BUMN yakni Erick Tohir yang mengangkat Ahok sebagai Komisaris Utama di Pertamina.
Namun pengangkatan Ahok jadi Komisaris Utama, tidak semulus yang diharapkan sebelumnya.
Sebab, dimana ada terdengar nama Ahok maka di situ pula ada kehebohan yang disertai dengan penolakan. Tapi, karena tidak ada alasan yang tepat untuk menolaknya, maka Erick Tohir tetap memutuskan mengangkat Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina.
Pertamina bukan perusahaan kaleng-kaleng. Pertamina itu sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia.
Mendengar minyak dan gas, sudah jadi rahasia umum bahwa di dalamnya banyak permainan yang harus dituntaskan, salah satunya adalah para mafia migas yang kerap menjadikan Pertamina sebagai lahan bisnis pribadi dan itulah sebabnya Erick Tohir menugaskan Ahok di sana, karena Ahok memiliki kemampuan untuk membereskan itu.
Terbukti beberapa hari yang lalu nama Ahok kembali menjadi bahan perbincangan di hampir semua media. Karena tindakannya yang cukup berani membongkar aib Direksi Pertamina. Bahkan setelah itu, Ahok langsung menemui Menteri BUMN Erick Tohir untuk menyampaikan kritik dan saran terkait permasalahan yang ada di Pertamina.
Mendengar hal itu banyak pihak yang mengangkat jempol dan memuji keberanian Ahok. Namun di balik itu selalu saja ada orang yang tidak suka dan tidak nyaman mendengarnya.
Ibarat kata, untuk memancing ular supaya keluar dari sarang atau tempat persembunyiannya, cukup sebutkan saja nama “Ahok” dijamin 100% ularnya keluar semua. Tidak perlu pergi ke dukun untuk menanyakan ritual.
Dan betul saja, di luar PDIP ada delapan fraksi di DPR RI yang menyerang dan menyalahkan Ahok atas tindakan yang dilakukannya itu terhadap Pertamina, bahkan mereka dengan rasa tak bersalah meminta Ahok untuk mundur dari jabatan Komisaris Utama. Tentu saja sampai di sini ada yang aneh.
Aib Pertamina yang dibongkar, tapi kenapa para wakil rakyat penghuni Senayan yang heboh dan satu suara untuk menyalahkan Ahok?
Kemungkinan jawabannya adalah karena banyak dari anggota DPR RI tersebut yang merasa terusik bahkan terancam dengan tindakan yang dilakukan Ahok. Sebab, bisa saja selama ini pihak Direksi Pertamina dan beberapa oknum DPR RI sudah menjalin kerjasama secara diam-diam untuk menjadikan Pertamina sebagai lahan bisnis.
Tidak ada alasan lain lagi selain itu yang bisa dijadikan landasan untuk menyalahkan tindakan yang telah dilakukan Ahok terhadap Pertamina.
Jika tujuan anggota DPR RI yang delapan fraksi itu adalah untuk kebaikan Pertamina maka seharusnya mereka mendukung tindakan tegas yang dilakukan Ahok sebagai bahan evaluasi ke depan, bukan malah nyinyir dan menyalahkan lalu kemudian menyuruhnya mundur dari jabatan.
Tidak bermaksud menuduh anggota DPR RI yang delapan fraksi itu menerima upeti dari Direksi Pertamina secara diam-diam, tapi dengan cara mereka menyerang Ahok seperti itu wajar menimbulkan kecurigaan dan jika demikian adanya, maka tak heran jika mereka terusik.
Ini menjadi tugas Ahok selanjutnya, menggunduli orang-orang yang selama ini menjadikan Pertamina sebagai lahan bisnis pribadi. Tak perlu memandang siapa orangnya dan apa jabatannya? Pukul rata semua, sikat!!
Ini penting untuk menyelamatkan dan memperbaiki Pertamina.
Sumber : Status Facebook Seruanhulu
Monday, September 28, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: